Jakarta… ooh… Jakarta

Dulu…Sewaktu masih dikampung…,Sejak aku masih duduk dibangku kelas dua SLTP (sekolah lanjutan tingkat pertama), aku selalu berhayal untuk bisa kejakarta, setiap

monas zaman doeloe

monas zaman doeloe

kali aku melihat indahnya kota Jakarta dari layar televisiku yang hitam-putih, keinginan itu semakin menjadi jadi. Aku ingin melihat kota jakarta, mengadu nasib…, dan sukses disana seperti orang orang desa lainnya yang kini sukses di kota metropolitan itu, meski aku pernah mendengar ujar ujar para pendatang yang berada dan mengadu nasib di jakarta bahwa ‘se kejam kejamnya ibu tiri, tidak sekejam ibu kota’. Padahal gak semua ibu tiri kejam ya….dan tidak selalu ibu kota itu memberi kesan yang keras. Paling tidak itulah bait bait dihatiku yang selalu saja dapat menepis keraguanku terhadap hal hal negatif tentang kota jakarta..

kota jakarta

kota jakarta

Kota Metropolitan yang sekarang  mungkin sudah menjadi kota yang penuh desakan, memang selalu menjadi idaman dan tujuan dalam angan bagi sebagian besar pemuda  kampung sepertiku, sepertinya kota metropolitan jakarta sangatlah menjanjikan. Dalam benak dan hayalku, aku merasa bahwa aku bisa mengurai semua talenta seniku menjadi sebuah karpet merah kearah sukses  dunia gemerlap bintang.

Bundaran HI diwaktu malam

Bundaran HI diwaktu malam

Hampir setiap program acara televisi yang menampilkan sudut sudut kota jakarta, selalu menghembuskan angin syurga dan hamparan asa serta angan angan yang indah didalam hati, sehingga selalu mampu melumat setiap kalimat kalimat negatif yang mengancam keinginan hati.

Setelah semuanya terbentuk menjadi tekad yang membakar semangat, dan tatkala keinginan sudah membatu, maka tak ada lagi pertimbangan bijak yang dapat merubah keinginan….aku harus ke jakarta….aku harus mengadu nasib disana….aku harus sukses disana….aku harus menjadi bagian dari denyut nadi kota metropolitan itu…..kira Kira seperti itu bait bait lirik  yang ada didalam pikiran mereka.

Akhirnya jadilah kota jakarta sebagai persinggahan terakhir sebagian besar perantau dari daerah, sehingga tidak menutup kemunggkinan suatu ketika tidak ada lagi ruang gerak bagi penduduknya untuk sekedar meluruskan kakinya dengan berbaring terlentang atau telungkup.

Hampir tak pernah berhenti para perantau dari berbagai pelosok en-ka-er-i, mendatangi kota jakarta, dan dari berbagai tingkat lapisan sosial,serta beragam keinginan dan kepentingan.

Pantjoran-Djakarta tempo doeloe

Pantjoran-Djakarta tempo doeloe

Bagi mereka yang memiliki modal cukup, mungkin masih bisa mendapat ticket untuk sedikit waktu yang masih tersisa, serta sedikit kesempat untuk bertahan. Tapi yang tidak? Terpaksa harus balik kanan, itupun bila mereka masih bisa berpikir jauh kedepan untuk masa depannya, karena terkadang mereka tetap bertahan dengan obsesi mereka sendiri sendiri, sehingga ketika mereka sudah berada dijakarta, sungguhpun telah berbaur dengan sederetan kegagalan, tidak akan membuat mereka gentar untuk mengambil langkah balik kanan jalan. Hingga akhirnya tidak sedikit yang memilih jalan pintas, gak perduli seperti apa dan bagaimanapun caranya, pokoknya aku harus tetap berada dijakarta, sehingga bagi mereka yang tidak dapat berbesar hati untuk menerima kegagalan, dan tidak percaya akan suratan nasib, mulai berkeliaran menebar angkara, hanya dengan bermodalkan tampang…nyali…dan sedikit kenekatan…maka jadilah mereka bromocorah.

Pun tidak sedikit diantara mereka yang ketika dipersimpangan jalan terpaksa menghentikan langkahnya karena keletihan dan tidak sanggup lagi untuk sekedar mengangkat kepala dan memilih jalan yang harus dilalui, terus kedepan, belok kanan, atau kah belok kiri. Mereka memilih balik kanan jalan, untuk membangun desanya…. desa yang subur, makmur, indah dan menjanjikan tatakrama dalam bermasyarakat.

Kota Jakarta adalah syurga  bagi mereka yang berduit, sukses dan berhasil menjinakkan keangkuhan jakarta, tapi neraka bagi mereka yang gagal dengan mimpi mimpi indah mereka.

Monas diwaktu malam

Monas diwaktu malam

Warna warni kehidupan jakarta, terasa berpacu sangat cepat menggusur apa saja yang berada didepannya, termasuk nilai nilai keagamaan, tata krama dan sopan santun serta keramah tamahan adat ketimuran yang sejak berpuluh puluh tahun lalu menjadi citra dan warna bagi bangsa ini. Sekolompok orang meyakini bahwa inilah modernisasi kehidupan, sementara sebagian lagi mengatakan bahwa ini adalah dampak dari kerasnya kehidupan kota metropolitan. Secara pribadi aku mengatakan, bahwa alangkah bijaksananya bila kita lebih mempertebal iman dan ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, melengkapi diri kita dengan ilmu pengetahuan yang seraba modern agar dapat bertahan dari gerusan waktu dan dan hempasan badai kehidupan yang keras di jakarta, tanpa mengikis nilai nilai prikemanusiaan, nilai nilai agama dan tata krama serta berbesar hati bila kita meyakini bahwa kita telah gagal dalam pergulatan waktu, serta meyakini bahwa di desa lebih membutuhkan sentuhan tangan kita dengan segala keramah tamahan dan nilai nilai keagamaan yang tabal serta sentuhan adat istiadat ketimuran yang kental.

Semuanya kembali kepada diri kita, keyakinan kita, dan dari sudut mana kita memandang dan menyimpulkan.

Se tidak tidaknya…seperti inilah pendapat seorang desa seperti ku……

Iklan
%d blogger menyukai ini: