Biduk Terakhir

 
 

Biduk Tua

Temaram keemasan…., menyirami tepi senja yang hening dan bisu……….

gemericik serta riak ombakpun…., tak mampu bersembunyi……
teduh dan kedamaian…, akan terus menyeret sang waktu ke tepian……
menggerus asa yang sia-sia, dan terhempas sirna……………
 
Derak sepasang roda pedati, bagai alunan irama dzafin…. berputar melintasi pasir basah
takkan pernah ingkar menyeberangi sang waktu…………….
membentang cinta…. sepanjang butir kasih yang terangkai bagai pasir pantai…..
dan akan terus terkembang hingga ke langit biru………….
 
Setangkai mawar yang menari-nari mengikuti canda semilir angin…..
masih menyimpan tetes embun yang lembut menerpa ketika malam berbisik..
diantara gelayut dingin yang melingkupi pekat disudut malam…
akan tetap indah berseri mengulum senyum…, meski mentari telah menggantung
 

Temaram senja

Tak ada yang berubah……., semua tetap indah dalam genggaman……

kasih dan sayang yang terangkai menjadi cinta suci…..
akan terus mengalir bagai bening sungai di kaki gunung…..
mengikuti aliran sang waktu…….
 
Baca lebih lanjut
%d blogger menyukai ini: