Tabah

kaki langit

kaki langit

( Semoga fajar takkan ingkar janji )

Pekik jangkrik dan penghuni malam, seakan menjadi bisikan lirih dalam untai titik embun yang menetes merengkuh dinginnya malam. Bias nanar sang rembulan yang bertaut kabut dan bayang, tak cukup untuk sekedar menghitung hari hari yang telah terlewatkan. Sesekali guratan petir tersenyum dikaki langit, seakan memberi dorongan untuk asa yang makin karam didasar hati. Bahwa perjalanan belum akan berakhir, dan fajar tak kan pernah ingkar untuk sirnakan pekat.

Gemeretak gigi yang tertuai oleh dingin di salah satu  sudut malam, seolah terdengar bagai rebana menyusun irama, yang terlantun dari riuh arena dzafin. Gemeretak kekhawatiran akan hari esok bagi hembus nafas bocah yang pulas beralas sehelai kain lusuh, satu-satunya harta milik mereka yang masih tersisa. Kekhawatiran yang erat melekat di wajah sepasang suami istri yang menunggui si kecil yang terlelap dan terus menatap wajah sikecil dari balik bayang pekat. Tubuh kecil itu, seakan telah terbiasa untuk sekedar bercanda dengan perut kosong.

Tak ada lagi air mata yang menitik, tak ada lagi getar duka yang mengoyak pilunya hati. Semua seakan telah kering, semua seakan telah membeku.

rembulan

rembulan

“Istriku, tidurlah… hari telah larut, biarlah aku saja yang akan terjaga hingga fajar nanti, agar aku dapat menghitung gelap yang ada di ruang malamku. Hari ini kita telah menyelesaikan sehari tugas kita, hari ini kita telah kita lewati teriknya matahari dan dinginnya malam. Sejenak lupakanlah lapar dan dahaga kita, semoga fajar pagi nanti dapat memberikan sepotong kekuatan untuk kita melewati hari esok kita…”. suara lirih yang keluar dari bibir kering dan terbelah itu seakan membasuh gelisah hati sang istri, untuk tetap yakin bahwa masih ada hari esok, untuk mereka lalui meski hanya dengan gambaran potret hari kemarin, dan terus berulang hingga mentari tersurut di ufuk.

Sesungguhnya, jauh didasar hati sang suami, ada getar nada yang terucap lirih,”… maafkan aku istriku, maafkan aku anakku…, hingga hari ini, hari hari yang kuhitung, belumlah genap untuk sekedar memberikan kalian sepiring nasi dan dua potong tahu rebus untuk makan siang. Gelap malam yang aku candai, belum cukup untuk sekedar memberi alas tidur yang baru untuk kita. Nampaknya asa yang telah kubentangkan hingga ke-ujung samudra, belum cukup kuat untuk kita sebrangi. Sabarlah istri dan anaku… semoga esok kita akan lebih ikhlas lagi untuk melangkahkan kaki kaki ini…”.

Iklan
%d blogger menyukai ini: