Sepenggal Kisah yang Tertinggal Chapter-3

Sepenggal Kisah yang Teringgal

Chapter-Three

Saat memasuki Pintu Gedung Aula tempat belangsungnya Resepsi Pernikahan Adi Keponakannya Mba Desie, aku melaihat mba Dessie sedang duduk disamping meja resepsion, nampak tidak begitu sibuk karena tamu sudah mulai berkurang, aku menghampiri mba Dessie. “Acaranya sukses ya mba…..”. “yah…Alhamdulillah…..” jawabnya.

“o ya….mba Dessie…tadi ada wanita mengenakan gaun biru……, orangnya tinggi……rambutnya sebahu ………” aku belum selesai bicara namun mba dessie langsung memotong.

“ O yang disininya ada kembang ros perak………?? ” (sambil menunjuk ketengah dadanya)  “…..kenapa……!? kamu kenal dia……!?” tegas mba dessie

“ e..e..iya sih…..tapi nggak yakin juga sih mba…….tadi saya liat di memberikan  sesuatu ke mba dessie……mm….kayaknya seperti kartu nama gitu…..” jawabku

Mba Dessie yang tadinya duduk santai menyandarkan kepalanya kesandaran kursi sontak bangkit dan bertanya…” O jadi kamu yang dimaksud wanita tadi itu…..??”

“mm…….maksudnya gimana mba…….? emang tadi dia ngomong apa mba….??” Jawabku kaget..

“Mmm….pantes tadi mba lihat kamu lari ke keluar nguber dia ya…….!? emang siapa sih itu  Gun…..!??”

“waduh….saya sih belum pasti benar….tapi kalo memang dia…..ceritanya panjang mba……tadi dia bicara apa aja mba…saya lihat dia bisik bisik sama mba dessie….!?” Ucapku lagi

“sebetulnya bukan bisik bisik….tapi karena tadi musiknya kenceng, jadi dia bicara agak deket kekuping mba ….” Jawab mba dessie menjelaskan, kemudian….. “ dia bilang ke mba dessie bahwa ada seseorang yang pasti lagi memperhatikan kesini, maksud dia kearah mba dessie sama dia gitu……” (jelas mba Dessie dengan nada menjelaskan) “….nanti kalo orangnya nyamperin bu dessie……tolong di kasih kedia kartu ini ya bu……kata dia gitu…terus dia ngasih ini nih….kartu alamat…” cerita mba dessie sambil bemberikan selembar kartu nama kepadaku.

“terus di bilang apa lagi mba…..!???” Tanya ku penasaran.

“gak ada lagi…gitu doang…trus dia  pergi……tapi…..kayaknya matanya…..kayak mo nangis gitu…..berkaca kaca…….mungkin lagi ada masalah kali………….” jawab mba dessie sambil berbalik menuju ke tengah ruangan.

“mba dessie makasih ya……”ucapku sambil berdiri lalu keluar.

Setelah berada diluar, aku memperhatikan kartu dari mba dessie tadi, “hhmmm…….Kartu ini sengaja dititipkan buat aku,  dia yakin betul kalau aku lagi memperhatikan dia, dan katu iini……..” ucapku dalam hati, ternyata kartu tersebut adalah kartu nama sebuah hotel di bilangan senen. Dibalik kartu tersebut ada sebuah tulisan yang nampaknya di tulis terburu buru, (1061 besok siang aku kembali ke Surabaya).

“satu….kosong….enam….satu…..Ini pasti nomor kamarnya…..dan oh…..besok dia akan kembali ke Surabaya……oh thanks god…….!!! Sekarang ini juga aku harus kesana….aku tidak peduli walau harus mengganggu dia……, tapi…….” sejenak aku kembali tertegun…”……apakah dia sendirian dikamar hotel……?? Bagaimana kalo dia datang dengan suaminya, eh…….dia sudah bersuami belum  ya…….!?, ahh…! pasti sudah lah…..” Gumamku….

****

  Jam menunjukkan pukul 00’50 saat aku tiba dihotel yang tertera di kartu nama yang diberikan kepadaku, setelah memarkir Toyota Hardtopku, aku langsung menuju ke resepsionis. Aku mencoba untuk mencari informasi mengenai penghuni kamar nomor 1061, dan setelah yakin betul kalau dia adalah wanita yang sudah kuduga sejak awal….dan sedang sendirian dikamarnya, aku pun langsung menuju ke lift, namun sebelumnya aku memperbaiki penampilanku dulu di toilet loby.

Keluar dari lift,  aku mulai menyusuri koridor dilantai 4 yang sangat sepi  sambil memperhatikan nomor kamar satu demi satu, terasa hatiku kembali mulai berdetak tak beraturan lagi….aku mencoba mengatur ritme nafasku agar dapat segera menghalau  rasa gugup. Aku menghentikan langkahku “ahh……kok jadi seperti ini……perasaanku jadi tak menentu….” Ucapku dalam hati……., Rasa rindu…haru…juga senang berbaur jadi satu….membuat aku jadi tidak sabaran untuk segera sampai di room 1061,  sambil kembali melanjutkan langkahku, aku coba merancang sikapku nanti setelah bertemu dia “o ya…..sikapku harus bagaimana ya…..?” dalam benakku aku belum pasti harus bersikap seperti apa, “ tapi…..apakah sikapnya masih seperti dulu…..? aaaccchhhhh…!!!….kok gini amat perasaanku….”

Wanita Bergaun Biru

Ilustrasi

sepuluh enam satu……nah ini kamarnya, sejenak aku tertegun didepan pintu kamar 1061……berbagai pertanyaan memenuhi pikiranku, tanganku kuangkat untuk memencet bel, namun ohh……tanganku serasa dibebani bandulan seberat 50 kg……berat sekali.  Setelah hati dan pikiranku sedikit tenang dan berdoa didalam hari, akupun memencet bel. Beberapa saat kemudian, terdengar seseorang dibalik pintu membukakan pintu Klikk! Klikk!……..pintupun terkuak……..seorang wanita berbusana pesta berwarna biru,  berpostur cukup tinggi hampir setinggi aku telah berdiri diambang pintu menatap mataku tanpa ekspresi……diam tak bergerak……, akupun tidak sanggup berkata apa apa……, hanya dalam hatiku berkata…..ohh…..wajahnya…..sangat jauh berbeda dengan ketika masih dikampung dulu…….begitu cantik dan anggun…….sangat dewasa dan matang……tapi…… apakah dia masih seperti dulu…..??

“Tattie……” kusapa dia dengan suara yang hampir tidak terdengar, bibirku terasa kelu tak dapat berkata kata.  Dia tidak menjawab, tetap diam tak bergerak….. kecuali matanya yang mulai berkaca kaca…..,  “Maaf telah mengganggumu selarut ini……” ucapku lagi……, mata indah yang berkaca-kaca itu mulai menitikkan air mata, mengalir membasahi pipi merah merona….., sekonyong-konyong dia membalikkan badannya lalu masuk.  Aku masih terpaku di ambang pintu, aku tidak tau harus berbuat apa, aku tidak tau harus berkata apa.., dan aku tidak tau harus bagaimana….., ”Tattie…… e..e….maafkan…… bila aku telah melanggar janji kita dulu…..” Tiba tiba kata kata ini spontan keluar dari mulutku, namun dia tidak menjawab hanya punggungnya yang tampak  bergetar menahan isak, Tattie masih berdiri mematung di sisi tempat tidur membelakangiku.  “maaf…… Boleh aku masuk…..??” Tattie tidak menjawab, namun aku anggap itu adalah satu persetujuan untuk aku masuk, akupun  lalu masuk dan kututup pintu kamar.

Aku mendekati Tattie dan berdiri persis dibelakangnya, “Tattie…..sekali lagi aku mohon maaf……” ucapku perlahan penuh tekanan…., belum ada jawaban dari Tattie… dia masih sesegukan menahan isak, ahh aku jadi tambah bingung, suasana menjadi hening……..hening sekali…….aku pun sampai sejauh ini masih terpaku tak bergeming di tempatku berdiri. “Tattie……kalau kamu tidak menginginkan kehadiranku saat ini…….tidak apa apa, aku pulang dulu……nanti aku datang lagi……” ucapku memecahkan keheningan. Tattie langsung berbalik, sambil menangis tersedu-sedu dia menghampiriku hingga sangat dekat dihadapanku, ohh…..melihat wajahnya dengan airmata dipipi merah itu, rasa ingin sekali aku segera memeluknya…… hati ini tambah bergejolak, aku tidak tau apa yang saat ini aku rasakan, yang pasti aku sangat merindukannya dan ingin segera memeluknya, tapi rindu yang aku rasakan sekarang agak berbeda….dan aku tidak tau perasaan apa itu.  Sekonyong konyong tattie memukuli dadaku dengan kedua tangannya bergantian “kamu bohong sama aku……kamu tidak mau jadi sahabatku lagi……..kamu membiarkan aku menunggu kabarmu yang tidak pernah datang selama bertahun tahun……. aku benci kamu……aku benci kamu guunn……..”, aku yang kaget tadinya akan menghindar atau menangkis tapi aku urungkan dan aku membiarkan dia memukuliku sampai puas. Akhirnya dia menangis terisak isak didadaku, akupun langsung memeluknya dalam dalam, aku terharu…..aku tidak tau akan seperti ini, tanpa terasa air mataku pun ikut mengalir.  “selama bertahun tahun aku menunggu kabarmu…., setiap bulan aku menyuratimu…..namun selalu saja suratku kembali lagi dengan alasan alamat tidak diketahui….., semua daya upayaku tetap tidak menghasilkan apa apa…., aku hanya bisa menangis bila teringat dirimu….”, ucapnya sambil tersedu-sedu di dadaku. (Aku baru teringat bahwa beberapa tahun lalu aku pindah dan menempati alamat baru.) Beberapa saat kemudian dengan nada yang lebih datar Tattie melanjutkan “aku coba menyurati tonny dan Bambang, tapi merekapun tidak mengetahui alamatmu…., aku sangat tersiksa guuunnn…..hu..hu..hu..”, kembali tangisnya serta merta membasahi bajuku. Aku membiarkan dia menangis sepuasnya agar dadanya tidak sesak lagi, aku masih belum bisa berkata apa-apa….aku hanya bisa terdiam memeluknya. Aku merasa bersalah…., aku merasa jadi penyebab semua ini.

Kerinduan

Kerinduan

Suasana menjadi hening, baik aku maupun Tattie belum bisa berkata apa-apa lagi, Meski tangis tattie telah reda, dia masih tetap memelukku seakan tidak ingin melepaskanku dan akupun memaklumi, karena sama seperti diriku dia pun tampaknya masih seakan tidak percaya bahwa dia memelukku dalam kenyataan dan bukan hanya angan dalam rindu seperti yang selama ini juga sering terjadi terhadap diriku tatkala aku teringat akan masa masa di bangku es em a dulu, saat masih sering kumpul dengan geng ku.

“Tattie……” ucapku memulai percakapan, “kenapa kamu tidak mau menemuiku tadi sewaktu di resepsi pernikahan…., kamu tidak kangen sama aku…..? kamu malu ketemu aku sahabatmu….? Atau sengaja ingin menyiksa aku…..?”. Tattie mengendurkan pelukannya kemudian mengangkat kepalanya menatapku dan berkata “gun….tadi ketika aku pertama melihatmu, aku seakan tidak percaya kalau seseorang yang telah lama aku rindukan, ada dihadapanku, lama aku memandangmu barulah aku menyadari bahwa itu memang dirimu…..tubuhku langsung bergetar……dadaku terasa sesak…..aku hampir tidak sanggup menuang kuah sop kepiringku……seketika nafsu makanku hilang, namun aku masih belum percaya dengan apa yang aku lihat…..” dia menarik nafasnya dalam dalam dan kembali menyandarkan wajahnya kedadaku, lalu…” setelah aku kembali kebangkuku dan menyelesaikan makanku, aku mengambil minuman sambil diam diam  mencarimu…., aku melihat kamu duduk tertunduk disamping speaker…..lama aku menatapmu,  saat itulah aku benar benar yakin bahwa itu adalah dirimu……aku hampir berteriak memanggil namamu dan berlari kearahmu….., tapi aku tidak ingin menumpahkan semua air mataku didepan orang banyak…” sejenak dia menatapku lagi, sambil mengusap punggungku dengan kedua tangannya yang masih melingkari tubuhku dia berkata lagi “Sebetulnya aku masih ingin berlama lama di pesta itu, karena banyak teman teman sekampung yang hadir disana, tapi semakin lama aku berada disana, aku semakin tidak dapat menahan perasaanku yang terus berkecamuk…..antara rindu……senang….bahagia….benci…dan…..benci banget…..aku benci banget sama kamu gun….” sambil mencubit dadaku “aku langsung buru buru pulang dan menitipkan pesan kepada ibu dessie, karena aku yakin…..sangat yakin bahwa kamu pasti akan datang menemuiku, kembali dia mengangkat wajahnya menatapku…..”gun…..tolong yakinkan aku…..kalau ini bukan mimpi, aku kengen banget sama kamu….., aku tidak dapat melukiskan kerinduanku…..” ucapnya sambil menciumi pipiku kiriku kemudian pipi kananku, juga menciumi keningku dan……., lho!! kok dia mencium bibirku juga…….cukup lama, aku bingung harus membalas ciumannya atau diam saja saat dia mengecup bibirku, namun secara naluriah aku membalas kecupan bibirnya.  Sesaat kemudian dia mendorong tubuhku ke tempat tidur….., aku yang tidak siap langsung terjatuh terlentang dan dia menindih tubuhku sambil tidak melepaskan bibirnya dari bibirku, tidak lama sih….setelah itu kami duduk mengobrol dan dia mengambilkan minuman untukku dari lemari pendingin.

Meskipun jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, namun baik aku maupun Tattie belum merasakan kantuk sama sekali, malah terasa sangat segar, mungkin karena baru bertemu sahabat lama barangkali apalagi dengan kejadian kejadian yang baru saja di alami. Aku masih duduk diujung ranjang  bersandar ketembok, sedangkan tattie tiduran dengan kepala disandarkan kepahaku, sangat terlihat kalau tattie benar benar rindu kepadaku, bahkan apabila mungkin dia tidak ingin lagi berpisah (kurang lebih seperti itu perasaanku), ini terlihat dari cara dia yang sebentar sebentar menciumi pipiku dan terus memgang telapak tanganku sambil meremas remas jariku selama kita ngobrol,  seakan dia belum betul betul yakin bahwa pertemuan ini adalah nyata.  Aku….?? Kerinduanku pun sama, sangat tak terhingga…aku sangat rindu kepadanya….tentunya hanya sebatas rindu seorang teman atau sahabat lama yang telah berpisah selama sekian tahun, walaupun aku merasa persahabatanku dengan dia berbeda bila ditakar dengan persahabatanku dengan Tony, Bambang maupun Endy, tentunya untuk ukuran kerinduan. Tapi masih tetap terasa adanya garis garis yang membatasi koridor pertemanan. Namun setelah mengalami kejadian demi kejadian sejak semalam, aku merasa ada keanehan dalam perasaaanku…aku tidak tau apa itu…yang jelas perasaanku pada saat menatap wajahnya (yang kini kian cantik memukau…menurutku) sangat berbeda ketika masih di kampung dulu, pikiranku mulai terusik dengan perasaan perasaan yang aku sendiri belum tau apa dan mulai kapan. Tapi aku berusaha untuk penyembunyikannya dan tetap bersikap seperti biasa, walaupun agak sulit untuk mengingat kembali seperti apa sikapku terhadap dia dulu.

Tattie memesan sejumlah menu untuk sarapan kami berdua, dan setelah pesanan tersaji kamipun mulai menyantap sarapan, awalnya kami duduk hadap hadapan karena memang perlengkapan meja yang ada dalam kamar tersebut ditata seperti itu, tapi Tattie merubah posisinya agar kita bisa duduk berdampingan.  Tattie pun mulai bercerita apa saja yang dia alami sepeninggalku dulu, dan seperti apa upayanya untuk tetap bisa mempertahankan keteguhan hatinya dalam persahabat kami. Banyak yang dia ceritakan, adanya yang terdengar lucu, sedih, membosankan hingga yang mengesalkan. “sejak kamu gak ada, baik aku Tony maupun Bambang udah malas ngumpul ngumpul lagi, karna hanya kamu inspirator kami, apalagi sikap Bambang dan Tony terhadapku sangat berbeda sejak kamu pergi…, jadi aku malas ngumpul lagi dengan mereka, paling kalo kebetulan ketemu…ya ngobrol sebentar, itupun kalo gak terburu buru…” cukup lama dia menceritakan kisahnya, hingga kami selesai sarapan. “Tattie….hmm….kamu… tidak keberatan menceritakan mengenai keluargamu…..!?”  Tattie perpaling ke arahku dan menatapku dalam dalam, seakan berharap agar aku membatalkan permintaanku tadi…, “mm….tidak apa apa…..!? aku takut hanya akan merusak suasana saat ini….”, aku meraih kedua tangannya dan mengecupnya untuk sekedar meyakinkan dia bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan…, “tidak apa apa sayang……” lho..! kok aku jadi memanggil dia dengan kata sayang….padahal aku hanya ingin meyakinkannya, tapi…ah gak apa apa lah…toh berteman juga bisa saling menyayangi. “aku memastikan bahwa suasana hangat ini tidak akan terusik……ok!?…” dia mengangguk, lalu “Suamiku bernama Hengky, orangnya baik dan penuh pengertian, dia keturunan Manado dan Gorontalo, mungkin kamu kenal orangnya. Dia bekerja sebagai pilot untuk maskapai penerbangan Garuda Indonesia…yang melayani jalur amerika eropa sehingga dia kembali setiap dua minggu……” sejenak tattie terdiam….kemudian “pernikahan kami melalui perjodohan orang tua…., dulu kamu pernah tau ceritanya….”, dia menatap kearahku yang tengah menyimak dengan serius…”Kamu menyayangi dia kan….? Kamu bahagia dengan pernikahanmu….!?” Ucapku menyelidik. “butuh waktu hingga dua tahun bagiku untuk bisa menyayangi dan mencintai dia gun…., dia sangat pengertian…dan dia mengatakan bahwa dia akan dengan sabar dan setia menunggu hingga aku bisa menyayanginya….” Tattie menatapku lagi, seakan masih khawatir apakah aku masih mau mendengarkan ceritanya. “Terus…??” ucapku, “tahun pertama pernikahanku…aku masih tidak terlalu peduli dengan dia, namun aku tetap melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri. Waktu itu aku masih selalu mengingatmu, aku pernah bercerita kepadanya tentang mu, tentang persahabatan kita…dan dia tidak marah, dia malah senang. Saat ini dia masih menyimpan fotomu and foto foto kita, dia pernah mendengar sejauh mana hubungan persahabatan kita, dia mengatakan bahwa siapapun yang menjadi sahabatku akan menjadi sahabatnya juga….” Aku menuangkan segelas air mineral untuk tattie dan menyodorkan kebibirnya agar dia menjadi tenang kembali…….

“dulu aku pernah berpikiran untuk pergi meninggalkannya, beberapa bulan setelah kami menikah…., tapi akhirnya aku urungkan…aku gak tega…. orangnya baik dan penyabar, dia sangat mencintaiku dan anak anakku…. gun..” mata tattie menatap ke langit langit kamar mencoba mengingat ngingat sesuatu, “tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkannya….” tattie berusaha tersenyum lalu memandang ke arahku.. “aku sudah dikaruniai satu orang putra dan satu orang putri…lucu lucu deh gun…” ucapnya berseri seri. Tattie lalu datang menghampiriku setelah menarik nafas dalam dalam, dia duduk disampingku…lagi lagi dia mencium pipiku, “gun….maafin aku ya…mm…tolong tenangin hatiku ini dooonng…..sejak semalam perasaanku kok gak karu karuan siihhh…!!” ucapnya sambil menarik tanganku dan meletakkannya didadanya…….sejurus kemudian dia menyandarkan kepalanya kedadaku…… ”mungkin karena kita baru ketemu….. dan itu hanya perasaan rindu saja….” Jawabku sambil mengusap pipinya yang merona……dia mendorong tubuhku ketempat tidur lalu dia menyandarkan dagunya ke dadaku sambil mengusap rambutku. Aku menurut saja karena tidak ingin dia tersinggung, sambil coba mengingat ingat. Dulu tidak jarang kami tidur-tiduranan diranjang bersama sambil memainkan gitar dan Tattie bernyanyi, tapi gak pernah dia meletakkan wajahnya didadaku seperti saat ini…..aku merasa ada perubahan sikap dari Tattie sejak pertama bertemu tadi malam, tapi ahh mungkin itu hanya perasaanku saja karena sudah cukup lama tidak pernah bertemu Tattie. “tapi……rinduku ini kayaknya berbeda gun…..ohh….tolong katakan bahwa tidak sedang jatuh cinta sama kamu gun……!!?”, ya Tuhan…….kok perasaanku sama dengan perasaannya….aku pun tidak dapat membohongi diriku bahwa akupun telah jatuh cinta kepadanya…..tapi kenapa datangnya baru sekarang, setelah aku dan dia sudah sama sama menikah. Aku berusaha untuk tetap bersikap tenang…..lalu aku duduk memegang kedua bahunya ”tattie….ini hanya perasaanmu….kamu sedang dipermainkan perasaanmu….”, dia melepaskan tanganku dari bahunya….“ini perasaan cinta gun….. ini perasaan cinta…..” ucapnya memalingkan  wajahnya kesamping sambil menitikkan air mata….. ”aku tidak memintamu untuk membalas cintaku…..aku masih berusahan teguh dengan janji kita dulu, lagi pula aku sadar bahwa aku adalah wanita yang sudah bersuami, tapi…….salah kah bila aku sekedar menyatakan perasaaanku gun…..,aku tidak mau membohongi perasaanku……hu..hu..hu…” tangisnya makin menjadi. Aku langsung memeluknya dalam dalam, dan aku rasakan bahwa ini adalah pelukan cinta dan kasih, pelukan karena sayang……dan bukan lagi pelukan seorang sahabat,  “ohh tattie….maafkan aku….maafkan aku sayang….., ohh…aku gak tau harus bicara apa…betapa aku pun tersiksa menahan perasaan ini sejak melihatmu di pesta semalam…..aku akui, aku pun telah jatuh cinta kepadamu….., tattie maafkan bila akupun mencintaimu….maafkan aku bila aku baru mengakuinya saat ini….aku hanya takut ditertawakan olehmu, karna itu malanggar janji persahabatan kita” akupun tidak dapat menahan gejolak hatiku yang terlarut dalam butir air mataku yang tanpa kusadari menetes dari kedua mataku. Sejenak suasana menjadi hening, hanya suara isak tattie yang sesekali masih terdengan. Kami masih larut dalam suasana perasaan masing masing….aku membiarkan tattie yang tampaknya merasa tenang dan nyaman bila berada dipelukanku, aku masih terus memeluknya dan sesekali kuciumi keningnya. Aku kehabisan kata kata….terasa banyak yang ingin aku keluarkan dari dalam hati, tapi tidak tau harus bagaimana. “gun…..” ucapnya perlahan, “salahkah kalau kita saling mencintai….?? Kenapa kejadian ini tidak dari dulu saja…..saat kita masih sama sama sendiri….saat kita masih sama sama bebas…!??” sambungnya sambil tetap menempelkan pipinya kedadaku. “entahlah tat…..kalau ditanya sama aku…..aku hanya ingin membawamu pergi jauh…..” ucapku, “aku juga bingung gun….aku juga gak ingin menghianati cinta suamiku yang begitu tulus….akupun memiliki tanggung jawab sebagai ibu dari anak anakku….” Kata katanya sangat pelan dan terbata bata…, “kita memang saling mencintai….tapi…cinta tidak harus saling memiliki kan….” Ucapku menenangkannya, “gun…ijinkan aku untuk tetap mencintaimu ya….sampai kapanpun….” ucapnya lirih,  “ya sayang…..akupun akan selalu mencintai dan menyayangimu…..sampai kapanpun……. aku janji”.

Aku mengangkat wajahnya dengan kedua belah tanganku dan memandanginya, lalu aku tersenyum lebar….”hei…kenapa kamu ketawa……!!?” ucapnya sambil bangun dari dadaku, “kamu ngetawai aku ya….kamu ngetawai aku ya……!!” ucapnya sambil menduduki perutku dan memukuli dadaku,”kamu jahat….kamu menertawakanku….”. Aku memegang kedua tangannya agar tidak lagi memukuliku, “aku tidak sedang menertawakanmu sayang….tapi menertawakan suasana ini, kenapa datangnya baru sekarang…..coba dari dulu ya….mungkin kita sudah punya anak dua….tiga….empat…lima….ha..ha..ha..”, “selusin aja….” Sambungnya, lalu menciumi pipi dan bibirku….blebb!!!

“gun…..peluk aku dong….aku tidak ingin beranjak dari pelukanmu…..aku tidak ingin menyiayiakan waktu yang masih tersisa, karena sore ini aku harus kembali ke Surabaya…..bila mungkin..aku ingin menghentikan waktu” ucapnya menarik tanganku, “begitu cepat…..??” tanyaku…”tinggallah barang semalam lagi tat…..please….demi cinta kita…” pintaku. “gun….aku tak ingin semua ini akan merusak kerukunan rumah tangga kita masing masing, kita telah sepakat akan tetap saling mencintai, namun tidak merusak rumah tangga kita masing masing…”, aku terus memperhatikan gaya khasnya ketika berbicara serius…masih tetap gaya khas tattie yang pernah menjadi sahabatku dulu, “suamiku baru akan kembali minggu depan….tapi kamu…….istrimu pasti akan mencarimu…..” sambungnya sambil membuka sebuak minuman kaleng. “istriku saat ini sedang presentase di bandung, dia baru akan kembali jumat malam….” Kataku datar tanpa tujuan apa apa. “kamu gak bohong gun….??”, “untuk apa aku bohong….aku masih akan selalu ingat dan memegang teguh janji kita tadi….kamu mengenalku  bukan baru sekarang kan” Tambahku.  “Ok….! Kalau begitu aku akan menunda kepulanganku hingga besok siang….”. “Yessss……!! Thank you honey…..thank you my love….thank you dewiku….” Sekonyong konyong aku menyerbunya lalu menyiuminya dipipi, leher, dan bibir berkali kali…..sampai dia tertawa-tawa kegelian.

“Ok.., sekarang aku mo mandi badanku mulai lengket…., kamu mau menemaniku mandi…?” ucapku sambil bangun dari tempat tidur,

“tidak……aku hanya akan menungguimu di depan pintu kamar mandi…….seperti dulu…..” jawabnya sambil senyum…

“beneerrr…..!??…hanya nunggu aja……???” jawabku menggoda,

“iya…….aku ingin bernostalgia…..”.

Akupun lalu membuka bajuku dan menuju kamar mandi, aku sengaja tidak menutup pintu kamar mandi, selintas aku melihat Tattie sudah berada diambang pintu kamar mandi, berdiri menyender ketiang pintu, kedua tangannya disilangkan ke dadanya.

Ilustrasi

Ilustrasi

Aku sedang membilas rambut dan badanku dengan shower, kedua tanganku kujulurkan memegang tembok…., manakala sepasang tangan Tattie merangkulku dari belakang…… kemudian mencium punggungku……..dan aku masih diam, ohh……aku merasakan jantungku berdetak kencang sekali ketika tubuh hangatnya menempel dipunggungku….., begitu hangat dan empuk…… “suasananya saat ini tidak seperti dulu lagi gun..…!!” bisiknya ketelingaku, “semakin lama aku bertahan diambang pintu kamar mandi….., semakin berdebar jantung ini….dadaku semakin terasa sesak…..” ucapnya lirih, “guuunn……ohh……kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau terhadap diriku…………….hhhmmmm”.

 *****

 Special Goentoer Collection
 
back to Chapter-Two
 
continue to Chapter-Four

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: