TABUN, Senjata Pemusnah Masal yang tidak digunakan Hitler

masker

Masker untuk gas beracun

TABUN, itulah senyawa kimia berbahaya warisan Perang Dunia II yang DICIPTAKAN OLEH ILMUWAN JERMAN pada era 1930an. Seseorang yang terkena tetesan TABUN seukuran ujung jarum dapat meregang nyawa dalam waktu 3-6 menit!

Bayangkan jika tiba-tiba anda tidak mampu lagi bernafas karena otot dada dan paru-paru menegang. Air liur, lendir terus mengalir dari mulut dan hidung anda, bahkan seluruh tubuh anda menggigil hebat disertai keringat yang mengucur deras. Pandangan pun tiba-tiba kabur karena lubang pupil mata anda mengecil hingga seujung jarum. Pusing dan rasa mual yang hebat mengiringi penderitaan anda bahkan ketika anda sangat tersiksa ingin menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.

Saat itu anda sudah tidak bisa lagi menggerakkan seluruh tubuh anda, tangan, kaki, kepala, leher terasa sangat kaku tanpa bisa digerakkan sedikitpun. Lalu 6 menit kemudian, anda merasakan sekarat yang hebat dan………….kematian pun menjemput.

Begitu dahsyatnya efek senyawa kimia ini hingga Liga Bangsa-Bangsa (nenek-moyang PBB) melabelkannya sebagai salah satu SENJATA PEMUSNAH MASSAL (Weapons of Mass Destruction, Chemical Weapons Convention 1993) yang haram bagi negara mana pun untuk memproduksi, menggunakan, dan menyimpannya. Hal ini menjadikan TABUN sejajar dengan senjata pemusnah massal lain seperti Bom Nuklir.

Namun, tahukah anda bahwa senjata super-mematikan ini sama sekali TIDAK PERNAH digunakan Jerman dalam Perang Dunia II (1939-1945) melawan Sekutu ??

Perang Dunia II merupakan perhelatan akbar penghancuran umat manusia yang kedahsyatannya belum pernah disaksikan sang waktu sebelumnya. Puluhan juta manusia terbunuh dalam rentang waktu yang sangat singkat, kota-kota besar rata dengan tanah, rusaknya lingkungan hidup dan tatanan sosial, merebaknya penjarahan, pembunuhan, pemerkosaan, hancurnya negara-negara adidaya, dan menyebarnya paham ideologi menyimpang.

Sewajarnya, Perang Dunia II menjadi katalis dan kawah candradimuka perkembangan teknologi dan sains militer saat itu. Amerika, Jerman, Inggris, Jepang, dan Soviet berlomba untuk menciptakan mesin perang paling handal yang mampu melibas lawan tanpa ampun.

Mesin perang modern berkecamuk di udara dalam bentuk pesawat pengebom, pesawat pemburu, dan bom missile; di permukaan laut dalam bentuk Battleships, Destroyer, dan kapal induk pesawat; di bawah laut dalam bentuk Kapal Selam; dan di darat dalam bentuk tank, artileri, dan infantri mekanis.

Adolf Hitler Penguasa Nazi

Adolf Hitler Penguasa Nazi

Menariknya, Jerman adalah negara yang paling inovatif dalam mengembangkan teknologi militernya pada Perang Dunia II. Sejarah mencatat bahwa Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler mampu menjadi sebuah negara besar yang tidak hanya unggul di ranah politik hubungan internasional, ekonomi, sains dan teknologi, namun juga unggul dalam angkatan bersenjata dan perkembangan teknologi militer.

Berbagai penemuan revolusioner dihasilkan oleh para ilmuwan Jerman yang kemudian diaplikasikan dalam bidang militer, antara lain:
Pesawat jet pertama di dunia yang kemudian dikemas dalam pesawat pemburu Messerschmitt Me-262.
Pesawat siluman pertama di dunia yang mengaplikasikan teknologi flying wing dan carbon coating untuk menghindari deteksi radar (Horten Ho 229).
Pesawat VTOL pertama di dunia dalam bentuk helikopter (Flettner Fl 282 Kolibri).
Riset bom nuklir pertama yang menggunakan heavy water (jauh sebelum proyek Manhattan Amerika, namun akhirnya gagal karena sabotase).
Rudal roket pertama di dunia yang menginspirasi penerbangan luar angkasa Amerika Serikat (A-1 bombs, V-1, V-2).
Hingga senjata kimia pemusnah massal yang sangat efektif dan berbahaya sehingga memungkinkan Hitler untuk memenangkan Perang Dunia II jika saja dia menggunakannya: TABUN.

Tabun, adalah Zat senyawa kimia

Tabun, adalah Zat senyawa kimia

Ya, TABUN. Sebuah senyawa kimia yang jernih tidak berwarna, mudah menguap, berbau buah, namun amat-sangat beracun ini adalah hasil penelitian “tidak sengaja” oleh seorang Ilmuwan Jermanbernama Gerhard Schrader pada bulan Januari 1936.

Pada awalnya Gerhard melakukan riset untuk mengembangkan insektisida (obat anti hama/serangga) kepada perusahaan IG Farben. Insektisida yang fungsinya melumpuhkan sistem syaraf serangga itu ternyata juga mampu menghancurkan sistem syaraf manusia dalam sekejap.

Sebagaimana peraturan di Jerman kala itu, semua hasil riset yang memiliki potensi militer agar diserahkan kepada pemerintah. Perwakilan dari IG Farben pun dipanggil menghadap ke Berlin untuk menunjukkan efektivitas Tabun dalam bidang militer. Akhirnya, riset dan produksi Tabun untuk menjadi senjata kimia pun dilakukan besar-besaran.

Sebagaimana senjata “ajaib” dalam perang, proyek Tabun ini benar-benar dirahasiakan keberadaannya sehingga negara-negara Sekutu pun tidak mengetahui secuil pun tentang Tabun apa lagi bagaimana mempersiapkan diri dan counter-attack terhadap senjata kimia ini.

Kedahsyatan TABUN sebagai senjata kimia sudah tidak diragukan lagi. Satu tetes kecilnya, jika tersentuh oleh kulit manusia, maka dapat dipastikan orang itu akan mati dalam 6 menit kedepan.

Bayangkan jika senjata ini digunakan dalam Perang global, di mana terdapat ratusan ribu tentara dalam satu front pertempuran, padahal Jerman kala itu (medio 1943) sudah mampu memproduksi 12000 ton TABUN.

Keefektifan TABUN sebagai senjata pemusnah massal pun jauh melebihi Bom Nuklir yang gemar dibahas oleh negara Sekutu kala itu. Bom nuklir memang memiliki efek destruktif yang sangat besar, namun dengan efek kehancuran yang besar itu juga terjadi collateral damage yang besar pula, antara lain efek radioaktif nuklir berpuluh-puluh tahun yang menimbulkan penyakit genetik, kehancuran lingkungan dan bangunan perkotaan.

Berbeda dengan TABUN yang hanya membunuh manusia (dan serangga), sehingga penggunaannya sangat efektif dan spesifik. Apalagi TABUN adalah senyawa yang sangat mudah menguap dan terurai di udara sehingga tidak terjadi efek buruk lingkungan setelah serangan dilakukan.

Seiring berjalannya waktu, Jerman semakin terdesak dan kalah dalam pertempuran-pertempuran Perang Dunia II.

Hancurnya pabrik industri dan militer oleh pesawat pengebom milik Sekutu, kalahnya industri, sumber daya alam, dan jumlah sumber daya manusia Jerman dibandingkan Amerika dan Soviet, serta bobroknya birokrasi internal pemerintahan Nazi saat itu, hingga pengkhianatan di kalangan angkatan bersenjata, mengakibatkan Hitler semakin tersudut dalam perang.

Awass!! beracun

Awass!! beracun

Selain itu, negara-negara Sekutu juga gencar melakukan serangan pemusnah massal berupa pengeboman besar-besaran ke wilayah penduduk yang mengakibatkan jutaan masyarakat sipil meninggal, dan puluhan juta lainnya kehilangan rumah mereka.

Bahkan tidak jarang pasukan pengebom Sekutu menggunakan bom incendiary yakni bom api yang mampu membakar habis-habisan seluruh kota dalam badai api. Pemboman massal seperti ini justru memiliki efek yang jauh lebih dahsyat daripada penggunaan bom atom/nuklir.
Jika bom atom kala itu hanya efektif untuk sebuah kota yang terdiri dari bangunan semi permanen (kota-kota di Jepang misal Hiroshima & Nagasaki), maka hujan bom incendiary mampu membakar habis kota modern permanen gaya Eropa seperti Dresden, Hamburg, Aachen, dan Berlin.

Namun di tengah keterpurukan ini, Hitler justru tidak mengizinkan penggunaan senjata pemusnah massal TABUN untuk menyelematkan negaranya dari agresi militer sekutu yang semakin merangsek masuk ke jantung Jerman.

Perlu diingat bahwa saat itu Sekutu sama sekali tidak mengetahui perihal TABUN dan bagaimana cara mengatasinya, juga bahwa bom nuklir belum ditemukan oleh ilmuwan Amerika saat itu, sehingga Jerman adalah satu-satunya negara yang memiliki senjata pemusnah massal paling efektif.

Jika Hitler mau menggunakan TABUN, maka bukan tidak mungkin perang akan dimenangkan oleh Jerman.

Mengapa Hitler tidak menggunakan tabun?

Sebagaimana kita ketahui bahwa pribadi Hitler adalah pribadi yang sangat kompleks, orang-orang terdekatnya pun tidak mengetahui secara pasti bagaimana karakter asli Adolf Hitler.

Beberapa kalangan menganggap bahwa trauma masa lalu Hitler dalam Perang Dunia I, di mana ia pernah menjadi korban dalam serangan gas beracun (mustard gas) menjadi alasan utama ia untuk tidak menggunakan TABUN.

Namun kita juga harus mengetahui bahwa Adolf Hitler adalah seorang yang menjunjung tinggi fair-play dalam peperangan, bahkan mendekati kekolotan.

Dalam pertempuran Berlin (Battle of Berlin), tank-tank Soviet sengaja memasang bendera Nazi untuk mengelabui pesawat Stuka Jerman, dan Hitler dengan keras melarang pasukannya untuk melanggar peraturan bendera.

Begitu pula ketika kota-kota besar Jerman mulai dilanda badai ribuan pesawat pengebom Inggris dan Amerika, meluluhlantakkan pemukiman penduduk. Hitler enggan melakukan serangan balasan serupa hingga situasi benar-benar parah dan akhirnya ia hanya melancarkan serangan rudal (flying bombs) V-1 ke London.

Hitler juga satu-satunya pemimpin negara berperang saat itu yang sangat menolak untuk membunuh petinggi negara lain secara sembunyi-sembunyi (assassination).

Kemungkinan utama Hitler menolak penggunaan TABUN adalah dia masih menjunjung tinggi konvensi Geneva sebagai peraturan perang internasional.

Penggunaan TABUN oleh Hitler dimungkinkan dalam dua hal yakni penggunaan strategis dan penggunaan taktis.

Penggunaan strategis sebagaimana sekutu menggunakan armada ribuan pesawat bomber-nya untuk menghancurkan kota-kota Jerman dan Jepang, maka Hitler dapat pula meluncurkan bom-bom TABUN baik melalui pesawat bomber maupun langsung melalui missile V-1 yang bercokol di Prancis menuju sasaran-sasaran padat penduduk di Inggris maupun Soviet, bahkan Amerika.

Efeknya tentu sangat dahsyat, selain menghancurkan kapabilitas Sekutu di bidang sumber daya manusia, TABUN juga mampu menghancurkan moral rakyat yang tahu bahwa efek TABUN sangat mematikan dan pasti mati.

Penggunaan yang jauh lebih praktis namun mampu menyelamatkan Jerman dari kekalahan perang tentu saja penggunaan taktis di medan tempur. Ketersediaan TABUN pada medio 1943 berarti Jerman seharusnya telah mampu menyelematkan dirinya dari kekalahan-kekalahan telak seperti di Kursk (1943), Bagration (1944), Korsun-Cherkassy (1944), Budapest (1945), hingga Battle of Berlin (1945).

Bahkan pendaratan Sekutu barat yang terkenal, yakni Operation Overlord (D-Day, 6 Juni 1944), dapat dengan mudah digagalkan Hitler dengan meluncurkan missile V-1 yang mengandung TABUN ke arah konsentrasi pasukan sekutu di pantai Normandia, mengingat roket V-1 adalah satu-satunya metode pengiriman bom yang dapat menghindari superioritas udara pasukan sekutu.

Jika pasukan sekutu telah kalah telak dalam Operation Overlord, maka akibat politiknya adalah pengunduran diri Presiden Roosevelt, Dwight D. Eisenhower, dan bahkan hancurnya aliansi Amerika-Inggris (kita ketahui bahwa Overlord adalah “ide” dari Amerika, sedangkan Inggris lebih memilih invasi di daerah Mediterania). Ini dapat menyebabkan masyarakat Amerika, Inggris, dan Kanada mengalami kehancuran moral untuk mendukung perang.

Sumber: forum.vivanews.co.id (Kecoeboeng)

Link: http://forum.viva.co.id/tokoh-dunia/942032-tabun-senjata-rahasia-mematikan-yang-tidak-digunakan-hitler.html

Iklan

Stiker Mobil

Beberapa waktu belakangan saya sering melihat stiker yang ditempel di bagian belakang mobil, baik mobil jenis sedan maupun jenis lainnya.  ada yang ditempel dikaca belakang bagian kanan bawah atau kiri bawah. Tulisannya “real men use three pedals”, dan disampingnya bergambar tiga buah pedal pengendali mobil yaitu pedal gas, pedal rem dan pedal kopling. Arti dari tulisan ini kurang lebih “pria sejati menggunakan tiga buah pedal”. Mungkin maksud dari tulisan ini adalah hanya pria sejatilah yang menggunakan mobil dengan tiga buah pedal pengontrol atau mobil dengan pengatur transmisi manual.

Gambar

Trend ini semakin meluas khususnya dikalangan para anak muda yang menggunakan mobil yang telah di modifikasi bergaya “ceper” atau sport. Dan sudah barang tentu mobil bertransmisi manual.

Namun beberapa waktu kemudian muncul lagi stiker yang tertempel dibeberapa mobil seperti ini “classy men use two pedals”, yang artinya kurang lebih “pria berkelas menggunakan dua pedal”. Mungkin maksud dari kata-kata dalam stiker ini adalah, hanya pria berkelaslah yang menggunakan mobil dengan dua buah pedal pengontrol yaitu pedal gas dan pedal rem, artinya mobil dengan transmisi matic (automatic).

Gambar

Nampaknya secara tidak langsung, telah terjadi perang pengakuan diri melalui stiker stiker ini yang berkaitan dengan jenis mobil yang mereka gunakan.

Setelah banyak diluncurkannya mobil2 bertransmisi matic, maka entah hanya karena iseng….atau memang ingin menjatuhkan gengsi para pria yang menggunakan mobil dengan sistem transmisi matic, maka para pengguna mobil bertransmisi manual memasang stiker “real men use three pedals” pada mobilnya, yang akhirnya para anak muda yang menggunakan mobil dengan transmisi maticpun karena gak mau dibilang bahwa mobil bertransmisi matic tuh hanya di khususkan buat wanita dan para ibu-ibu, mereka pun meng counter dengan stiker “classy men use two pedals”, yang belakangan juga berkembang dengan stiker yang hampir sama yaitu “rich men use two pedals” yang artinya “pria kaya menggunakan dua buah pedal”, kita pasti sudah taulah maksud dari kata-kata ini.

Gambar

Terlepas dari apapun tujuan pemasangan stiker stiker itu, saya cuma berasumsi bahwa setiap orang pasti punya selera yang berbeda terhadap jenis jenis mobil pilihannya, dan sudah barang tentu dia akan memilih mobil yang menurutnya enak, nyaman dan sesuai dengan ketebalan isi kantongnya. Betuuulll….???

 

 

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 7.400 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 12 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Tabah…. (re-posting)

( Semoga fajar takkan ingkar janji )

Pekik jangkrik dan suara penghuni malam, seakan menjadi bisikan lirih dalam untai titik embun yang menetes merengkuh dinginnya malam. Bias nanar sang rembulan yang bertaut kabut dan bayang, tak cukup memberikan bias untuk sekedar menghitung hari hari yang telah terlewatkan. Sesekali guratan petir tersenyum dikaki langit, seakan memberi dorongan untuk asa yang makin karam didasar hati. Bahwa jalan masih terbentang….bahwa perjalanan belum akan berakhir, namun fajar tak  pernah ingkar untuk sirnakan pekat.

Gemeretak gigi yang tertuai oleh dingin di salah satu  sudut malam, seakan terdengar bagai rebana menyusun irama, yang terlantun dari riuh arena dzafin. Gemeretak kekhawatiran akan hari esok bagi hembus nafas bocah yang pulas beralas kain lusuh, satu-satunya harta milik mereka yang masih tersisa. Kekhawatiran yang erat melekat di wajah sepasang suami istri yang mematung disisi kecil yang terlelap. Dari bias sinar rembulan yang pasi. tubuh mungil dan kurus  itu tergolek berbaur debu, merah bibir mungil itu tetap merona walau berlapis kerak putih mengering, sisa setetes asi yang terteguk sebelum fajar menyurut dan pekat merambah sebagai alunan berirama bagi sikecil yang tidak mengerti akan apa yang terjadi, tak ada  sesendok bubur sebagai alas untuk makan malam. Namun waktu yang berulang seakan menyatu dengan sikecil untuk sekedar bercanda dengan perut kosong.

Tak ada lagi air mata yang menitik, tak ada lagi getar duka yang mengoyak pilunya hati. Semua seakan telah kering, semua seakan telah membeku.

 “Istriku, tidurlah… hari telah larut, biarlah aku saja yang akan terjaga hingga fajar nanti, agar aku dapat menghitung gelap yang ada di ruang malamku. hari ini kita telah kita lewati teriknya matahari dan saat ini dingin malam akan menemaniku menyongsong fajar. kita telah menyelesaikan sehari tugas kita, Sejenak lupakanlah lapar dan dahaga kita, semoga fajar pagi nanti dapat memberikan sepotong kekuatan untuk kita, melewati hari hari kita…”. suara lirih yang keluar dari bibir kering memutih itu seakan membasuh gelisah hati sang istri, untuk tetap yakin bahwa masih ada hari esok untuk mereka lalui meski hanya dengan gambaran potret hari kemarin, dan terus berulang hingga mentari tersurut di ufuk.

Sesungguhnya, ada getar nada yang terucap lirih jauh didasar hati sang suami, ,”… maafkan aku istriku…., maafkan aku anakku…, hingga hari ini, hari hari yang kuhitung…. belumlah genap untuk sekedar memberikan kalian sepiring nasi dan dua potong tahu.  Gelap malam yang aku candai,  belum cukup untuk sekedar memberi alas tidur yang layak untuk kalian.  Nampaknya asa yang telah kubentangkan hingga ke-ujung samudra, belum cukup kuat untuk kita sebrangi.  Sabarlah istriku…., sabarlah  anakku… semoga esok kita akan lebih ikhlas lagi mengayunkan dan  melangkahkan kaki kaki ini…”.

Jakarta…..Ohh….JAKARTA!! (re-posting)

Kesibukan Kota Jakarta

Kesibukan Kota Jakarta

Sewaktu masih dikampung, dulu…, ketika aku masih duduk dibangku kelas dua SLTP (sekolah lanjutan tingkat pertama), aku selalu berhayal untuk bisa kejakarta, setiap kali aku melihat indahnya kota Jakarta melalui layar televisiku yang hitam-putih, keinginan itu akan semakin menjadi jadi. Aku ingin datang ke kota jakarta, mengadu nasib…, dan sukses disana seperti orang orang desa lainnya yang kini sukses di kota metropolitan itu.  Meski aku pernah mendengar ujar ujar para pendatang yang berada dan mengadu nasib di jakarta bahwa ‘se kejam kejamnya ibu tiri, tidak sekejam ibu kota’. (padahal gak semua ibu tiri kejam ya…). Keinginan yang kuat menepis semua itu dengan pendapat lain yaitu tidak selalu jakarta itu memberi kesan yang keras, paling tidak itulah bait bait dihatiku yang selalu saja dapat menepis keraguanku terhadap hal hal negatif tentang kota jakarta.

Kota Metropolitan yang sekarang  mungkin sudah menjadi kota yang penuh desakan, karena memang selalu menjadi idaman dan tujuan dalam angan bagi sebagian besar pemuda  kampung sepertiku, sepertinya kota metropolitan jakarta sangatlah menjanjikan. Dalam benak dan hayalku, aku merasa bahwa disana (jakarta) aku bisa mengurai semua talenta seniku menjadi sebuah karpet merah kearah sukses  dunia gemerlap bintang. Baca lebih lanjut

Unit Invasi 731 Tentara Jepang

UNIT 731

Dr. Shiro Ishii

Letnan Jenderal Dr. Shiro Ishii

Unit 731, adalah sebuah Divisi dari tentara Kekaisaran jepang selama Perang Dunia ke II atau selama perang Sino-Jepang (tahun 1937 – 1945), Divisi ini berbasis di Distrik Pingfang, kota diTimur Laut Cina. Tujuan dari Divisi atau Unit 731 ini adalah untuk melakukan pengujian dan pengembangan senjata biologi, namun subyek pengujian mereka adalah kepada manusia. Sebanyak lebih kurang sepuluh ribu orang tawanan perang  yang menjadi subyek eksperimen mereka, baik sipil maupun militer yang berasal dari Cina, Korea, Mongolia, dan Rusia. Tidak satupun mereka yang menjadi obyek eksperimen ini yang bertahan hidup.

Unit 731 ini di pimpin oleh Lentan Jenderal Shiro Ishii, yang mengembangkan senjata Mikrobilogi untuk menguasai dunia, pada tahun 1942 Ishii mulai melakukan pengujian lapangan terhadap semua senjata Mikrobiologi pada tentara Cina dan warga sipil, sekitar tiga ribu tahanan meninggal karena penyakit Pes, Antraks, kolera dan penyakit lainnya. Selain melakukan pengujian terhadap efek explosure bom keramik terhadap manusia (manusia hidup), Unitnya juga melakukan pengujian fisiologis, vivisection, aborsi paksa, tranfusi darah binatang ke manusia, simulasi stroke dan serangan jantung terhadap manusia, memecahkan bola mata hingga memotong anggota tubuh manusia dan menyambungkannya kembali di bagian lain, dan semua dilakukan tanpa pembiusan sehingga percobaan pada bayi dan anak kecil langsung mengakibatkan kematian.

Baca lebih lanjut

Persahabatan & Kesetiaan

Hachiko

Gambar Hachiko

Mungkin kita pernah mendengar bahwa anjing adalah teman terbaik manusia, mungkin ada benarnya juga. Kita sering mendengar bahkan melihat bagaimana seekor anjing membantu kepolisian dalam mengungkap suatu kasus, misalnya. Atau adanya seekor anjing yang hampir mati karena harus bergumul dengan seekor ular sanca demi membela bayi tuannya yang hampir menjadi santapan ular tersebut. Dan masih banyak lagi cerita cerita bahkan fakta fakta mengenai persahabatan manusia dengan anjing. Saya teringat akan film mengenai persahabatan dan kesetiaan seekor anjing terhadap tuannya, yang saya tonton beberapa waktu lalu yang sempat membuat saya menitikkan air mata, judulnya ‘HACHIKO: A Dog Story’. Film yang berdurasi 104 menit ini di perankan oleh Richard Gere, film ini terinspirasi atau diangkat dari kisah nyata tentang persahabatan manusia dengan anjing yang pernah terjadi pada tahun 1923 di Odate Akita Jepang, dan pernah pula di filmkan di jepang pada tahun 1987 dengan Judul ‘Hachiko Monogatari’.
Adalah seekor anjing jantan jenis akita inu yang diberi nama ‘Hachi/hachiko’, pemiliknya adalah Profesor Hidesaburo Ueno seorang pengajar bidang pertanian di Tokyo. Hachiko lahir di Odate-Jepang pada tanggal 10 November 1923, dan pada tahun 1924 Profesor Ueno membawa Hachiko ke Tokyo-Jepang.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: