Sepenggal Kisah yang Tertinggal Chapter-4

Sepenggal Kisah Yang Tertinggal.

Chapter 4

Ilustrasi

ilustration

Alaram jam di smartphoneku berbunyi, berarti sudah pukul 21’00, dan aku harus segera pulang. Aku sengaja menyetel alaram di smartphoneku agar aku bisa membagi waktuku untuk keluarga dirumah. Karena biasanya diakhir bulan seperti sekarang aku suka keasyikan dengan pekerjaan kantor hingga tau tau sudah larut malam, karena aku juga harus mengejar target laporan yang harus selesai tepat waktu.

Ku raih telepon selularku untuk mematikan alaram, dilayar hapeku kulihat ada empat kali panggilan tak terjawab, namun dari nomor yang tidak  terdaftar di phonebook dan nomornya tidak ku kenal. Aku baru akan menelpon balik ke nomor tersebut manakala suara alaram dari hapeku yang lain berdering sangat kencang untuk suasana yang begitu hening diruang kantorku, membuat aku ter kaget. Akhirnya kuputuskan untuk tidak menelpon balik, dan langsung berkemas untuk pulang. Kupikir toh kalau orang itu sangat penting untuk menghubungiku, dia pasti akan menghubungiku lagi.

 Memasuki jalan bebas hambatan (tol), laju mobilku kupacu dalam kecepatan yang sedang sedang saja, karena saat itu suasana lalulintas di jalan tol agak lengang, namun cuaca nampaknya mulai mendung, sesekali langit benderang oleh kilatan petir yang menerjang membentuk guratan panjang dan berkelok. Musik melankolis dan mendayu-dayu sengaja kuputar untuk sekedar menemani kesendirianku. Setelah meneguk minuman ringan yang ada dikonsol tengah mobilku, kunyalakan sebatang rokok sambil bernyanyi nyanyi kecil mengikuti suara musik, agar tidak tenggelam dalam suasana suntuk  yang membuat mataku ngantuk.

 Diantara  suara tetes gerimis yang mulai turun menerpa kaca mobilku, kudengar sayup dering hapeku berbunyi. meski agak malas mengangkat telpon karena lupa menggunakan handsfree seperti yang biasa aku lakukan ketika sedang berkendara, kupaksakan juga untuk melihat siapa gerangan yang menghubungiku, mana tahu menting.  081….. ……hmm….aku tidak mengenal nomor ini, nampaknya nomor yang tadi miscall. Ku pickup lalu kudekatkan ke kupingku, “halo…….” kucoba menjawab panggilan itu. Namun untuk beberapa saat aku tidak mendengar jawaban dari sana, lalu kuulangi lagi “halooo…..!?” dengan nada agak sedikit keras, namun tidak ada jawaban juga. Hubungan sih tersambung, tapi orangnya tidak bicara apa-apa, aku hanya mendengar suara tarikan nafasnya, serta bunyi latar belakang, juga ada suara cicak suara jangkrik yang sayup dari kejauhan. Dalam hatiku berpikir ini penelpon iseng atau salah sambung…..ah..!! Tutup ajalah.

Setengah kesal aku baru akan menurunkan telpon selularku, saat kudengar sayup sayup jawaban dari ujung telpon…..” halo….”, nampaknya suara wanita…. ” ya halo….dari siapa nih….!?” tanya ku lagi, “gun……kamu kah itu…!!” terbata-bata suara wanita itu menyebut namaku,  tapi tidak dengan panggilan Pak, berarti wanita ini bukan rekanan kerja atau orang yang pernah kenal melalui hubungan kerja. “gun…ini aku….” terdengan lagi suara wanita itu, sangat merdu namun bergetar. O my got….sepertinya aku mengenali suara ini, “maaf, ini siapa ya…..!?” tanyaku lagi, lalu

Aku menunggumu

Aku masih menunggumu

“maafin aku gun…..” terdengar suara itu tertahan…sepertinya sambil menahan tangis……dan aku semakin penasaran, karena suara itu seperti yang tidak asing. “aku tati gun……” suara itu terthan lalu terdengar suara tangis …… “Astaghfirullah.!!…tati…..benarkah kamu itu…?” tanyaku meyakinkan, “iya… ini aku gun…..maafin aku ya…” jawabnya disela suara tangis. “tati…….tati sayang…, kenapa menangis… ada apa sayang…….” ucapku menggebu gebu “tati….tati…..ohh….” suara tattie tak terdengar lagi lenyap ditelan suara hujan yang semakin deras, yang ada hanya suara…tuut…tuut…tuut.

Kupinggirkan mobilku dan berhenti dibahu jalan tepat dibawah jembatan fly over tol lingkar luar, aku berusaha menghubungi balik kenomor tadi, masuk tapi tidak diangkat, hingga terdengar lagi suara  tuut…tuut…tuut… Aku terus berusaha menghubunginya lagi berulang-ulang dengan perasaan yang gak karuan, namun tetap nihil…. “huhh…empatbelas kali sudah aku berusaha menghubunginya tapi tetap saja tidak diangkat….ada apa dengan tati…!?” gumamku. Berbagai pertanyaan mulai mengusik pikiranku, jantungku berdebar dan hatiku semakin gelisah gak menentu. Aku mencoba untuk tetap tenang dan menunggu. Hujan yang semakin deras mengguyur seakan ditumpahkan dari langit, seakan berusaha menutupi kekhawatiranku. petir pun tak henti-hentinya menyambar membelah pekatnya malam seakan tau akan gundah dan bingungnya hati ini. Lalu kucoba untuk mengirimkan pesan singkat ke nomor ponsel yang digunakan Tattie. “sayang…ada apa dengan dirimu, apa yang terjadi…..kenapa telponnya terputus…., kenapa panggilanku gak diangkat saying…..aku rindu sama kamu…. Aku mencintaimu…, tolong angkat teleponnya sayang, atau kalau kamu tidak mau ngangkat telponku, tolong jawab sms ini.” Empat kali pesan singkat kukirim, namun hingga 20 menit tetap tidak ada balasan….”.  Karena hari semakin larut, akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan, walau  sesungguhnya hati ini belumlah tenang, kuberharap semoga segera ada balasan pesan singkat darinya,.

Hampir tiga tahun terakhir aku kehilangan kontak dengan tattie, setelah terakhir kali aku bertemu dengannya di Surabaya. Beberapa bulan kemudian kedua nomor handphone  tidak bisa kuhubungi, demikian juga dengan nomor telepon rumahnya.Selama beberapa bulan aku berusaha mencari informasi darinya namun hasilnya nihil, aku bahkan sempat dua kali datang ke Surabaya namun tetap juga tidak membuahkan hasil, semua teman-temannya sudah kudatangi, mereka juga tidak dapat memberikan keterangan atau informasi yang aku inginkan, malah salah satu teman dekatnya yang seorang janda kaya mencoba merayuku.

 Aku mencoba untuk mengingat ingat, barangkali ada sikap atau kata-kataku yang membuatnya marah namun seingatku semua yang aku lakukan wajar wajar saja, bahkan selama dua hari terakhir aku bersama dia sebelum aku kembali ke Jakarta, terasa sangat indah dan Tattiepun sangat senang kala itu.

Terpaan air hujan yang sangat deras disertai angin yang sangat kencang membuat para pengemudi tidak berani memacu mobilnya diatas 60km perjam. Semua mobil berjalan perlahan karena jarak pandang kedepan sangat pendek dan berkabut.  Deru kerasnya air hujan yang menerpa kaca dan atap mobil menimbulkan suara yang sangat kencang, namun semuanya tidak dapat membantu membuyarkan pertanyaan demi pertanyaan yang memenuhi pikiranku, kupingku terasa tak mendengar apa apa. Yang masih terngiang ditelingaku adalah suara Tattie ditelepon tadi, hal ini menimbulkan penafsiran dan  praduga yang macam macam, aku menjadi sangat khawatir akan dirinya. Setelah sekian lama aku kesulitan untuk menghubunginya, sekarang dia menghubungiku namun hanya sebentar dan terputus. Hmm…..tadi kudengar dia meminta maaf…..ada apa ya..?? apa yang terjadi dengannya….??

Kenangan demi kenangan bersama tattie mulai menari-nari dikelopak mataku, teringat kembali saat bertemu Tattie  pada resepsi pernikahan Adhi keponakan mba Dessi beberapa tahun lalu. Semua begitu indah, apapun yang kita lakukan berdua terasa sangat indah.  Hingga sore hari saat aku mengantarkannya ke bandara, sejak berangkat dari hotel tempat aku dan tattie melawatkan satu malam terindah kami, sepanjang perjalanan hingga tiba di bandara, semuanya menjadi saat saat yang sangat manis, detik demi detik…menit demi menit tidak kami lewatkan sia sia begitu saja.

 Seminggu setelah tattie  kembali ke Surabaya, aku masih belum bisa melupakan sehari dua malam yang kulewatkan bersama dia. Tattie pun demikian, dalam sehari bisa empat sampai lima kali dia menelponku, baik aku maupun tattie ingin sesegera mungkin bertemu kembali. Kata kata rindu sayang dan cintapun selalu terucap manakala aku dan tattie saling telpon, ucapan ucapan manis selalu saja menjadi penghias kata kata.

Dia

Dia

Aku teringat akan pertemuan keduaku dengan Tattie, dimana dia nekad untuk datang ke Jakarta hanya demi menumpahkan keriduannya terhadap aku. Sebelumnya sih dia meminta aku yang datang ke Surabaya, namun karena kesibukan sehingga sangat sulit bagiku untuk mengatur waktuku dan atas nama cinta dan rindu, sehingga dialah yang datang ke Jakarta, datangnya pun tidak memberitahukan kepadaku dan tau tau dia nelpon aku dari sebuah tempat di Bogor.

Waktu  itu aku baru saja selesai meeting dengan para kepala bagian di kantorku,  sekitar dua bulan setelah pertemuan dengan Tattie di Resepsi Pernikahan Adhi.

Handphoneku berdering dengan nada dering yang berbeda dengan nada dering untuk telepon masuk lainnya, mendengar nada ini buru buru kuangkat telponnya dan betul saja, suara merdu dari seberang sana adalah suara merdu sang terkasih, Tattie.

( Sesungguhnya aku sendiri gak mengerti dengan diriku ini, aku sudah berumah tangga cukup lama, bahkan sudah dikaruniai empat orang putra dan putri, dan aku sangat mencintai mereka semua, aku sangat mencintai dan menyayangi keluargaku. Apapun akan aku lakukan untuk membela cinta dan kasihku untuk mereka, mana mungkin aku dapat  membagi cintaku untuk wanita lain. Istriku…!? Aku sangat mencintai dan menyayangi dia, orangnya sederhana, taat beribadah, tidak pernah meminta macam macam, juga tidak pernah membanding bandingkan ekonomi kami dengan orang lain. Dia tidak angkuh manakala kondisi ekonomi kami sedang baik, dan tidak mengeluh manakala roda kami sedang berada dibawah.  Dia tidak pernah meminta sepotong ayam goreng, manakala aku hanya mampu membelikannya sepotong tahu goreng. Dia tidak pernah meminta lebih dari yang bisa aku berikan, sehingga sangat tidak beralasan bagiku untuk menghianati cinta dan kasih sayangnya.

 

Tidak jarang aku terjebak dalam lingkaran cinta, dengan seseorang yang membuat aku lupa diri. Namun aku berusaha berontak dan berusaha melupakan semuanya, mengikis hingga hanyalah menjadi sebuah pertemanan. Aku juga pernah beberapa kali terjerembab kedalam pelukan wanita lain, namun kembali kekuatan cinta dan kasih sayang sang istri mampu mengoyak  tali kasih semu yang sesungguhnya terbentang dibibir jurang itu.   Tapi yang saat ini terjadi, aku sungguh sungguh tidak berdaya, aku seperti terhanyut dan dipermainkan gejolak asmara meski tidak membuatku lupa diri. Dan meskipun aku sadar bahwa saat ini aku sedang bermain api, namun aku tak memiliki cukup kekuatan untuk menghalau getar getar cinta untuk Tattie.)

Dua hari kami tidak saling telponan, karena aku sangat sibuk dan tattie juga mungkin tidak sempat. Namun dua hari saja tidak mendengar suara Tattie, rasanya sudah seperti setahun. Sehingga ketika Tattie menelpon, semua kata kata rindu langsung mangalir bagaikan air sungai yang deras.

“hai cantik, sorry aku dua hari ini sibuk banget sehingga aku gak sempat nelpon kamu, tapi engkau selalu berada dekat dihatiku kok….”

“aku…gak bisa menggambarkan rasa rinduku ini seperti apa gun…., kemaren aku sengaja tidak menghubungi…aku ingin menguji apa kuat atau tidak, bila sehari tidak menghubungimu….hihihi… ternyata semua yang aku lakukan menjadi hambar ” jawab tattie dengan nada sumringah.

“kamu tega banget sih…memang sengaja gak menghubungi aku ya…..awas ya…..kalo nanti aku kesurabaya akan kuciumin seluruh tubuh kamu dan gak aku lepasin sepanjang hari….hehehe…” ucapku menggoda,

“betul begitu….!? Betul begitu…!? Mau nyiumin seluruh tubuhku…..hihihi….”  jawabnya berkelakar…

“beeennneeerrr……sayang saat ini dirimu jauh diujung pulau jawa, seandainya dekat…..hmm….tau sendiri…” ucapku sambil berkelakar juga…

“gun….aku kangen sama kamu, kangeeennn banget…” ucapnya datar lebih serus dengan nama penuh harap.

“aku apalagi sayang…sejak terakhir kita bertemu, aku selalu teringat malam sebelum kamu pulang…” ucapku mulai serius juga… “aku rindu saat saat bersamamu sayang….”

“o ya….hari ini sampai jam berapa dikantor sayang..!?” Tanya Tattie lagi,

” lho emang ada apa…!? Tumben tumbenan nanya jam pulangku…!?” tanyaku agak kaget,

“gak apa apa sih…pengen tau aja….” ucapnya, ” pengen tau kalo pak menejer itu kalo pulang jam berapa….hihihi….”

Meski masih agak bingung dengan pertanyaannya yang gak biasa, namun tetap aku menjawabnya. ” aku hari ini gak sampe sore banget, paling sampe jam tiga…nanti aku mo ke puncak, kebetulan besok ada seminar dan semua peserta harus sudah cek-in sore ini…”

” oh!! kamu ada seminar ya…!? berarti sibuk dong….gak bis diganggu, O ya nanti di  mana seminarnya….!?” ucapnya dengan nada agak kaget.

Aku jadi semakin bingung, ” gak apa-apa sih…, kalo kamu mo nelpon, nelpon aja…., kan nanti aku bisa keluar sebentar…” ucapku menjawab kekhawatiran dia, “tempatnya seminarnya sih di Lembah Pinus Ciloto….” jawabku….. “setelah puncak……”

” Mmm…e..disana…e….seminarnya berapa hari say…?” tanyanya dengan nada terbata-bata….

” tiga hari sayang….nanti sampe hari jumat…..penutupannya sih nanti jumat malam..” ucapku lagi.

Cukup lama sih telponan sama Tattie, namun karen aku harus segera berangkat ke Lembah Hijau Ciloto, sehingga meski rasa rindu ini belumlah tuntas, namun pembicaraan segera kami sudahi.

Pukul 17’35 aku tiba di Lembah Hijau dan aku langsung menuju front office, setelah mendapat informasi dari petugas yang berada digerbang depan mengenai tempat penyelenggaraan seminar oleh Pemda Kabupaten Bogor.  Setelah cek-in dan mengisi daftar hadir peserta seminar, aku tidak langsung kekamarku. Aku ingin sejenak menikmati indahnya lembah disore hari kala kabut mulai menyapa ranting dan rerumputan disekitar hotel. Serambi loby yang menghadap ke lembah selatan sangat indah menikmati udara sejuk sore. Biasanya untuk penyelenggaraan seminar yang diadakan oleh instansi pemerintah seperti yang saat ini aku ikuti, peserta seminar diberikan fasilitas kamar dengan kapasitas 2 sampai 4 orang perkamar.

Pukul 18.00 saat adzan maghrib berkumandang, aku langsung menuju kekamarku yang sudah ditunjuk sesuai pembagian kamar saat cek-in, berada di paviliun timur. Setelah melintasi taman dan menyusuri jalan khusus penghuni yang membelah paviliun utara dan selatan, sampailah aku di paviliu timur. Kebetulan aku penghuni pertama dari tiga orang yang sekamar dengan ku, sehingga aku bisa leluasa memilih temlat tidur yang menurutku nyaman.

Setelah selesai mandi aku membereskan tas pakaianku agar pakaian yang kubawa tidak kusut, juga mempersiapkan pakaian yang nanti akan kupakai pada saat pembukaan seminar besok pagi. Karena suasan santai, malam itu aku mengenakan celana tiga perempat berwarna biru serta T-shirt berwarna merah bertuliskan ‘Thunder’ didada.

Aku baru akan menuju loby untuk bersantai manakala bel pintu kamarku berbunyi. ” perasaan gak manggil room service….? ” gumamku, ” apa temen-temen yang akan menghuni kamar ini juga yang baru datang…..!? “, aku berjalan kearah pintu untuk membukanya.

Rindu

Rindu

Setelah pintu terkuak, aku terperanjat dan terdiam beberapa saat. Seorang wanita cantik mengenakan celana black jeans dan dan mengenakan T-shirt berwarna putih serta dibalut jaket jeans berwarna hijau toska, berdiri didepan pintu dengan senyum yang sangat menawan.  Aku masih belum beranjak, ku coba melangkan pandanganku kearah lain lalu kembali lagi menatap kearahnya, tapi sosok itu masih ada. Aku coba lagi menggeleng gelengkan wajahku sambil mencubiti pipiku sekedar memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Sosok wanita yang berdiri diam didepanku malah semakin terpingkal pingkal, mungkin karena melihat sikapku yang sedang terbingung bingung. Dalam kebingungan itu tiba-tiba wanita itu langsungmenubruk dan memelukku sambil masih tertawa kegelian. ” tati……tati aku tidak sedang bermimpi kan….” ucapku yang nasih belum percaya sedang berada dalam pelukannya, “ini benar kamu tat….!?” . Tattie semakin terbahak-bahak melihat sikapku ” hahaha…..kamu sedang mimpi….bermimpi dipeluk sama bidadari dari kayangan…hahaha…” ucapnya kegelian..

” tati…..oh…aku rindu kamu……” ucapku sambil membalas pelukannya erat erat, “kapan kamu datang tati….!? Kok tiba tiba ada disini…!? ” ucapku setelah yakin bahwa sosok wanita yang tengah memelukku adalah orang yang sedang aku rindukan.

Beberapa saat kemudian, kami baru tersadar bahwa orang orang yang ada disana tengah memperhatikan kami sambil senyam senyum, aku langsung mengajak Tattie ke kamar. Aku menyadari kalau nanti dikamar tempat aku menginap, aku tidak sendiri, tapi ada dua orang lain lagi yang akan berada dikamar itu, sehingga aku segera mengajak tattie ke loby hotel setelah meletakkan tas pakaian tattie.

Aku dan tattie mengobrol hingga menjelang makan malam, setelah memesan kamar, aku mengambil tas Tattie dan beberapa potong bajuku, lalu mengantarkan tattie kekamarnya yang berada di area depan dekat dengan jalan yang mengarah ke gerbang masuk hotel. Tempatnya agak lebih tinggi dan berada dekat bukit sehingga memiliki point view yang sempurna, baik ke arah selatan maupun ke arah timur. Dari kamar tattie kami memesan makan malam, dan malam itu aku menginap bersama tattie.

 Seminarpun dibuka oleh Wakil Bupati Bogor, selain itu ada sambutan dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Jakarta, Kepala Kamar Dagang dan Industri, serta Kepala Kantor Wilayah Perindustrian Jawa Barat. Dan sesuai schedule untuk hari pertama ada tiga pembicara yang akan memberikan makalahnya. Setelah pembicara pertama selesai, sekitar pukul 11’40, menjelang makan siang aku keluar dari aula pertemuan dan mendatangi kamar tattie.

Tattie sudah hampir selesai berdandan ketika aku membuka pintu kamar, dan tidak  lama kemudian  Tattie pun sudah siap. Sebetulnya belum ada rencana yang pasti kami akan kemana, yang penting kami ingin pergi berdua. Mungkin tidak ketempat yang jauh, yah paling ke Rindu Alam untuk makan siang, sekedar menghabiskan waktu selama Tattie berada di Jakarta. Sebetulnya gak enak juga sih meninggalkan ruang seminar, meskipun seminar yang diselnggarakan oleh Pemerintah Bogor ini gratis namun panitianya hampir semuanya sudah kenal baik dengan aku.

Selama seminar berlangsung, praktis aku tidak menempati kamar yang disediakan oleh panitia, aku menginap bersama Tattie. Waktu kami tidak banyak untuk bersama, namun waktu yang sangat singkat itu semoga bisa sekedar membasuh kerinduan dihati kami.

Tak ingin berpisah lagi

Tak ingin berpisah lagi

“gun….apakah kamu punya rencana untuk kedepan…..” tanya Tattie di suatu malam saat kami sedang menikmati minuman hangat pengusir udara dingin yang menusuk tulang. Kami duduk disalah satu saung yang ada di area hotel, kami tidak duduk berhadapan tapi berdampingan. Tattie duduk bersandar kebahuku, tangan kanannya melingkar ke pinggangku. Sesekali dia mengusap-usap punggungku dan mengecup pipi maupun bibirku, atau terkadang dia memeluk tanganku kedadanya dan sesekali menciumi punggung tanganku. Sikap Tattie aku rasakan begitu hangat dan seakan kerinduannya belum terobati meskipun telah mendekapku sepanjang malam, terasa seakan dia tidak ingin melepaskan aku meski hanya sedetik.

” rencana…? Rencana apa maksudmu…..” jawabku bertanya.

” iya.., maksudnya rencana mengenai kelanjutan hubungan kita…..!? “

Aku kaget dengan pertanyaannya, namun begitu aku berusaha untuk tetap tenang dan seolah2 belum mengerti dengan maksudnya.

“maksudmu hubungan kita berdua…!? ” ucapku lagi,  ” tidak ada masalah kan…!? Tetap berlanjut dong……biasa aja kan…!?”

“gun….memang sih….kita dulu pernah sepakat bahwa kita tidak harus menghianati pasangan kita masing-masing…..tapi…..” tattie menghentikan kata katanya, dia melepaskan rangkulannya kemudian menatapku dalam dalam sambil menarik nafas….kemudian dia berkata lagi, “gun….aku bingung harus bagaimana….hh….disatu sisi aku tidak ingin menghianati cinta dan kasih sayang suamiku…..terlebih aku sudah memiliki dua orang putra dan putri….., sedangkan disisi lain aku tidak ingin…..ahh…!! Aku bingung….”

“tati….. aku harap kita tidak membicarakan hal itu lagi.., karena jelas kita sudah menghianati cinta pasangan kita masing-masing” ucapku penuh harap, “kita sama-sama sudah mengambil resiko besar dengan hubungan kita ini, jadi aku harap…..” aku belum selesai bicara, langsung dipotong oleh Tattie dengan nada datar namun agak keras. “kamu menyesali hubungan kita….!?”

“O bukan…bukan be….…”

“kamu menginginkan untuk menghentikan hubungan kita……dan ingin memintaku untuk tidak menghubungimu lagi….!? Dan memintaku sekarang untuk pulang ke Surabaya…..!?” kata kata Tattie yang begitu bertubi-tubi membuatku gugup dan menjadi seperti orang bodoh, dan memang aku jadi tidak dapat berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa terdiam menunggu sampai dia selesai bicara. Aku paham betul akan sifat Tattie yang agak keras, dan menginginkan agar kemauannya selalu dituruti.

Tattie menatapku tanpa berkedip, namun dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan bibir yang bergetar, dadanya naik turun dan suaranya agak bergetar. Aku tidak tega melihatnya seperti itu, aku langsung menarik tangannya lalu memeluknya, “tati……maafin aku sudah membuatmu menangus, bukan begitu sayang…..kamu salah pengertian, cobalah kamu tenangin dulu dirimu…..tarik nafas dalam dalam…..lalu perlahan hembuskan melalui hidung….” ucapku menenangkan dia. Tattie memang kelihatan mulai gelisah dan tidak tenang, meski aku sudah berusaha untuk menenangkan. Akupun masih belum bisa berkata apa-apa,  kucoba menunggu hingga dia tenang. Dalam pelukanku dia masih terus menangis, berulangkali aku menciumi keningnya, mengusap pipinya dan membelai rambutnya.  ” sama saja…kamu menginginkan….aku….mati perlahan….kalo kamu berencana untuk….meninggalkan cintaku….guun…” ucapnya terbata-bata disela isak tangisnya.

Cinta Sejati

Cinta Sejati

“sssttt….! Jangan bicara seperti itu sayang…, bukan itu maksudku yang sesungguhnya. Kamu tau….saat ini betapa aku seakan tak berdaya tanpamu,  mungkin kamu tidak percaya kalau aku katakan bahwa saat ini berdiripun hampir tak sanggup tanpa dirimu. Sehingga beberapa waktu lalu, meski hanya dua hari kita tidak telponan aku serasa ingin berteriak, tak sanggup menahan kerinduanku.” Sejenak aku melayangkan pandangan kearah gunung yang hanya terlihat melalui cakrawala, aku sempat selintas melirik kea rah Tattie, dan dia masih tertunduk. “Tati…. akupun sesungguhnya tidak ingin kehilanganmu meski hanya sekedipan. Aku sangat tersiksa dengan gelora rindu ini, yang setiap saat membakar jiwaku……aku ingin kamu tau, bahwa cinta ini sudah menjadi milikmu…. Dan kalau semua ini belum cukup untuk membuktikan cintaku, bila kamu mau sekarang juga aku akan mengajakmu ke penghulu…., aku akan menikahimu……”, ucapku sembari menatap serius wajahnya yang masih berlinang air mata. “kamu siap….!? Kita ke penghulu sekarang……!?”

Tattie berusaha menghentikan tangisnya, menyeka air mata dipipinya menatapku lalu dengan bahu terangkat dia berkata, “aku bersedia menikah denganmu kapan saja…..dan saat ini juga aku bersedia dibawa pergi kemana saja olehmu….., kecuali satu hal……”, dia menghentikan ucapannya, mimik wajahnya seakan ingin tertawa. “kecuali……, kecuali apa tati…..” tanyaku. “…..saat ini aku belum siap untuk menjadi wanita poliandri….” Ucapnya sambil menahan kegelian ketika menyebutkan kata poliandri.

“Naaahh….gitu dong……senyum dong……..hhmmm, kamu tau…!? senyum itu yang dulu membuat jantungku berdetak keras sekali ketika pertama bertemu denganmu di pesta adhi dulu….hehehe..” ucapku sambil menggodanya, “dan aku adalah pria yang sangat beruntung bisa mendapatkan cinta si pemilik senyuman itu….Alhamdulillah….”

“Guuunnn…..!! kamu jangan menggodaku terus doong…..!!” tukasnya sambil memukuli dadaku berulang ulang dengan kedua tangannya.

” Nah…! Pukulan ini juga yang pertama dihadiahkan ketika aku pertama menemuimu di hotel tempatmu menginap waktu itu….” ucapku lagi sambil berusaha menghindari tangannya….”

“Aahhhh gun….!! kamu terlalu ah!!  menggodaku terus….” wajahnya meringis manja, kemudian tersenyum…

” Nah gitu dong……itu baru tatiku…..” ucapku sambil memegang kedua pipinya, lantas memberikan sebuah kecupan di bibir dan keningnya.

“Tati……malam sudah larut sayang….., ayo kita kekamar….”, Tattie pun mengangguk lalu berdiri, aku meraih tangannya membantunya berdiri. Kami pun melangkah menuju kamar, Tattie merangkul pinggangku sepanjang perjalanan, seakan tidak ingin jauh dariku meski hanya sejengkal.  Aku merasakan betapa dia sangat menginginkan aku selalu berada disampingnya. Aku masih belum bisa memutuskan, bahkan gambaranpun aku belum tau harus bagaimana kedepan. Sikapnya membuat aku luluh dan tak berdaya, namun akupun tidak ingin kondisi ini diketahui oleh istri dan anak-anakku.

Kami berjalan menyusuri jalan menuju kamar, yang di-kiri dan kanannya dipenuhi kembang beraneka warna.  Dinginnya udara lembah yang semakin menusuk tulang tampak membuat tattie semakin merapatkan tubuhnya ke rangkulanku.  “gun….aku gak tau…, pesona apa yang ada pada dirimu.  Namun aku rasakan ada sesuatu yang ada pada dirimu yang tidak dimiliki Hengky yang membuat aku tidak dapat melupakanmu, ” ucap Tattie sambil melingkarkan tanganku kelehernya karena udara yang begitu dingin. Kabut yang sudah turun sejak selepas magrib, semakin memenuhi halaman hotel, membuat pandangan terbatas hingga lima sampai enam meter saja.  “sesungguhnya kepadamulah pertama kali hati ini tertambat, padamu pula aku pertama kali merasakan jatuh cinta..kamulah pria pertama yang membuat hatiku bergelora….., meskipun pada akhirnya kita menjadi teman…” lanjut Tattie lagi.  Memang Tattie pernah bercerita kalau dulu sesungguhnya dia pernah tertarik kepadaku saat pertama kali bertemu, saat masih di es em a dulu,  dia sudah jatuh hati padaku sejak pandangan pertama.

” aku juga sayang…..sayaaang banget sama kamu, sama seperti dirimu……akupun rasanya tidak ingin berpisah lagi denganmu, bahkan setiap kali aku memicingkan mata wajahmu tak pernah beranjak dari pelupuk mataku. Tapi…..masih ingatkah kamu akan janji kita berdua untuk tetap menyimpan serapih mungkin semua rasa ini disuatu tempat  terkunci dihati kita, dan hanya kita berdua yang menyimpan kuncinya untuk dibuka ketika kita bertemu….. Ini demi keutuhan rumah tangga kita masing masing sayang….”, Tattie lebih mengecangkan rangkulannya. Entah karena dingin, atau karena kata-kataku terakhir tadi. ” jangan lupa sayang….kan ada Randy dan Sisyil, anakmu yang cakep cakep, mereka masih sangat membutuhkanmu….juga Bram….., Hengky Bramantio suamimu yang sangat mencintaimu…”, lanjutku lagi sambil mengecup ubun-ubunnya.

“Itulah yang membuat aku bingung gun….tidak ada alasan bagiku untuk menghianati cinta stenley….dia pria yang baik…..penuh pengertian…..sabar…dewasa dan sangat perhatian terhadapku, bahkan hingga saat inipun dia masih memanjakanku……tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu gun….”, kata-kata penuh harap yang diucapkan terakhir membuat aku tambah bingung.

Tadi sewaktu di sawung,  Tattie sempat menanyakan rencana kedepan mengenai hubungan kita, apakah dia sudah berencana untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih serius….!? Bagai mana dengan suaminya…!? Kan statusnya masih menjadi istri orang. Poliandri….!? Rasa rasanya di Indonesia belum pernah aku mendengar ada wanita yang poliandri, apalagi kita sebagai pemeluk agama Islam. Ataukah….dia akan nekad menceraikan suaminya…!?  Tattie orangnya sangat keras dan aku tau itu, tapi aku tidak yakin dia akan melakukan langkah itu, apalagi aku tidak mendengar adanya permasalahan diantara mereka. Dan suaminya yang seorang pilot disebuah maskapai penerbangan luar negeri yang cukup ternama dinegeri ini, orang baik dan terhadapkupun orangnya asyik asyik aja tuh.  Memang sih… aku tadi sempat menantangnya untuk pergi kepenghulu….itu karena akupun sempat tidak bisa menahan gejolak hati dan emosiku. Oh….bagaimana jadinya bila diapun menerima tantanganku…..hahaha….sedangkan saat ini sudah larut malam, kemana aku akan mencari penghulu, dan kalaupun ada….apa mau penghulu menikahkan kami di tengah malam seperti ini…..weleeh weleeh nekad.

Aku menyadari, bahwa saat ini aku dan Tattie sedang dimabuk kepayang, sehingga lupa daratan…., lupa akan status kita berdua yang merupakan seorang suami dan seorang istri….., lupa akan orang orang yang masih mencintai kami dan sedang menunggu dirumah…., lupa akan norma norma agama yang membatasi antara aku dan dia sebagai seseorang yang sudah beristri dan bersuami …, namun….., semoga kami tidak akan lupa ingatan…dan menjadi gilaaa.

Bawalah aku pergi

Bawalah aku pergi

Aku memang sangat mencintai dia, aku sangat sayang dengannya, dan rasanya akupun ingin segera memilikinya seperti yang dia inginkan. Namun apakan aku harus melakukan poligami…!? Aku tidak mau seperti itu, aku tidak ingin beristri dua…tapi bagaimana aku menyikapi kondisi ini….

Pertanyaan pertanyaan ini yang berkecamuk dalam pikiranku sepanjang jalan menuju kamar bersama Tattie, yang masih nemplok merangkul pinggangku…… dalam hati aku berkata, “maafkan aku Tattie, aku sangat mencintaimu tapi tidak tau harus berbuat apa ….karena aku juga masih sangat mencintai istriku, juga anak anakku.”

Aku akan mengikuti arah langkahku, seperti alir sungai yang mengalir mengikuti liukan sungai, aku berharap semoga sungaiku bermuara pada satu tempat yang damai, apapun itu. Semoga Tuhan Yang Maha Esa menuntun arah langkahku kejalan yang baik, dan tidak melukai orang lain. Hanya padamu aku berserah, hanya kepadamu aku pasrah ya Tuhan, apapun yang engkau tentukan untukku, itu adalah yang terbaik.

 Langkah kami terhenti didepan pintu sebuah kamar, Tattie lantas mengeluarkan sebuah anak kunci dari sakunya dan membukakan pintu, sambil mengayunkan tangan dari bawah keatas laksana dayang dayang, dia mempersilahkan aku masuk “ silahkan masuk pangeran hatiku……..” ucapnya sambil senyum…

Continue to chapter 5

4 Tanggapan

  1. ga ada lanjutannya lg ya..😦

  2. Mana lanjutannya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: