Sepenggal kisah yang tertinggal Chapter-2

Chapter dua.

SEPENGGAL KISAH YANG TERTINGGAL

(my story)

risau

Galau

***    Hand-Phone ku berdering, sebelum aku menekan tombol yes, aku memeriksa layar handphone-ku siapa gerangan yang menelponku. Nomornya tidak terdaftar di memory handphone-ku, berarti ini kali pertama orang ini menelponku. Aku sempat ragu untuk menerima, karena nomor itu tidak kukenal, dan ku putuskan untuk tidak menerimya, kubiarkan saja handphone-ku terus berdering hingga time out dan mati sendiri. Selang beberapa menit, handPhone-ku berdering lagi dari nomor yang sama, dan juga aku putuskan untuk tidak menerimanya. Namun baru dua menit berlalu, nomor yang sama menghubungiku lagi. Meski agak ragu, akhirnya ku angkat telponnya, karena aku berpikir bahwa mungkin orang ini benar benar penting menghubungiku, terbukti sampai tiga kali dia menghubungiku. Berbeda dengan yang sudah sudah, meski nomorku bolak-balik dihubungi oleh penelpon gelap, tapi tidak pernah nomor yang sama menghubungi sampai dua atau tiga kali, kalaupun panggilan berikut tetap dari orang yang iseng, tapi nomornya berbeda.

Setelah aku menekan tombol yes, tanpa menjawab kudekatkan handPhone-ku ke kupingku. Aku mendengar suara halo dari seorang lelaki dengan suara berat yang ber-ulang ulang dari seberang sana, aku semakin khawatir sehingga aku masih tetap belum menjawab tapi berusaha menegaskan suaranya apakah aku mengenalnya atau tidak. Karena dari cara dia memanggil namaku, sepertinya orang itu adalah temanku karena dia memanggilku dengan nama saja, dan tidak dengan panggilan “pak” atau “mas” “halo…halo….gun…..gun…halo…..kok gak dijawab..!??….ini endi gun…….” Aku mendengar suara diujung telepon itu menyebutkan namanya…dia mengatakan bahwa namanya Endi, aku mencoba mengingat ingat nama tersebut dan nada suaranya……. Tapi aku belum berhasil memastikan Endi yang mana, tapi dari gaya bicaranya sepertinya aku kenal….. “ gun…..ini endi, gun……kamu masih ingat aku gak….!??”

Setelah dia menyebutkan lagi namanya, baru teringat jelas “ Hey…endi !!?……kamu kah itu…..??” jawabku setengah berteriak, karena ternyata suara di ujung telpon sana adalah Endi teman sekampungku. Dulu sewaktu aku pertama kali berangkat meninggalkan kampungku, Endi sempat mengantarkan aku sampai ke pelabuhan, dan ketika aku akan naik ketangga kapal, dia sempat memelukku erat sekali dan berkata “Gun…, aku dan teman-teman disini pasti akan merindukanmu…Kalau saatnya sudah tiba, aku juga akan mengikuti jejakmu untuk pergi dari kampung kita ini memperbaiki nasib di negeri orang”, dari bias cahaya lampu kapal aku melihat Endi sempat meneteskan air mata, bukan berarti cengeng, tapi memang sewaktu dikampung dulu  selain sering kumpul dengan Tonny, Bambang dan Tattie, aku juga kerap mendatangi tempat mereka (endi) nongkrong dan suka mengajarkan mereka bermain gitar, sehingga dulu kita sempat membentuk kelompok Group Vocal yang bernama “Phytecan Thropus”  dan sempat beberapa kali menjuarai lomba-lomba group vocal di daerahku. Waktu itu sebagai pengiring gitar, selain aku dan Tonny juga Endi.

“endi…gimana kabarmu….? kamu dimana Sekarang….? “

“ waduuuuuh gun….kupikir kamu gak kenal aku lagi….aku ada di Jakarta neh…” jawabnya dengan nada khasnya penuh semangat (tentunya dengan dialek daerahku).

“ O kamu diJakarta ya….dimana…..? kok baru Nelpon aku Sekarang “ jawabku

“ Aku baru empat hari disini gun, kebetulan aku ikut PON (pekan olahraga nasional) mewakili kontingen jawa timur…, aku ikut cabang karate” ucapnya

“wa..a..ah hebat kamu endi, bisa ikut PON….cabang karate lagi…, tapi kok ikut kontingen jawa timur?  Bukan dari sulawesi utara??“ tanyaku lagi

“aku kan kuliah di Surabaya gun, aku ngambil fakultas hukum…sekarang tinggal nunggu wisuda”

“wa.a.ah hebat, terus kamu tau nomorku dari siapa nDi…?” ucapku

“ waktu aku akan berangkat keJakarta, aku nelpon ke Kakakku dikampung untuk minta alamatnya Mbak Dessie, aku tadi pagi nyari alamatnya dan ketemu, kebetulan mbak Dessienya lagi dirumah, terus dia yang ngasih nomor ha pe kamu…, o ya sekalian ada pesan neh dari mba Dessie…, katanya nanti hari rabu depan diminta datang ke pejompongan,  ada pesta pernikahan keponakannya mba Dessie…acaranya sih di gedung Manggala Wana Bhakti jakarta, karena …,…” jawabnya belum selesai tapi langsung aku potong…

“acaranya hari rabu…….? Kok mendadak amat informasinya…? Hari rabu kan dua hari lagi??” ucapku kaget

“ katanya sih beberapa kali kamu di kontek gak nyambung nyambung…padahal waktu itu mba Dessie mo sekalian minta tolong nyebarin undangan” jawab Endi

“iya sih….belakangan ini aku sering matiin hape ku karena sering ada penelpon gelap…. ….” Ucapku

“gun aku kangen banget sama kamu…lama sekali kita gak ketemu …” ucap endi, “kapan kita ketemu neh…yah sekedar ngobrol ngobrol gun….soalnya kalo ketempatmu dibekasi, aku takut nyasar” Lanjutnya lagi

“ oke deh… kalo gitu besok siang nanti aku hubungi, nomor ha pe mu yang ini ndi….?” “ bukan….ini nomor ha pe temenku…, nih nomor ha peku….” Setelah Endi menyebutkan nomor ha pe nya..

“oke deh, insya Alla aku pasti datang…nanti aku call kamu dulu …” kataku…

“Nantilah kalo PONnya udah selesai…ajak aku ke rumahmu ya…kenalin aku sama istrimu….biar nanti kalo aku balik ke kampung, aku punya bahan cerita buat teman teman kita dikampung…bahwa aku sudah ketemu kamu yang sudah sukses diJakarta…”

“ oke deh….ya udah hati hati ya ndi….titip salam buat mba Dessie…bilang aja nanti malam aku telpon” tambahku lagi

Untung telponnya aku angkat, karena ternyata yang nelpon temen sekampung yang sudah bertahun tahun gak ketemu, disamping itu dia memberi kabar penting dari mba Dessie, orang yang pernah berjasa dalam hidupku, dialah yang pertama kali membukakan jalan untuk angan anganku sehingga aku bisa berada di jakarta. Aku sendiri karena kesibukanku dikantor sehingga jarang mengunjungi mba Dessie, terakhir aku menyambanginya pada lebaran dua tahun yang lalu. Tapi aku masih sering menelponnya meski hanya sekedar menanyakan kabarnya.

***     Akhir akhir ini aku memang sangat hati hati kalo ada telpon yang masuk ke ha pe ku, apa lagi kalau nomornya gak terdaftar di phone book ha pe ku. Soalnya Beberapa waktu belakangan, aku kerap dihubungi oleh penelpon gelap yang bernada mengancam. Aku gak tau tujuannya apa, dan apa yang dia inginkan, tapi dari beberapa penelpon yang pernah aku terima, nampaknya si penelpon bukan hanya seorang, karena nomor yang menghubungiku bukan dari satu nomor yang sama, tapi sering berganti ganti nomor dan suaranya pun, bukan dari satu nada suara yang sama. Aku berkesimpulan bahwa semua ini berkaitan dengan urusan di tempat kerjaku, karena sekitar dua bulan sebelumnya aku memecat beberapa orang karyawanku dan melaporkn mereka ke kantor polisi, karena  terbukti melakukan penggelapan barang barang produksi dalam jumlah yang cukup besar, dan sudah berlangsung cukup lama, sehingga mereka sempat mendekam di Penjara polsek. Apa mungkin si-penelpon gelap ini adalah mereka mereka itu? Atau mungkin keluarga mereka…? Atau bisa juga mereka menyuruh orang lain, untuk menyamarkan identitas mereka?.

Semakin lama frekwensi ancaman mereka semakin menjadi jadi, membuat aku merasa was-was dan tidak tenang, demikian juga dengan keluargaku. Karena aku merasa keselamatan aku dan keluargaku terancam, aku melaporkan hal ini ke Polisi yang kebetulan kantor polseknya tidak jauh dari rumahku, juga aku sampaikan permasalahan ini kepada temanku yang seorang anggota buser(Buru Sergap) polsek di wilayah tempat aku bekerja, sekaligus meminta  perlindungan dari aparat kepolisian setempat.

Si Buser kenalanku ini memberikan jaminan terhadapku bahwa tidak akan terjadi apa apa, dan mereka si penelpon gelap tidak akan berani untuk berbuat macam macam di wilayah hukumnya. Tapi Itu kan menurut dia….aku sempat berpikir bagai mana kalau suatu ketika, tiba-tiba mobilku di cegat oleh sekolompok orang yang tak ku kenal, dengan berbagai senjata tajam di tangan mereka, pihak kepolisian kan tidak mungkin dengan serta merta tiba-tiba langsung berada situ, apa lagi kalo kebetulan tempatnya jauh dari kantor polisi.

Akhirnya kuputuskan untuk membawa senjata apiku kemanapun aku pergi sebagai langkah penjagaan saja, senjata api ringan berjenis pistol yang telah lama gak pernah lagi aku bawa setelah dulu aku hampir meledakkan kepala seorang sopir bus kota yang ugal ugalan dan hampir mencelakai aku dan keluargaku. Pestol ber caliber 38 buatan cekoslovakia bermerek “Cobra” dengan nomor seri enam digit yang terdiri dari dua huruf dan empat angka. Pestol ini memiliki daya jelajah dan akurasi yang cukup baik untuk ukuran senjata api ringan, melebihi pestol semi automatic berjenis FN milik angkatan darat. Pestol yang berukir ular cobra di gagangnya ini adalah pemberian seseorang yang sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri, yang kebetulan sebagai salah seorang petinggi di jajaran kepolisian saat itu. Senjata api genggam itu sudah dilengkapi dengan surat ijin, yang tadinya atas nama anaknya yang kemudian di hibah kan atas namaku. Dulu aku diberikan benda ini ketika aku memegang jabatan mid management di sebuah Perusahaan di Bekasi milik anak angkatnya yang ketika itu perusahaan tersebut sering mendapat ancaman dari orang orang tak bertanggung jawab, sehingga demi keselamatanku dan perusahaan beliau meberikan benda itu kepadaku untuk berjaga jaga. Sebetulnya sih tadinya hanya di pinjamkan saja, tapi setelah beberapa bulan kemudian dan kondisi perusahaan sudah kembali aman seperti sedia kala, beliau memintaku untuk merawat saja senjata itu baik baik, malah waktu itu beliau memrintahkan anak buahnya untuk menguruskan dokumen penghibahan  surat ijinnya atas namaku. Awalnya aku menolak tapi karena aku merasa gak enak untuk menolak permintaanya, ya akhirnya aku terima juga. Tapi setelah beliau meninggal, senjata tersebut aku serahkan kepada Mabes Polri di Jakarta beserta dua belas butir pelurunya dan semua dokumen-dokumen yang ada.

Untuk lebih meyakinkan lagi dan agar lebih aman, disamping membawa  pestol, aku juga melengkapi diriku dengan sebilah senjata tajam berupa badik yaitu senjata tajam khas suku bugis / makassar, yang merupakan benda pusaka milik keluarga ayahku, yang secara turun temurun senjata ini mengikuti garis keturunan yang terpilih. Beberapa tahun lalu sebelum ayahku (almarhum) meninggal, beliau sempat mewariskannya terhadapku, tentunya setelah mendapat persetujuan dari kakakku yang saat ini bermukim di wilayah Kalimantan Barat, dan juga keluarga lain yang ada di Makassar (saat ini benda pusaka tersebut telah aku serahkan untuk di simpan di Musium keluarga yang berada di Makassar).

Tapi dengan membawa dua benda itu, sebetulnya bukan menjadikan aku tenang tapi malah sebaliknya. Setelah kupikir kembali bolak balik, ya akhirnya kuputuskan lagi untuk tidak membawa benda benda yang berbahaya itu. Aku hanya menyerahkan sepenuhnya keselamatanku kepada Yang Kuasa, apapun yang akan terjadi terhadap diriku, semua adalah atas kehendakNYA. Dan Alhamdulillah hingga saat ini kondisinya sudah aman terkendali.

 ***     Hari rabu jam sepuluh pagi setelah mendapat ijin dari Bossku di kantor, aku langsung berangkat kerumahnya mba Dessie di Jakarta. Segala sesuatu yang akan aku butuhkan di resepsi pernikahan nanti, telah aku persiapkan dari rumah, seperti setelah jas karena mba Dessie meminta kami yang menjadi panitia untuk mengenakan setelan jas berwarna hitam pada acara resepsi nanti. Istriku tidak ikut menghadiri resepsi nanti malam, karena pada waktu yang bersamaan dia harus melakukan presentase secara safari selama dua hari di Bandung, untuk para calon Down Line nya di program MLM dari salah satu produk perusahaan Multi level yang dia ikuti.

Seperti biasa, aku berangkat keJakarta dari kantorku melewati jalan tol jagorawi melalui pintu tol cibubur. Aku menjalankan Toyota LandCruiser (hardtop) ku dengan kecepatan yang sedang sedang saja, dengan kecepatan rata rata antara tujuh puluh hingga delapan puluh kilo meter perjam. Pukul sepuluh lebih lima puluh lima menit, sampailah aku di rumah mba Dessie yang kelihatannya semuanya sudah mulai larut dalam kesibukan untuk mempersiapkan resepsi pernikahan yang nanti akan berlangsung di gedung Manggala Wana Bhakti Jakarta.

Jam empat sore Endi datang dengan seorang temannya sesama atlit karate yang mewakili kontingen jawa timur dalam PON yang sedang berlangsung saat itu. Aku masih kagum dengan postur tubuhnya yang tinggi dan lebih besar serta berotot dari postur tubuhku, berbeda dengan ketika aku meninggalkannya dikampungku dulu, tinggi badannya hanya sebahuku, dan posturnya pun biasa biasa saja. Nampaknya Endi mewarisi postur tubuh kekar bapaknya yang seorang pelaut.

Setelah acara kangen kangenan, Kami mengobrol ngalor ngidul mengenai pengalaman masing masing, melanjutkan obrolan kemaren di telepon yang terhenti karena Endi harus kembali mess atlit. Obrolan kami sangat menarik. Rasa rasanya seperti baru kemaren sore kami berpisah, dan tiba tiba bertemu lagi dengan begitu banyak perubahan, Endi pun merasakan hal yang sama.

            Pukul lima lebih empat puluh lima menit, kami mulai bersiap siap untuk berangkat ke gedung tempat resepsi pernikahan, karena jaraknya gedung yang tidak begitu jauh dari rumah mba Dessie, sehingga kami tidak harus terburu buru, semuanya sudah melalui rencana dan pengaturan waktu yang sudah ditata jauh hari sebelumnya. Hanya membutuhkan waktu lebih kurang lima belas menit untuk sampai ke Gedung Manggala Wana Bhakti, dan acara baru akan dimulai pada pukul sembilan belas atau pukul tujuh malam. Persiapan disana sudah sesuai dengan rencana, semuanya sudah tertata rapi, dan dari pihak pengelola catering pun sudah siap, tinggal menata meja prasmanan saja, dan pembawa acara pun sedang mengadakan gladi resik secukupnya serta mengkonfirmasikan segala sesuatu dengan para pengisi acara.

Pukul delapan belas tigapuluh menit, para tamu mulai berdatangan, dan group musik yang mengisi acara sudah mulai melantunkan lagu lagu untuk menyambut para tamu. Aku dan endi serta dua orang keponakannya mba Dessie yang kesemuanya mengenakan setelan jas berwarna cokelat tua, bertugas untuk mengawasi jalannya acara, kami mengkonfirmasi dan mengkoordinasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan jalannya acara, agar semuanya berjalan sesuai dengan planning yang sudah ada, agar tidak meninggalkan kesan negatif bagi semua tamu tamu yang hadir.

Acaranya berjalan sangat meriah, besarnya ruangan yang digunakan untuk penyelenggaraan acara resepsi pernikahan tersebut, hampir tidak dapat menampung para tamu yang hadir pada malam itu. Sebagian besar Para tamu yang hadir adalah dari kalangan pengusaha. Mendengar gaya bicara dari para tamu yang hadir, nampaknya sekitar enam puluh sampai tujuh puluh persennya ada warga gorontalo, yang sudah menuai sukses menjadi pebisnis atau pengusaha di Jakarta.

ilustrasi

Wanita bergaun biru

Waktu menunjukkan pukul 21.20 ketika aku sedang mengitari ruangan untuk memastikan semua tamu merasa nyaman, kemudian aku menuju kearah sisi kiri ruang yang digunakan oleh kelompok musik yang saat itu sedang melantunkan lagu lagu kenangan. Saat melintasi  meja prasmanan, mataku tertuju kepada seorang wanita berkulit putih berambut sebahu mengenakan gaun tanpa lengan berwarna biru dengan bros berbentuk kembang ros berwarna perak di dada yang sedang menuangkan salah satu hidangan kepiringnya di ujung meja prasmanan persis disamping sebuah patung es berbentuk angsa. Tatkala aku memandangi wajahnya, secara kebetulan diapun memandang kearahku. Ada ekspresi terkejut ketika dia memandangiku, secara spontan aku baru akan melayangkan senyum kepadanya seperti yang aku lakukan kepada para tamu lain, sebagai tanda simpati tuan rumah. Namun bibirku seketika serasa terkunci manakala melihat ekspresinya memandangiku dengan mata tak berkedip, … sejenak kami terpaku saling pandang……matanya memandang tajam kearahku dengan mimik wajah  yang menggambarkan keterkejutan….. nampak seperti ada suatu pertanyaan yang sangat dalam tersirat dari tatapannya. Beberapa saat kemudian seperti baru tersadar, baik aku maupun wanita itu masing-masing  segera memalingkan wajah dan kembali kepada kesibukan semula, dan akupun kembali meneruskan langkahku menuju sisi ruangan sebelah barat tempat para pemusik sedang melantunkan lagu-lagu setelah secara terpaksa berusaha melemparkan senyum kearahnya. Tapi aku baru tersadar bahwa wajah itu seperti wajah seseorang yang pernah aku kenal, aku sempat menoleh sejanak kepadanya dan kulihat diapun sempat menoleh sebentar kearahku saat dia akan kembali ke bangkunya.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang dan makin kencang, aku sepertinya merasa bahwa wajah wanita tadi tampaknya sangat tidak asing…..,  “oohh….” Tubuhku terasa bergetar……detak jantungku semakin tak beraturan…. Apa yang tergambar di kelopak mataku, berbeda dengan apa yang sedang aku tatap……. “hhhmmmmm……. ada apa ini…..!? kenapa perasaanku jadi seperti ini…..!? Siapa wanita tadi….?? “ hatiku terasa semakin risau dan penasaran……” wajah wanita itu seperti pernah aku kenal……” dalam hatiku bergumam, “aahhh…..!! aku tidak dapat mengingatnya…….hhhmmmmm” aku menarik nafas dalam dalam dan mencoba mengingat ingat, tapi.. “aahhh….. kenapa tiba tiba hatiku gelisah dan penasaran dan was-was……jantungku jadi berdebar…..” gumamku lagi, “waaahhhh…memori ingatanku kacau nih……loadingnya sangat lambat…”.

Aku duduk disebuah bangku yang agak terpisah, disamping speaker musik yang sedang melantunkan lagu lagu daerah, sangat keras tapi kupingku seolah tertutup oleh segumpal kapas berlapis. “oh…..wajah wanita tadi…….sepertinya……..sepertinya  aku pernah melihat wajah itu, sangat tidak asing…………” dalam kegalauan yang sangat dan jantung yang masih berdebar tak karuan, aku terus berusaha memicing micingkan mata  mencoba mengingat wajah wanita berambut sebahu bergelombang itu.

Sementara itu acara resepsi pernikahan Adi keponakan mbak Dessie masih berlangsung, tamu yang hadir… semakin memenuhi ruangan aula yang digunakan sebagai tempat resepsi. Hingar bingar music yang mengisi acara berbaur dengan suara obrolan para tamu yang terkelompok kelompok dalam beberapa tempat, tamu yang hampir rata-rata dari kalangan pengusaha mengambil kesempatan dalam event itu untuk mencoba sambil mencari client, yang lain asyik dengan obrolan masing-masing kelompok,  Sesekali terdengar suara tertawa lepas membahana, kerasnya seakan menyaingi lengking suara melodi dari kelompok music. Ada beberapa tamu yang mulai beranjak pulang, namun banyak juga yang baru datang, dan langsung ke meja prasmanan sambil sesekali matanya memandangi para tamu disekitarnya mencari cari barangkali ada seseorang yang mungkin di kenalnya.

Saat jam menunjukkan pukul 22’40,  aku bangun dari dudukku dan menuju sudut ruang yang terdapat sederetan kursi  kosong dan sebuah meja berukuran cukup besar, yang dijadikan tempat meletakkan kado dari para tamu.  Sampai sejauh ini aku masih tetap belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaan pertanyaan yang mulai menyesakkan pikiranku,  setelah menyeka keringat yang tetap menetes walau ruang terasa dingin oleh pendingin ruangan, aku duduk di kursi kedua dari meja kado. Dalam keadaan seperti  ini hasrat ingin merokok sangat menggoda untuk sekedar menghalau kegalauan pikiranku, meskipun sesungguhnya tidaklah etis merokok didalam ruang ber-AC disaat tamu tamu tidak tampak satupun yang merokok. Namun akhirnya aku mengurungkan niat itu, kumasukkan kembali sebatang rokok yang tadi sudah kukeluarkan dibibirku.

Kulayangkan pandanganku ke arah pintu masuk, dimana tampak kesibukan para penerima tamu yang cantik cantik tengah sibuk menyalami para tamu yang mulai beranjak pulang, disana kulihat ada mba Dessie yang juga sedang menyalami tamu tamu yang pulang. Kembali tatapanku menjadi kosong berganti upaya untuk mengingat raut wajah yang cukup mempesona tadi, dalam benakku aku berpikir apakah wanita itu adalah seseorang dari sebuah perusahaan yang pernah mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan tempat aku bekerja……? Ataukah… seseorang yang pernah……., pertanyaan demi pertanyaan yang masih berusaha untuk aku ingat ingat, buyar seketika manakala diujung sana aku melihat wanita bergaun biru tadi muncul dari antara para tamu, berjalan menuju pintu keluar. Sontak aku langsung berdiri dan berusaha menghindari para tamu yang menghalangi  pandanganku. Aku bergeser kearah kiri, dan dari sana sangat jelas kulihat wanita bergaun biru itu melangkah kearah Mba Dessie yang berada dekat pintu disamping meja penerima tamu.  “….. ya Tuhan……langkah wanita itu….sepertinya aku kenal…….sangat aku kenal……. ohhh…..benar kah dia…….??” dalam hatiku penasaran setelah mulai menemukan titik terang. “tapi…….tidak mungkin……..barangkali hanyalah orang lain yang gaya jalan yang sama dengannya…….” seseorang yang mulai jelas terlintas dalam pikiranku membuat hatiku semakin tidak menentu, jantungku semakin keras berdetak, aku terus menatap kearah wanita itu yang sedang bersalaman dengan mba Dessie, wanita itu mengeluarkan sesuatu berwarna putih dari dompetnya, nampaknya seperti secarik kertas…..mungkin sebuah kartu, kemudian menyerahkannya kepada mba dessie sambil menyampaikan sesuatu kekuping mba Dessie, sepertinya sesuatu yang rahasia.

 Sebelum melewati gapura berhias bunga warna warni di ambang pintu masuk, wanita itu berhenti sejenak dan menoleh kebelakang   kearah kerumunan para tamu, kemudian menengok kearah lain  seakan sedang mencari seseorang.  Dari tempatku berdiri yang sudah tidak terhalang lagi sangat jelas aku melihat gaya wanita itu berjalan keluar dari pintu,  aku tersentak…… seakan ada sebuah bom yang meledak disampingku aku langsung bergegas pergi kearah pintu menyusul wanita itu.  Namun tak disangka sepatuku tersangkut pada sisi permadani merah yang akak terangkat membuatku jatuh terjerembab, seketika aku langsung berdiri dan tidak lagi memikirkan malu aku terus berlari kearah pintu, “ya Tuhan…….benarkah dia itu……oh..” sambil bergegas aku berusaha melewati para tamu yang masih cukup banyak saat  itu….

Pada saat aku sampai diluar gedung wanita bergaun biru tidak terlihat lagi…….aku coba bertanya pada beberapa orang yang berada dekat pintu masuk, tapi mereka tidak melihatnya, mungkin engga ngeh  ”oh… Tuhan…..bodoh sekali aku ini…..” Aku berlari area parkir barangkali dia masih berada di tempat parkir, dan akupun menyusuri area parkir dari ujung selatan hingga ke utara tetap nihil, aku mulai putus asa…….aku menghentikan langkahku dan menatap kearah gerbang dimana beberapa mobil sedang antri di gerbang keluar tersebut. Aku melangkah kearah gerbang pintu keluar……..dan berharap semoga masih bisa bertemu wanita itu. Aku terduduk lesu disebuah bangku panjang yang berada dekat loket parkir yang sering digunakan oleh para sopir, kulonggarkan dasiku agar nafasku yang masih tersenggal-senggal bisa sedikit lega. Kuluruskan kakiku kedepan dan kurentangkan tanganku ke sandaran bangku panjang  tersebut untuk mendapatkan posisi yang lebih leluasa. Sambil menyeka peluh dengan sapu tanganku, aku melayangkan pandanganku ke berbagai arah mencari cari penuh harap, namun aku tidak melihat sosok wanita itu.  Pertanyaan demi pertanyaan mulai mendatangi pikiranku, sangkaan dan dugaan pun mulai memenuhi relung benak ini, namun aku tetap tidak mampu meski hanya sekedar mencoba memastikan apa  yang telah terjadi, aku masih tak dapat berpikir jernih. “aku yakin dia pasti masih ingat denganku…..tapi….aachhh!!….bodohnya aku ini….!!?” Aku mulai menyalahkan diriku sendiri, “tapi………kenapa dia tidak mau menemuiku……!? Aku yakin dia pasti masih ingat terhadapku…….tidak mungkin dia melupakanku………….. Apakah……… dia telah membenciku…?” .  Iring iringan mobil yang keluar dari area parkir menghentikan semua lamunanku, aku membetulkan kembali posisi dasiku dan kembali ke gedung.

Bersambung ke – Chapter-3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: