Seri Lima (end of chapter satu)

Seri lima

SEPENGGAL  KISAH  YANG  TERTINGGAL

Chapter satu. – Seri Lima

Aku merasa bahwa berbeda dengan ketika aku melototi tubuh tattie, meski dia dalam keadaan tanpa busana, tidak ada sensasi dan gemetar seperti pengalamanku disungai tadi.

“sebetulnya jawaban yang kamu inginkan dariku adalah bahwa aku mencintaimu dan rindu kepadamu atau gimana…..?” ujarnya dengan suara datar.

“Lho…. Kamu gak ngerti ya…..” kataku meyakinkan.

“iya…iya…tau…….” Katanya, lalu… “kalo aku ngomong yang sebenarnya yang ada dihatiku……kamu marah gak….!??”

“lho… kenapa aku harus marah…..?” jawabku, “justru aku ingin kamu ngomong yang sejujurnya apa yang ada dihati kamu, ini penting…untuk kelanjutan persahabatan kita lho tat….”

“okay deh..…. selama ini kenapa aku gak pernah merasa malu malu sama kamu, karena…terhadapmu aku merasa bahwa kamu itu adalah sahabatku, aku gak tau gimana cara ngomonginnya… tapi……. aku merasa bahwa kamu itu sama dengan teman teman wanitaku yang lain…sehingga sedikitpun aku gak ada rasa malu…canggung…atau perasaan perasaan lain….sungguhpun ketika aku mandi bersama kamu dalam satu kamar mandi yang sama dan dalam keadaan sama sama telanjang…..aku gak merasa malu dan canggung ketika kamu memandang kearahku pada saat aku sedang tidak berbusana sekalipun, aku gak punya perasaan apa apa ketika aku tidur disampingmu bahkan memelukmu sekalipun….. karena hal yang sama juga terjadi ketika aku sedang nginap di rumah yeni…dina…atau rosye… aku gak tau deh… tapi terhadapmu aku merasakan sama seperti ketika aku bersama temen temen wanita yang juga akrab denganku…. ” dia menatapku dalam dalam…lalu berkata lagi “gun…..” terdengar suaranya sangat berat dan tertahan..” maafin aku ya…kalau ternyata apa yang aku katakan ini, bukanlah jawaban yang kamu inginkan….” Ucapnya lirih, “aku mohon kamu jangan membenci aku …..hanya karna….” aku langsung menarik dan memeluknya erat……erat  sekali….dan ini bukanlah pelukan sebagai seorang pria yang sedang jatuh cinta terhadap wanita tersebut, tapi pelukan itu adalah pelukan seorang teman terhadap sahabatnya.

“Sssstt…..tatie……” aku berusaha menenangkannya “..tattie dengar…..kalaupun aku menanyakan semua ini, bukan karena aku menginginkan jawabanmu adalah bahwa kamu mencintai aku…..kan tadi udah aku bilang bahwa aku juga sama sekali tidak ada perasaan cinta terhadapmu…..e….maksudku aku sayang sama kamu, tapi hanya sebagai teman dan bukan sebagai seseorang yang mengharapkan balasan cinta….bukan..” aku melihat ada perasaan lega dihatinya “aku juga menganggap kamu bukan sebagai seorang perempuan yang ingin kucintai sebagai mana perempuan lain, tapi sama seperti temen temen kita yang lain…toni atau bambang..” dia mengangkat kepalanya dan akupun melepaskan pelukanku. “tattie….justru jawaban ini yang Sangat aku harapkan, tadi aku malah takut….aku takut kalau selama ini ternyata kamu telah jatuh cinta terhadapku……aku gak ingin persahabatan kita ini terburai hanya karena sebuah perasaan cinta…”

“gun…aku pernah bilang sama kamu…. Bahwa dulu aku memang sangat  mengagumi kamu…, dulu aku sangat ingin merebut hatimu….., dulu aku sangat ingin menjadi orang yang dekat dihatimu….” Ucapnya perlahan.. “tapi setelah kita berteman…rasa itu tiba tiba hilang dan cukup lama aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku suka sama kamu hanya  sebagai teman…teman…dan teman….”

“okey…..berarti sekarang semuanya sudah jelas…dan aku juga merasa lega….dan dengan demikian…semua yang mengganggu pikiranku belakangan ini, terjawab sudah…” ucapku sambil tersenyum, dan kulihat diapun tersenyum sambil mengusap tetes air mata yang sempat mengalir dari matanya.

“maafin aku ya gun…..”

“aku Kira gak ada yang perlu dimaafkan tattie..….seharusnya malah aku yang  minta maaf sama kamu, karena sudah menanyakan hal hal seperti ini sama kamu sehingga kamu jadi kesal, seharusnya aku lebih percaya dengan perasaanku sendiri….” Tattie hanya mengangguk dua kali… “sekarang…boleh aku memeluk kamu sekali lagi….!?” Pintaku…

“tapi bukan pelukan mesra kan…..??”  ujarnya sambil memeluk aku dengan senyum khasnya yang begitu indah.

“ha…ha…ha…. “ aku merangkulnya dan berkata lagi “tattie….kalaupun suatu ketika kita harus berpisah karena kamu harus mengikuti suratan takdir yang akan membawamu pergi… jangan pernah melupakan aku dan persahabatan kita ya….”

“Insya Allah……”  jawabnya sembari mendekapku erat-erat.

Persahabatan aku dan tattie terus berlangsung dari hari ke hari, meski terkadang terdengar omongan omongan negatif dari teman teman maupun orang orang disekeliling kami mengenai aku dan tattie, tapi semua tidak menjadikan pertemanan kami terputus atau renggang. Sampai akhirnya kami menyelesaikan es em u dan tatti melanjutkan kuliah di institut keguruan dan ilmu pendidikan di kota gorontalo, dan sejak tattie mulai dengan kesibukan kuliahnya, frekwensi pertemuan kami menjadi agak jarang, dalam seminggu kami hanya bisa nongkrong dan ngobrol bareng kalau malam minggu saja, itupun tidak sampai larut malam, kadang jam sembilan atau sepuluh tattie sudah pamitan pulang.  Dan aku sendiri waktu itu mulai terusik oleh angan anganku untuk melanglang buana ke kota metropolitan jakarta, angan-angan ini sangat membuat aku berhayal untuk dapat pergi keJakarta.

Hingga akhirnya suatu hari, salah seorang tetanggaku (yang bernama Dessy) yang sudah bertahun tahun bekerja dan tinggal dijakarta, pulang ke gorontalo bersama seorang temannya untuk menengok orang tuannya. Mereka berada digorontalo Selama kurang lebih dua minggu, dan ketika mereka akan kembali kejakarta, mereka sempat datang untuk pamitan kepada ayahku (karena kebetulan saat itu ayahku adalah kepala desa di desa kami), pada saat itulah ayahku menceritakan kepada Dessy mengenai keinginanku yang menggebu-gebu untuk ke Jakarta dan meminta dessy untuk membawaku ke jakarta memenuhi angan anganku. Singkat kata singkat cerita, berangkatlah aku ke Jakarta menggunakan Kapal laut melalui Surabaya, dan dari Surabaya kami menggunakan bus malam ‘jawa indah’ ke jakarta melalui Terminal pulo gadung. Dan Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota jakarta, aku memohon lepada Yang Kuasa semoga selalu diberikan jalan dan petunjuk. Dan Sejak itu pula, mulailah pergulatanku di kota metro jakarta, kota yang selama ini menjadi kota impianku.

Waktu berangkat dari kampungku, karena keberangkatanku sangat mendadak, sehingga tidak banyak yang bisa aku bawa sebagai bekalku selama aku belum memiliki penghasilan dijakarta. Aku hanya memiliki tekad, keyakinan dan sepotong doa tulus dari kedua orang tuaku. Disamping itu, aku hanya mengandalkan bakat bakat seniku untuk merbaur dengan hiruk pikuk kota jakarta, berbaur dengan deru dan debu serta peluh dan nafas kota, hanya sekedar mencoba untuk menjinakkan kota metro yang selalu menjadi impian anak desa. Terlalu naif bila aku mengatakan bahwa aku berusaha untuk menaklukkan kota metro jakarta, bisa berbaur dan bersahabat dengannyapun sudah cukup memberikan denyut untuk menyambung kehidupan di jakarta.

O ya….Mengenai tattie, karena waktu itu keberangkatanku ke jakarta sangatlah mendadak, sehingga aku tidak sempat berpamitan lepada tattie dan bambang, karena saat itu tattie belum kembali dari kampusnya, sedangkan bambang sedang bepergian ke kota lain untuk suatu urusan.  kecuali tonny dan satu lagi temanku yang sempat mengantarku ke pelabuhan, yaitu endi.

Setibanya dijakarta aku langsung menyurati kedua orang tuaku dan tattie, temanku yang sangat dekat denganku. Aku meminta maaf dan menjelaskan mengenai keberangkatanku yang sangat mendadak. Tattie memahami dan dia sangat senang mengetahui bahwa aku sudah berada diJakarta dan berhasil mewujudkan angan anganku untuk datang ke kota jakarta.

Selama hampir setahun kami saling surat suratan, sehingga setiap kali aku berkirim surat kepada kedua orang Tuaku, pasti aku juga menyurati tattie. Suatu ketika hubungan surat antara aku dan tattie terputus, aku tidak tau apa yang menyebabnya tattie gak pernah lagi membalas suratku. Empat suratku terarkhir tidak dibalasnya lagi. Aku sudah mencoba minta bantuan orang tuaku dan juga menyurati tonny maupun bambang untuk mengetahui penyebab kenapa tattie gak pernah lagi membalas surat suratku dan dimana keberadaannya, tapi hasilnya nihil. Aku ingat, pada dua suratnya yang terakhir, dia sering menyebut nyebut bahwa orang tuanya telah memperkenalkannya kepada seseorang putra dari sahabat ayahnya, dan orang tuanya ingin menikahkannya dengan pria tersebut. Lalu setelah itu tidak ada lagi jawaban dari tattie. Aku hanya bisa mendoakan, semoga tattie selalu diberikan kekuatan, dan  apapun yang dia lakukan, selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

SEPENGGAL KISAH YANG TERTINGGAL

(Based on true story)

Continue to….    Chapter dua.

Seri Empat

SEPENGGAL KISAH YANG TERTINGGAL

Chapter satu.

“ Aku juga kalo sama tonny atau bambang kan gak gitu gitu Amat sih…., kecuali sama kamu…” selanya…” gak tau deh…, kadang kadang aku suka gak suka sama gayanya bambang, apalagi tonny….. jadi terkadang suka kesel aja kalau mereka suka nyepelein aku, hanya karena aku ini ceweq sendiri ….aku tau kalo selama ini kadang-kadang mereka suka gak seneng kalo aku ikut nimbrung ketika kalian lagi kumpul kumpul, seakan kehadiranku merusak suasana ” Sambungnya…., sambil menunduk lalu menoleh kearah lain.

“ Ah..! mungkin itu hanya perasaanmu aja…udah gak usah menjadi beban pikiranmu. Gini tat…, kadang kadang kita kalo lagi nyanyi nyanyi dikamarku, kita berdua sama sama tidur tiduran di tempat tidurku…, terus kalo boncengan motor kamu juga suka ngerangkul…. Kadang kalo kita mo pergi kamu gak sabaran sampe nungguin aku mandi dan bediri didepan pintu kamar mandi….padahal aku mandinya kan telanjang….”

“ O gitu…. Kamu gak suka ya…….risih…..sorry deh kalo gitu…., mungkin aku ini orang yang gak tau diri dan gak tau malu……!!? ” potongnya dengan wajah yang terlihat kesal lalu dia berdiri dan membelakangiku…

“ lho…bukan begitu……intinya bukan itu…denger dulu dooong.” Potongku buru buru sambil menarik bahunya berusa menariknya untuk duduk lagi.

“ memangnya kamu selama ini gimana…? Kalo giliran aku yang membonceng kamu dimotor, kamu juga suka meluk aku dari belakang, kamu juga pernah melotot sewaktu melihat aku ganti baju saat kita habis berenang dipantai waktu selesai kelas miting dulu….. tapi aku gak pernah komplein.

“Tattie…. justru hal itu yang ingin aku bahas dengan kamu…, semua kejadian kejadian yang barusan kita omongin tadi yang belakangan ini sering merasuki pikiranku, padahal sebelumnya gak begini…”

Aku menatap wajah tattie yang nampak menjadi seperti orang kebingungan.

“Tat…,kamu pernah merasa ada cinta, kasih, dan sayang gak sama aku…!?”   wajah tattie yang sudah seperti orang kebingungan, tambah gak karu karuan mendengar pertanyaanku tadi… “karena terus terang…mm…terus terang…sorry ya tat…, terus terang aku selama ini tidak ada perasaan apa apa terhadap kamu. Aku hanya merasa bahwa kamu tidak ada bedanya dengan bambang ataupun tonny…, makanya selama ini aku gak sungkan sungkan merangkul…memeluk bahkan tidur disampingmu. Sehingga aku tidak punya gejolak atau perasaan apa apa ketika melihat kamu dalam keadaan bugil, kecuali mengagumi bule-nya kulit tubuhmu…, itu aja…!”

“Emang kamu pernah lihat aku bugil….!?” Potongnya tiba tiba.

“lho..o..oh…, ingat gak waktu kita membantu menghias rumah yeni pada malam pernikahan kakanya…, waktu kamu mandi dikamar mandi yang ada dikamarnya yeni, kan handuknya ketinggalan ditempat tidur, lalu kamu teriak teriak memanggil manggil yeni untuk ambilkan handuk, tapi karna yeni nya sedang berada diruang depan, sehingga kamu kan akhirnya meminta aku untuk mengambilkan handuknya kan…!? Makanya aku bisa melihat tubuhmu karena karena kamu sambil menanyakan keberadaan yeni ketika aku menyodorkan handuk, wong kamu sendiri aku lihat biasa biasa aja dan gak berusaha untuk menyembunyikan bagian depan tubuhmu…, yah…bebalik keq atau gimana gitu……”

“o…kamu sengaja melototin tubuhku ya…..” potongnya

“sebetulnya sih engga….., bukannya aku sengaja untuk melihat kamu lagi tanpa busana…., emm… hanya secara spontan aja…… tadinya aku gak nyangka kamu sedang dalam keadaan telanjang, begitu ngeliat….ala mak….putihnya…..itu aja….aku tidak sampai menegasin bahwa o….bentuknya begini…atau begitu…..he…he…he…” ujarku sambil tertawa kecil namun menggebu gebu. tapi sambil mencoba mengingat ingat bahwa memang pada saat itu aku sama sekali tidak merasakan apa apa. Padahal sebagai seorang remaja yang normal harusnya ada perasaan deg deg-an ketika melihat pemandangan seperti itu. Dulu Aku pernah memergoki teman teman cewek yang sedang mandi disungai, sewaktu kami mengikuti perkemahan pada saat sekolahku mengikuti pelatihan dan pelantikan pandu pramuka yang akan mewakili sekolahku ke Jambore Pramuka sePropinsi. Waktu itu karena harus menyampaikan sesuatu kepada Kakak Pembina kami, aku terpaksa harus ke-area perkemahan pandu putri yang jaraknya terpisah cukup jauh dengan perkemahan pandu putra, karena kakak Pembina kami sedang berada disana. Jalan menuju Lokasi Perkemahan Pandu Putri lumayan jauh karena harus mengitari bukit yang berada di sebelah utara Perkemahan pandu putra.  Untuk memperpendek jarak dan menyingkat waktu aku mengambil jalan potong yang pernah aku ketahui dari kakak pembinaku, yaitu melalui lereng bukit sebelah selatan perkemahan pandu putra, kemudian turun ke area kepemukiman penduduk lalu menelusuri tepi sungai yang cukup lebar sampai melewati kolong jembatan yang menghubungkan jalan antara perkemahan pandu putra dan putri, yang tiang tiangnya cukup tinggi dan panjang, setelah sekitar lima puluh meter dari jembatan barulah menyebrangi sungai karena disana banyak batu besar yang bisa menjadi pijakan penghubung kedua sisi sungai tersebut, lalu naik dan munculnya persis di samping gerbang sebelah selatan atau pintu empat area perkemahan pandu putri. Setelah aku melewati kolong jembatan, lalu aku menyebrangi sungai dengan jalan melompat lompat dari batu kebatu. Namun ketika aku akan melalui batu yang sebesar buskota, secara tidak sengaja aku melihat empat orang wanita (yang kebetulan dua orang diantara mereka, berasal dari sekolahku), sedang mandi dibalik batu yang besar itu. Mereka berempat yang semuanya bertelanjang ,sambil bercanda canda tanpa menyadari kehadiranku yang hanya berjarak empat sampai lima meter dari mereka dan hanya terhalang oleh sampah akar akaran serta ranting dan batang batang pohon hanyut yang tersangkut diantara bebatuan. Dari tempatku berdiri sangat jelas pandanganku kearah mereka, aku melihat yang seorang berada agak ketengah persis disamping dinding batu yang besar dan airnya agak dalam sehingga air merendam tubuhnya sampai ke batas dadanya (dibawah payudara) sehingga payudaranya sangat jelas terlihat, yang seorang lagi duduk dibatu agak kepinggir sambil mencuci bajunya, dan yang dua orang lagi sedang asyik bercanda saling mengguyur dan tertawa tawa, ditempat mereka berdiri agak kepinggir sehingga airnya hanya sebatas paha. Melihat pemandangan seperti ini, dadaku langsung berdebar keras sekali sampai sampai lutut dan tanganku gemetar, terasa seakan akan batu tempat aku berdiri seakan bergoyang goyang. Tidak lama aku berada disana, hanya sekitar lebih kurang lima menit, dan aku langsung balik lagi untuk memutar kemudian naik dari sisi agak ketimur yang berjarak lebih kurang sepuluh sampai lima belas meter dari tempat itu, karena tidak banyak batu batu yang bisa kujadikan tempat untuk berpijak, mau gak mau aku harus turun ke air yang ternyata agak dalam dan arusnya cukup kuat, membuat seluruh celana dan kemeja bagian bawahku basah.

seri tiga

Seri tiga

SEPENGGAL KISAH YANG TERTINGGAL

Chapter satu.

“Kita ini kan sudah berteman cukup lama, ya kan…, dan aku rasa hingga saat ini antara kamu sama aku boleh dikatakan tidak ada jarak lagi barang sejengkal yang membatasi perbedaan bahwa kamu itu ceweq dan aku ini cowoq”.

“ maksudnya gimana…..!? ” katanya.

“ ya iya, maksudku selama ini persahabatan kita kan sudah membawa kita kepada satu keakraban tanpa batas yang membuat aku merasa bahwa kamu itu adalah sama dengan temen cowoq, dan kamu juga mungkin merasa bahwa aku itu layaknya temen ceweqmu, iya kan…”

“ ya iya…! ”

“ Terus gini…selama ini kan kita berempat udah kayak saudara,” aku melihat wajah Tattie malah tambah bingung, “ iya maksudnya kita berempat sama tonny, bambang…, tapi beberapa hari belakangan ini aku seperti baru tersadar bahwa pertemanan kita berdua sepertinya agak beda dengan pertemanan kita terhadap Bambang atau Tonny, istilahnya meskipun kalo kita lagi ngumpul, dan kadang kadang kita makan dipiring yang sama, tapi pasti aku selalu mengutamakan kamu, begitu juga kamu. Iya kan…!? “ aku menatapnya sebentar untuk memastikan bahwa dia menyimak dan mengerti maksudku. “ Tapi pernahkah tersirat dalam pikiranmu…, atau dalam hatimu bahwa ada rasa suka terhadapku, atau lebih jelasnya…, Kira Kira kamu pernah gak merasa bahwa ada cinta dihatimu untuk aku…!?”

“ Lho…, pertanyaan kamu aneh banget sih gun…!? “ katanya dengan wajah penuh keheranan….tapi lama lama raut wajahnya berubah senyum dan tertawa kecil… sekarang giliran aku yang bingung melihat dia tertawa. “ kamu jatuh cinta sama aku ya…….!? ” katanya dengan tersenyum sambil menjewer kupingku… “ kamu jatuh cinta sama aku ya……!? “ kata kata itu terus di ulang sambil terus berusaha menjewer kupingku karena aku berusaha menghindar.

“ Tattie…, aku memang mencintai kamu…, “ kataku terputus karena langsung di potong olehnya…

“ Tuh..kan….tuh kan….” Katanya sambil tertawa kecil…

“ Denger dulu Tattie… aku Belem selesai bicara…., diam dulu dong….”

“ ya udah terusin……aku bingung sama kamu…., “ katanya lagi sambil duduk kembali.

“ Tattie…, aku memang mencintai kamu, tapi cintaku hanyalah sekedar cinta seorang sahabat, dan bukan cinta seorang kekasih…” kataku penuh keseriusan dan dengan nada yang sangat dalam… “ …makanya aku nanya sama kamu…, perasaanmu gimana….!?? “

Sejenak Tattie menatapku… dia menatapku dalam dalam, lalu sambil menunduk perlan dia berkata “ Gun…! Terus terang…., sejak selesai pekan olah raga es em u dulu….awal awal aku kenal dan berusaha dekat dengan kamu…memang pernah terbit rasa suka dan cinta terhadapmu….dihatiku…,dan waktu itu asli bahwa itu adalah rasa cinta dengan penuh harapan sebagai seorang wanita terhadap pria idamannya…” katanya sambil masih tertunduk dan aku melihat dia menarik nafas dalam dalam, seakan mengumpulkan keberanian untuk berbicara apa adanya dan akupun terus menyimak. Tak lama kemudian dia mengangkat lagi mukanya dan menatapku. “ aku sangat kagum kepadamu…, aku kagum dengan kemampuanmu di atletik…, aku kagum dengan kegigihanmu saat bertanding…, aku Sangat suka dengan gayamu yang cuek…., aku suka dengan gaya bicaramu yang ceplas ceplos…, aku Sangat senang saat melihatmu memetik gitar dan bernyanyi…, aku sangat suka dengan semua tentangmu…., aku bingung perasaanku gak karu karuan…,lantas aku menyadari dan berkata dalam hati…… mungkin inilah yang namanya cinta…, dalam hati aku berkata… gun…,aku telah jatuh hati kepadamu…aku telah jatuh cinta kepadamu” wajahnya menatap hijau dedaunan diluar sana mencoba untuk mengingat ingat lagi……….lalu “tapi aku tidak tau bagai mana menyampaikannya kepadamu…, aku tidak tau harus berbuat apa, ini adalah yang pertama kali aku jatuh cinta kepada seorang pria…, dan saat itu aku putuskan untuk harus mengatakannya kepadamu, agar dada ini tidak sesak terhimpit perasaanku, aku tidak perduli kamu punya perasaan yang sama terhadapku atau tidak, tapi……. Aku hanya bisa tertunduk lesu…,aku tidak punya cukup keberanian untuk menyampaikannya kepadamu…” sejenak dia menatap keluar jendela, kemudian melanjutkan lagi, “ kemudian aku memutuskan untuk menyimpannya dalam hati…, saat itu aku berpikir…bila memang si guntur juga punya cinta untukku, atau setidak tidaknya punya perasaan yang sama denganku….biarlah waktu yang akan membuktikannya…” dia menarik nafas dan bangkit berdiri….berjalan kesisi jendela “ keinginanku waktu itu, akhirnya terkabul bahwa aku aingin mendekatimu meski hanya sebagai teman, siapa tau nanti aku akan mendapatkan kesempatan menyampaikan rasa hatiku kepadamu… tapi setelah kita berteman cukup lama… apa lagi setelah kamu memperkenalkan aku kepada bambang dan tonny, merasakan arti persahabatan yang sesungguhnya, baik dari kamu maupun dari bambang dan juga tonny…, lambat laun perasaan itu mulai hilang….berganti dengan rasa suka dan sayang sebagai seorang teman…., sebagai seorang sahabat…..” katanya sambil membalikkan badannya dan tersenyum kepadaku.

Apakah masih tersisa cinta untukku….? “ tanyaku menggoda.

ilustrasi
ilustrasi

“ terus…, sekarang gimana perasaanmu terhadap aku…?

“ Tuh kan….kamu ngeledek aku terus…..” sambil melempari bantal kursi kearahku, “ aku masih tetap mengagumimu, dan aku tetap menyayangi kamu.., sebagai seorang sahabat yang sangat dekat.” Dia berjalan kearahku dan duduk tepat didepanku, ditempat duduknya semula… “ gun… kamu kan bisa lihat kalo diantara kalian bertiga sahabat sahabat dekatku, aku selalu mendahulukan kamu…, bukan karena aku memperlakukan sahabat sahabatku dengan tidak adil, tapi karena aku merasa lebih dekat denganmu“, dia mengambil bantal cursi yang tadi dilemparkan kepadaku, dan meletakkannya di pangkuannya, lalu “ kadang aku suka bertanya dalam hatiku sendiri, apakah sikapku kepadamu selama ini masih murni sebagai sikap seorang teman…? Aku merusaha meyakinkan diriku bahwa aku memang menyukaimu hanya sebagai teman, dan sebagai seorang sahabat aku berusaha untuk tulus sebagai sahabat sejati “.

Sejenak suasana menjadi hening, Tattie terdiam dan akupun ikut larut dalam keheningan.

Setelah menyulut sebatang rokok kretek, aku berkata lagi “ Oke…ada satu hal lagi…, kamu kan pernah beberapa kali menunggui aku mandi dan kadang kadang aku mandi dalam keadaan telanjang bulat.., pada saat itu ada gak suatu perasaan yang….yah istilahnya…maaf maaf ya… kamu merasa deg degan gak ketika melihat aku dalam keadaan bugil…!?”

“ kamu baru tersadar dan mulai merasa risih ya…..!? udah telat gun…., aku sudah lihat bagian bagian tubuhmu yang menjadi modal kamu…” katanya sambil tertawa tertahan…. Lalu “ koq jadi ngomongin hal itu sih….!? “

“ lho bukan begitu tattie…. Aku hanya ingin mengukur aja…., apakah kita memiliki kesamaan dalam memperlakukan sahabat, baik dalam dalam hal perlakukan maupun dalam hati…” aku melihat perubahan drastis di wajah tattie.

%d blogger menyukai ini: