Ceritaku

SEPENGGAL KISAH YANG TERTINGGAL

[ Karya: kissmeguntur ]

Chapter One

Ilustrasi

Ilustration designe by :
kissmeguntur & daniel auhlig

Sekitar dua Puluh tahun lalu, ketika aku masih duduk dibangku kelas dua sekolah menengah umum di kota kecil tempat aku dilahirkan, seperti pemuda lainnya akupun memiliki banyak teman. Teman temanku adalah orang orang dari berbagai kalangan, mulai dari anak petani, anak pedagang, hingga anak petinggi di pemerintah daerah termasuk anak dari kepala pemerintah daerah. Dari teman teman dilingkungan tempat tinggalku, aku mempunyai beberapa teman yang akrab dengan ku. Ada tiga orang sahabatku yang sangat dekat denganku, yaitu Tonny, Bambang, dan Tattie. Kami berempat yang rata rata memiliki hobby yang sama, yaitu musik. sehingga kami membentuk kelompok group vocal yang mempunyai rating cukup tinggi di daerah kami. Tidak jarang setiap ada festival group vocal, kami menyabet peringkat pertama, sehingga nama group vocal kami sangat dikenal disana.

Tonny

Tonny…tinggal tak jauh dari rumahku, saat itu dia adalah seorang mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, smester pertama. Postur tubuhnya lebih pendek dari aku, namun badannya kekar berotot seperti binaragawan. Ayah Tonny adalah seorang kepala desa di desa lain yang berjarak tiga desa dari desa kami. Rumah Tonny dekat dengan rumahku,  hanya berjarak lima rumah dari rumahku. Kelebihan Tonny adalah pintar memaikan gitar, khususnya melodi gitar dan dia bisa memainkan musik apa saja bahkan alat musik tradisionilpun bisa dimainkannya, di group vocal kami aku dan Tonny yang memainkan gitar.

Bambang

Bambang juga tinggal se-desa denganku, rumahnya berjarak kurang lebih lima ratus meter dari rumahku, Bambang masih duduk dibangku kelas dua sebuah sekolah menengah umum negeri. Ayah Bambang adalah seorang guru disalah satu sekolah menengah pertama disana. Kalau Tonny piawai dalam memainkan gitar dan alat musik lainnya, Bambang punya kemampuan dalam hal melukis. Dalam hal melukis, aku dan Bambang memiliki aliran yang sama yaitu natural. Dulu aku dan Bambang pernah membuka Gallery, disana kami mengajak pemuda dan pemudi yang mempunyai bakat yang sama untuk bergabung. Waktu itu cukup banyak pemuda maupun pemudi yang datang dan bergabung di sanggar atau gallery kami, baik yang berasal dari kampung setempat maupun dari kampung lain. Kemudian kami membuat karya maupun kreasi kreasi seni pajangan, pigura, lukisan dan beragam karya seni lainnya untuk kita jual, hasilnya cukup lumayan.

Tattie,

Berbeda dengan Tony dan Bambang yang sudah menjadi teman sepermainanku sejak aku masih duduk di bangku es el te pe, Tattie baru ku kenal sejak menjadi murid di es em U. Tattie tinggal tidak se-desa denganku, desa tempat tinggalnya berjarak dua desa dari desaku. Ayah Tattie adalah seorang jaksa. Tattie bersekolah di es em u yang sama denganku, dia adalah murid pindahan dari daerah lain. Karena harus mengikuti orang tuanya yang di pindah tugaskan, maka mau tidak mau sekolahnyapun harus ikut berpindah. Tattie duduk  dibangku kelas dua sewaktu bergabung kesekolahan kami, namun dia tidak sekelas denganku.

Tattie adalah gadis yang biasa biasa saja, seperti gadis desa lain pada umumnya. Aku tidak melihat adanya kelebihan yang menonjol dari dirinya, parasnyapun standard saja (tapi lumayan manis untuk ukuran gadis kampung seperti kampungku). Kalaupun ada yang lebih dari dirinya hanyalah karena warna kulitnya yang putih (bule), hidungnya yang mancung, rambutnya agak memerah dan wajah yang mencirikan wajah orang dari negeri paman sam, serta postur tubuh yang tinggi dan atletis (tinggi badannya hanya berbeda beberapa sentimeter  dibawahku).  Memang sih untuk penampilan, karena dia berasal dari keluarga yang tergolong berekonomi lebih dari rata-rata sehingga akan terlihat sangat menonjol bila berbaur dengan teman teman cewek yang lain. Disamping karena Tattie juga memiliki postur tubuh yang semampai dan atletis.

Masa kecil

Masa kecil

Tattie mulai akrab denganku ketika kami sama-sama mewakili sekolah dalam ajang Pekan Olah Raga antar Sekolah SMU/SMK se-kabupaten, yang waktu itu di ikuti oleh puluhan sekolah es em u  dan es em ka se kabupaten. Waktu itu Aku ikut di cabang atletik untuk nomor lompat tinggi, lompat jauh, lompat jangkit, lari seratus dan empat ratus meter putra, serta memperkuat (andalan)  team bola voli dan bola basket.  Sedangkan Tattie saat itu ikut dalam cabang atletik untuk nomor lompat jauh, lari empat ratus meter dan nomor lari marathon putri.

Nama Sekolah kami sebetulnya tidak diperhitungkan sama sekali oleh team dari sekolah lain, disamping karena hanyalah sebuah es em u swasta yang kecil, juga tidak banyak yang mengetahui akan sekolah kami, sehingga tidak patut diperhitungkan oleh lawan lawan kami. Dan kontingen kamipun bertanding tidak dengan target apa apa, sehingga kontingen kami yang berjumlah hanya tiga puluh empat orang bertanding hanya untuk ikut memeriahkan saja, apa lagi beberapa orang dari kontingen kami hanya memiliki kemampuan yang biasa biasa saja,  jauh dari lawan lawan kami.

Pekan olah raga antar SMU/SMK se-kabupaten pun di mulai, dengan mempertandingkan semua cabang.  Singkat cerita, usai perlombaan di hari ketiga, perhitungan perolehan medali sementara, diluar dugaan sekolah kami ada pada urutan ke empat. Dan masih menyisakan beberapa pertandingan serta lomba, termasuk beberapa cabang atletik yang aku ikuti serta final bola basket Putra yang kebetulan sekolah kami masuk untuk memperebutkan tempat ketiga, sedangkan di final bola voli putra dalam final nanti kami akan memperebutkan tempat pertama dan kedua dengan sekolah unggulan di kabupaten itu, yaitu es em u negeri satu, tempat Bambang bersekolah.

Dengan upaya yang sangat gigih dan melelahkan yang aku lakukan (karena aku menjadi motor di teamku) bersama team kami, akhirnya untuk cabang bola voli team kami harus puas di tempat kedua karena kalah dengan angka tipis dengan team bola voli es em u negeri satu. Sedang untuk cabang bola basket harus puas di tempat ke tiga setelah mengalahkan lawan kami dengan selih 3 angka.

Di cabang atletik, aku berhasil merebut medali emas untuk cabang lompat tinggi putra, lompat jauh dan lompat jangkit putra, medali perak untuk lari empat ratus meter putra, serta medali perunggu untuk sprint seratus meter putra. Tattie sendiri berhasil menyabet medali emas untuk lompat jauh putri, dan perunggu untuk lari empat ratus meter putri.

Selama pekan olah raga berlangsung, Setiap kali aku bertanding, aku selalu melihat ada Tattie (yang ketika itu belum aku kenal dekat) diantara teman teman sekolah yang memberikan support kepada team kami.  Apa lagi ketika aku berlomba pada cabang atletik, baik lompat tinggi, yang tinggal  menyisakan dua atlit, antara aku dan atlit dari sekolah lain, serta pada cabang lompat jauh dan lompat jangkit yang hanya menyisakan tiga dan empat atlit, diantara teman-teman sekolah laki dan perempuan bersama dengan beberapa guru guru kami, aku melihat Tattie pun hadir dan ikut memberikan support secara khusus terhadapku.  Ketika itu aku melihat Tattie tidak lebih dari hanyalah teman yang sama dengan teman yang lain dari sekolah yang sama yang ingin memberikan support buat team, dan waktu itu belum banyak yang aku ketahui mengenai Tattie, kecuali karena postur dan warna kulitnya yang berbeda dengan temen lain sehingga sangat terlihat menonjol bila dia berbaur dengan teman-teman putri yang lain, dan aku dengan dia adalah bintang di kelasnya. Aku suka mendengan teman-temannya sering memanggil dia dengan sapaan “si-bule”.

Dari sanalah akhirnya kami mulai sering ketemu lalu kami mulai berteman, sering betemu, sering ngobrol bersama ketika istirahat sekolah, suka bareng waktu pulang sekolah, suka nongkrong dan main gitar bersama, Sehingga lama kelamaan menjadi akrab.  Keakrabanku dengan dia meluas kepada Tonny dan Bambang setelah aku memperkenlkan Tattie kepada mereka. Tattie menjadi sering datang dan kumpul bersama aku Tonny dan Bambang, kebetulan Tattie memiliki sepeda motor yang saat itu untuk ukuran kampungku hanya mampu dimiliki oleh orang-orang berekonomi lebih.  Mungkin karena aku maupun Tattie memiliki jiwa yang supel, sehingga dalam waktu singkat aku dan Tattie menjadi sangat dekat, barangkali juga karena aku dan Tattie bersekolah pada satu sekolah yang sama, sehingga frequensi pertemuan aku dengannya relatif lebih sering, namun keakraban aku dan Tattie hanya sebatas teman, tidak bedanya keakrabanku dengan Tonny dan bambang, sehingga baik aku maupun Tattie tidak ada perbedaan dalam gaya berteman.

Tattie lebih suka dan lebih akrab denganku, ketibang Tonny dan Bambang. Suatu hal yang wajar barangkali mengingat aku adalah teman sekolah Tattie, sehingga ketika kita kumpul berempat, Tattie lebih sering berada didekatku. Awalnya Tonny dan Bambang pernah menyangka kalau Tattie itu adalah pacarku saat pertama kali aku memperkenalkan Tattie kepada mereka, aku ingat waktu itu hari minggu sekitar jam 11 siang dan Tattie sedang main kerumahku saat Bambang dan Tonny datang sambil menenteng gitar (memang hampir setiap hari minggu bilamana gak ada acara atau kegiatan, aku Bambang dan Tonny suka ngumpul dirumahku, dan kebetulan juga setiap hari minggu pagi mamiku sering membuatkan bubur cirihas daerah Minahasa/Manado yaitu “Tinutu’an” atau sering juga disebut Bubur Manado).  Aku dan Tattie sedang berada di serambi samping rumahku yang menghadap ke Timur, kami sedang bersenda gurau, ketawa-ketiwi.  ” Ton…, Bang.., kenalin neh temen sekolahku….namanya Tati…” ucapku, Bambang dan Tonny langsung menghampiri Tattie yang berada di sampingku dan menyalaminya, “Tati tinggal dikampung sebelah…..” tambahku lagi.

” Ini teman apa pacarmu Gun…..” tanya Tonny

” Temen hati barangkali…..” sambung Bambang sambil mesem. Memang sih sewaktu Tattie menyalami Bambang dan Tonny, tangan kirinya gak mau lepas dari tanganku, nyantel terus. Aku sendiri tidak menyadari kalau gaya Tattie terhadapku sepintas terlihat sangat mesra dan seperti orang yang sudah pacaran lama. ” Ah engga…..Tati hanya temen kok, kami satu sekolah….. “, ucapku menjawab pertanyaan mereka sambil melihat ke Tattie, dan Tattie manggut manggut, ” aku sama Gun hanya temen kok, kami tidak pacaran….” sambung Tattie.

” O ya….suaranya bagus lho Ton, kayaknya cukup memenuhi syarat untuk menambah personil group vocal kita. ” tambahku lagi.  Selama ngobrol, hingga mamiku memanggil kami untuk makan Bubur Manado, Tattie selalu berada disampingku, mamiku sempat nyelutuk ” walaaahh… si Tati…, nyantel terus ke si Gun…., nanti orang nyangkanya kalian pacaran deh…!”. Kadang secara selintas aku menangkap tatapan mata baik Bambang maupun Tonny, mencuri pandang terhadap aku dan Tattie, mereka masih belum yakin kalau aku dan Tattie bukan pacaran. Namun aku tidak terlalu perduli karena memang sama sekali aku dan Tattie tidak ada apa-apa, kecuali sebagai teman.

Aku sendiri meskipun mengagumi Tattie yang gayanya cuek dan ceplas ceplos, sifatnya yang kalau terhadapku sangat manja, kulitnya putih dan tinggi, gaya berpikirnya sangat smart dan dewasa.  namun dihatiku tidak ada rasa suka selayaknya rasa suka lelaki tehadap wanita,  sehingga kalaupun aku dekat dengannya hanya selayaknya pertemanan biasa aja.

Pertemanan kami terus berlanjut hingga kami duduk di kelas tiga.

*****

Aku dan Tattie berteman sudah hampir dua tahun, namun aku merasa sudah sangat akrab dengannya. Orangnya disiplin, cuek, manja, namun tegas. Hal ini yang membuat aku sangat suka dengannya, dan kebetulan diapun seperti yang dia katakan kepadaku bahwa baru kali ini memiliki teman seperti aku.

Aku tidak pernah cemburu tatkala ada cowoq lain yang yang menggandeng Tattie, demikian juga dengan Tattie yang kelihatan tidak tersinggung dan cemburu manakala aku bercerita tentang seorang ceweq yang sedang aku taksir. Yang terasa unik dari pertemanan kami adalah bilamana aku naksir seorang ceweq, aku pasti akan meminta Tattie untuk menilai si ceweq yang sedang aku taksir. Demikian juga Tattie, dia pernah meminta aku berkomentar mengenai seorang cowoq yang menyampaikan cinta kepadanya. Ini spontanitas, kami berdua tidak pernah bersepakat bahwa harus seperti ini. Mungkin aku dan dia sudah terhanyut dalam hubungan pertemanan yang sangat erat, sehingga yang ada hanya perasaan gak enak aja kalau tiba tiba datang membawa pacar dan memperkenalkan kepadanya, dan aku yakin diapun demikian.

Setiap orang yang baru melihat dan mengenal kami, pasti akan beranggapan bahwa Tattie itu adalah pacarku, bahkan ada yang berkomentar bahwa aku dan Tattie itu adalah pasangan yang sangat serasi (mungkin dari postur tubuh kami yang sama sama tinggi). Tanpa disadari kondisi ini berimbas kepada kehidupan pribadi kami masing masing, karena kalau ada ceweq yang akan aku taksir atau cowok yang menyukai Tattie pasti akan terkendala setelah melihat kedekatan kami. Kalaupun sempat berlanjut hingga berpacaran, pasti tidak akan  berlangsung lama. Tapi yah…apa mau dikata, bagi aku dan Tattie persahabatan merupakan hal yang utama .  Teman teman di sekolah semua sudah mengetahui bahwa meskipun dimana ada aku pasti ada Tattie, demikian juga sebaliknya, tapi  aku dan Tattie sesungguhnya tidak ada hubungan pacar.

Tattie bernah bercerita kepadaku bahwa Orang tua nya pernah bertanya mengenai kedekatanku dengannya, namun Tattie menjawab bahwa kami tidak ada hubungan apa apa kecuali teman biasa. Orang tuanya dan juga keluarga lainya, tidak percaya bahwa aku dengan dia hanyalah teman. ” masa’ cuma teman biasa….., wong aku sering lihat tatie kalo boncengan sama si guntur itu rangkulan begini kok….!? temen biasa bagai mana….!? ” demikian kata kata tantenya sambil memperagakan gaya boncengan sambil merangkul, (yang dikutip Tattie) waktu laporan kepada mamanya Tattie.

Ada juga yang seperti ini ” hati-hati lho mba.., aku lihat tati itu udah kebangeten pergaulane…, sering kumpul kumpul sama lelaki kok…!! apalagi sama yang anaknya lurah itu.., sering gandeng gandengan lho mba…….!!”, ucap teman arisan mamanya Tattie. “mereka itu hanya teman biasa kok jeng…..anaknya  lurah itu hanya temen tati kok…..” jawab mamanya, “lho kok temen..!? wong anakku bilang kalo disekolahan itu berduaan terus kok mba….temene’ anakku kan sekolahnya sama dengan mereka….hati hati lho mba, kalo gak dilarang dari sekarang….nanti  kebablasen……” ucap teman mamanya lagi.

sebagai teman

sebagai teman

Berbeda dengan orang tua Tattie, orang tua ku justru sudah tidak asing dengan sikap Tattie yang manja seperti itu  sering main kerumahku, dia sangat akrab dengan mami dan papiku, demikian juga abangku, sama seperti Tonny dan Bambang yang memang dirumahku méreka sudah menganggap seperti dirumah sendiri. Terhadap papi dan mamikupun mereka memanggilnya dengan sebutan mami dan papi juga, layaknya terhadap orang tua sendiri.  Kedua orang Tuaku dan keluarga lainnya sudah menganggap Tattie, Tonny dan Bambang seperti keluarga sendiri, Keluargaku sudah tahu bahwa aku dan Tattie tidak ada hubungan apa apa kecuali teman biasa, meskipun awal awalnya orang tuaku sempat bertanya mengenai kedekatanku dengan Tattie, karena melihat aku sering dengan dia. Sama seperti Tonny maupun Bambang, Tattie pun kalau sedang main kerumahku tidak segan segan masuk kekamarku, main gitar dan nyanyi nyanyi bersamaku, bercanda dan tertawa lepas, atau tidur-tiduran.

Pernah suatu ketika aku dan Tattie diundang ke sebuah pesta ulang tahun teman sekolah, Tattie datang menjemputku dengan sepeda motornya.  Aku punya kebiasaan yang buruk yaitu  jam karet,  sehingga dia sering kesal ketika sampe dirumahku, aku belum siap….bahkan mandipun belum.  Dan inilah salah satu yang aku suka dan kagumi dari sifat Tattie, adalah orangnya disiplin apalagi terhadap waktu.  Untuk sebuah janji, dia selalu on-time. Sehingga tidak heran kalau dia menjemputku lebih awal, karena dia tau kalau jam dinding yang ada dikamarku itu adalah waktu indonesia bagian karet.

Waktu Tattie melihat aku masih duduk duduk main gitar dikamarku, dia kesel lalu menyeretku kekamar mandi sambil mengomel seperti nenek nenek kehilangan sirih.  Setelah aku masuk kamar mandi (dikamarku), sambil mengomel dia menungguiku didepan pintu memastikan aku langsung mandi atau tidak.  Pintu kamar mandi yang dikamarku memang tidak ada daun pintunya, sehingga gerutuannya terdengar menggema dikamar mandi. Saking kesal, sambil mandi aku sengaja bernyanyi nyanyi dengan suara yang kenceng agar dia bertambah kesel dan berlalu dari depan pintu kamar mandiku.  Namun ternyata dia tidak terpengaruh, malah mematung didepan pintu.  Sesekali secara selintas matanya menatap kearahku dan memperhatikan aku dari atas sampai kebawah, namun sepertinya aku tidak ada perasaan risih diperhatikan olehnya.  Hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi, sehingga rasanya baik aku maupun dia sudah biasa. Aku sendiri tidak tau kenapa seperti ini, apakah karena aku menganggap dia sama seperti  Tonny atau Bambang maka kehadiran dia seperti itu tidak membuat aku risih, karena meski dia teman yang akrab denganku tapi dia kan seorang wanita mestinya aku malu. Pertanyaan ini  hingga kini belum aku temukan jawabannya …!?.

Sekali waktu Pernah Tattie terjatuh dari sepeda motornya ketika oleh ibunya diminta membelikan sesuatu dipasar, yang berjarak kurang lebih dua kilometer dari rumahnya. Dia bercerita kepadaku perihal kecelakaan itu, memang tidak parah sih hanya kecelekaan kecil saja, dan dia menceritakan semuanya termasuk menunjukkan luka lukanya dan aku memlihat ada luka lecet dilutut kiri, mata kaki dan sikut sebelah kiri.  Menurutnya disamping luka luka lecet, dia juga mengalami luka memar dibagian tubuh yang tertutup, yaitu didada dan paha. Dia lantas tanpa malu malu memperlihatkan luka memar di dada sebelah kiri persis disamping payudara kirinya, tidak sungkan sungkan dia mengangkat t-shirt nya dan menyingkap bra-nya (bukan mencopot) untuk memperlihatkan luka memarnya, yang menurutnya terbentur stang motor. Bukan hanya sampai disitu,  Kemudian dia membuka celananya untuk memperlihatkan luka memar yang ada di pangkal paha kanan bagian depan, yang terganjal bagasi tengah motornya, posisi luka memarnya memang tidak dekat ke alat terlarangnya, tapi karena dia mengenakan celana jeans, sehingga dia harus melorotkan celananya sebatas paha untuk bisa menunjukkan luka memarnya. Akupun tidak segan segan menyentuh untuk memeriksa seberapa parah luka memarnya, membuat dia meringis kesakitan.

Belakangan ini aku berpikir,  bahwa Aku  aku ini masih tulen sebagai pria normal, yang sudah barang tentu menyukai lawan jenis, dan sebagai pria normal pasti akan bereaksi ketika melihat pemandangan seperti itu.  Apa lagi pada kulit tubuhnya yang putih dan mulus, setidaknya dada akan naik turun dengan ritme detak jantung akan meningkat tak beraturan.  Tapi tidak terhadap Tattie, aku sama sekali tidak merasakan apa apa kecuali khawatir dan fokus kepada luka memarnya.  Memang sih, aku tidak memungkiri bahwa ketika memeriksa luka memarnya, secara tidak sengaja mataku sempat nyelonong kesana kemari, buktinya aku mengetahui letak luka memarnya secara detil dan seberapa dekat posisi lukanya dengan organ organ terlarangnya, dan terus terang saja aku memang sangat mengagumi kulitnya yang putih dan mulus. Tapi setelah itu aku tidak pernah mengingat ingat atau membayang-bayangkannya lagi.

Pernah terlintas dalam pikiranku bahwa jangan jangan Tattie adalah type wanita yang menyukai sesama jenis. Tapi… dari gaya dia berdandan sehari-harinya, penampilannya selayaknya seorang wanita koq, sama seperti teman teman wanita lainnya, menggunakan bedak, lipstick, memakai rok ketika dia harus menggunakan busana rok atau dress terusan. Dan dari obrolannya pun, tak jarang dia bercerita tentang kekagumannya terhadap salah seorang teman prianya, dan terkadang diapun memintaku untuk mecari informasi mengenai pria tersebut. Ini kan sebuah fakta bahwa dia adalah wanita normal yang juga menyukai lawan jenisnya. Tapi kenapa…….!?

Hal ini sering mengganggu pikiranku, kenapa sikap Tattie terhadapku begitu  polos. Hingga akhirnya Suatu ketika, aku  bertanya kepadanya ketika aku lagi berdua dengannya dirumahku, “Tat, sorry ya aku mo nanya neh…, tapi kamu jangan marah ya… ini hanya sekedar menghapus rasa penasaranku saja dengan hal-hal yang sering datang  menghantui pikiranku beberapa hari belakangan ini… . “Tattie mengguk dan memperhatikanku dengan penasaran. “Kita ini kan sudah berteman cukup lama, ya kan…, dan aku rasa hingga saat ini antara kamu sama aku boleh dikatakan tidak ada jarak lagi barang sejengkal yang membatasi perbedaan bahwa kamu itu ceweq dan aku ini cowoq….”.

“ maksudnya gimana…..!? ” tanyanya penasaran.

“ ya iya, maksudku selama ini meskipun kita ini bersahabat dan sudah sangat akrab, tapi kita tau bahwa aku ini pria dan kamu itu wanita, namun selama ini seakan tidak ada lagi berbedaan pria wanita dalam gaya pertemanan kita, ….…”

“ terus..…!? ” sambungnya datar

“…..Mmhh……beberapa hari belakangan ini aku seperti baru tersadar bahwa pertemanan kita berdua sepertinya agak beda dengan pertemanan kita terhadap Bambang atau Tonny, maksudku meskipun kalo kita lagi ngumpul kadang kadang kita berempat makan dipiring yang sama, tapi pasti aku selalu mengutamakan kamu, begitu juga kamu. Iya kan……!? ” aku menatapnya sebentar untuk memastikan bahwa dia menyimak dan mengerti maksudku.  “ Tapi pernah gak tersirat dalam pikiranmu…, atau dalam hatimu…. bahwa ada rasa suka terhadapku, atau lebih jelasnya…,  kira-kira kamu pernah gak merasa bahwa ada cinta dihatimu untuk aku…!?”

“ Lho…, pertanyaan kamu aneh banget sih gun…!? “ katanya dengan wajah penuh keheranan, tapi lama lama raut wajahnya berubah senyum lalu mulai tertawa kecil,  sekarang giliran aku yang bingung melihat sikapnya.   “ hayoo….kamu mulai  jatuh cinta sama aku ya…….!? ” katanya dengan tersenyum sambil mengacung ngacungkan telunjuknya..… “ kamu mulai  jatuh cinta sama aku ya……!? “ kata kata itu terus di ulang sambil berusaha menjewer kupingku karena aku berusaha menghindar.

“ Tattie…, aku memang mencintai kamu…, “ kataku terputus karena langsung di potong olehnya…“ Tuh..kan….tuh kan….” Katanya sambil mencubit perutku..…“ Denger dulu Tattie… aku Belum selesai bicara…., diam dulu dong….” ucapku dengan nada lebih serius.

“ ya udah terusin……aku bingung sama kamu…., “ katanya lagi sambil duduk kembali.

“ Tattie…, aku memang mencintai kamu, tapi cintaku hanyalah sekedar cinta seorang sahabat, dan bukan cinta seorang kekasih…” kataku penuh keseriusan dan dengan nada yang sangat dalam… “ …makanya aku nanya sama kamu…, perasaanmu gimana….!?? “

Sejenak Tattie menatapku… dia menatapku dalam dalam, lalu dia tertunduk.  perlahan dia berkata  “ Gun…! Terus terang…., sejak selesai pekan olah raga es em u dulu….awal awal aku kenal denganmu …memang pernah terbit rasa suka dan cinta terhadapmu dihati ini…., dan  itu asli…… bahwa itu adalah rasa cinta dengan penuh harap sebagai seorang wanita terhadap pria dambaannya……..” katanya sambil masih tertunduk,  setelah menarik nafas dalam dalam, seakan mengumpulkan keberanian untuk berbicara apa adanya diapun melanjutkan dan aku terus menyimak.  Sejenak dia mengangkat wajahnya menatapku. “ aku sangat kagum kepadamu…., aku kagum dengan kemampuanmu di atletik….., aku kagum dengan semangat dan kegigihanmu saat bertanding……., dan aku Sangat suka dengan gayamu yang cuek…., aku suka dengan gaya bicaramu yang ceplas ceplos….., aku Sangat senang bila melihatmu memetik gitar dan bernyanyi…… aku senang mendengar suaramu ketika bernyanyi…., aku sangat suka dengan semua tentangmu….., aku bingung…. perasaanku gak karuan……, lantas aku menyadari dan berkata dalam hati…… mungkin inilah yang namanya cinta…, karena hatiku benar-benar telah tertawan olehmu.  aku telah jatuh hati kepadamu…aku telah jatuh cinta kepadamu”,  Tattie memalingkan wajahnya menatap hijau dedaunan diluar sana mencoba untuk mengingat ingat lagi……….lalu  “ tapi waktu itu  aku tidak tau bagai mana cara menyampaikannya kepadamu…, aku tidak tau harus berbuat apa, ini adalah yang pertama

warna

warna

kali aku jatuh cinta kepada seorang pria…, dan waktu itu aku putuskan bahwa aku  harus mengatakannya kepadamu apapun resikonya, agar dada ini tidak sesak terhimpit perasaanku, aku tidak perduli kamu punya perasaan yang sama terhadapku atau tidak,  tapi…….  aku tidak punya cukup keberanian untuk itu,  Aku hanya bisa tertunduk bingung… …” tampak dia menjadi  salah tingkah , sambil berdiri dan melangkah ke sisi jendela dia melanjutkan lagi,   “kemudian aku memutuskan untuk menyimpannya dalam hati saja…., saat itu aku berpikir…bila memang dia juga memiliki perasaaan cinta untukku, atau setidak tidaknya punya perasaan yang sama denganku….biarlah waktu yang akan membuktikannya…” dia menarik nafas lalu membalikkan tubuhnya…. dan kembali melangkah kearahku.  “ dan waktu itu aku merasa bahwa keinginanku sudah terkabul, meski baru sebatas bisa dekat denganmu dan menjadi teman, namun aku sudah senang,  walaupun  aku tetap berharap bahwa semoga suatu saat nanti, aku akan mendapatkan hati dan cintamu.”  dia menghentikan kata katanya, masih tetap tertunduk dia melanjutkan lagi ” terus terang…, aku belum pernah mencintai dan jatuh hati terhadap seorang pria sungguhpun banyak pria yang suka terhadapku. Sehingga aku masih sangat buta untuk hal hal seperti ini…..,  Tapi….. setelah aku berteman denganmu cukup lama… apa lagi setelah kamu memperkenalkan aku kepada bambang dan tonny, merasakan arti persahabatan yang sesungguhnya, baik dari kamu maupun dari bambang dan juga tonny…, lambat laun perasaan itu mulai hilang….berganti dengan rasa suka dan sayang sebagai seorang teman…., sebagai seorang sahabat…..” katanya sambil memandang sumringah dan tersenyum kepadaku.

“Apakah,  saat ini masih tersisa cinta untukku….? “ tanyaku menggoda?

dia hanya memandangku tanpa menjawab….dan tanpa ekspresi apa-apa

“ terus…, sekarang gimana perasaanmu terhadap aku…?” lanjutku lagi

“ Tuh kan….kamu mulai menggodaku deehh……” sambil melempari bantal kursi kearahku,  “ aku masih tetap mengagumimu Gun…., dan aku tetap menyayangi kamu.., sebagai seorang sahabat yang sangat dekat.” Dia berjalan kearahku dan duduk tepat didepanku, ditempat duduknya semula… “ gun… kamu kan bisa lihat kalo diantara kalian bertiga sahabat sahabat dekatku, aku selalu mengutamakanmu….,  mendahulukan kamu…, bukan karena aku memperlakukan sahabat sahabatku dengan tidak adil, tapi karena aku merasa lebih dekat denganmu“,  dia mengambil bantal kursi yang tadi dilemparkan kepadaku, dan meletakkannya di pangkuannya, lalu  “ kadang aku suka bertanya dalam hatiku sendiri, apakah sikapku kepadamu selama ini masih murni sebagai sikap seorang teman…? Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku memang menyukaimu hanya sebagai teman, dan sebagai seorang sahabat aku berusaha untuk selalu tulus untuk menjadi  sahabat yang  sejati “ lalu dia menarik nafas dalam dalam….

Sejenak suasana menjadi hening, Tattie terdiam dan akupun ikut larut dalam keheningan. Setelah menyulut sebatang rokok kretek, aku berkata lagi “ Oke…ada satu hal lagi…, kamu kan pernah beberapa kali menungguiku mandi.., pada saat itu ada gak suatu perasaan yang….yah istilahnya…maaf maaf ya… kamu merasa deg degan gak ketika melihat aku dalam keadaan bugil…!?”

“ o..o….kamu baru tersadar dan mulai merasa risih ya…..!? udah telat gun…., aku sudah melihat bagian bagian tubuhmu yang menjadi modal kamu…hi..hi..hi..” katanya sambil tertawa tertahan…. Lalu “ koq jadi ngomongin  itu sih….!? “

“ lho bukan begitu tattie…. Aku hanya ingin mengukur aja…., apakah kita memiliki kesamaan dalam memperlakukan sahabat, baik dalam hal perlakukan maupun dalam hati…” aku melihat perubahan drastis di wajah tattie.“ Aku juga kalo sama tonny atau bambang kan gak gitu gitu Amat sih…., kecuali sama kamu…” selanya…” gak tau deh…, kadang kadang aku suka gak suka sih sama gayanya bambang, apalagi tonny….. jadi terkadang suka kesel aja kalau mereka suka nyepelein aku, hanya karena aku ini ceweq sendiri..….aku tau… kalo selama ini kadang-kadang mereka suka gak seneng kalo aku ikut nimbrung ketika kalian lagi kumpul kumpul, seakan kehadiranku merusak suasana ” Sambungnya…., sambil mengangkat wajah dan menoleh kearah lain dia berkata, ” Mudah-mudahan sih aku salah…., tapi aku merasa kalo ada diantara mereka yang gak suka akan kedekatan kita…..”

“ Ah..! mungkin itu hanya perasaanmu aja…udah gak usah menjadi beban pikiranmu. Gini lho tat…, kadang kadang kan kita kalo lagi nyanyi nyanyi dikamarku, kamu suka bersandar ke punggungku….atau berbaring di pahaku…, terus kalo lagi boncengan motor kamu juga suka ngerangkul…. Kadang kalo ……” aku belum selesai bicara langsung di potong eh Tattie.   “ O gitu…. Kamu gak suka ya…!?….risih…!?…..sorry deh kalo gitu…., mungkin aku ini orang yang gak tau diri dan gak tau malu……!!? ” potongnya dengan wajah yang terlihat kesal lalu dia berdiri dan membelakangiku…

“ lho…..?? bukan begitu……, intinya bukan itu…..denger dulu dooong. ”  Potongku buru buru sambil menarik bahunya  untuk duduk kembali.

“ memangnya kamu selama ini gimana…? Kalo giliran aku yang bawa motor, kamu juga suka meluk aku dari belakang, kamu juga pernah melotot sewaktu melihat aku ganti baju saat kita habis berenang dipantai  dulu……. tapi aku gak pernah komplein.” ucapnya ber api-api

“Tattie….aku bukan komplein,  justru hal itu yang ingin aku bahas dengan kamu…….., semua kejadian kejadian yang barusan kita omongin tadi, yang belakangan ini sering merasuki pikiranku…., padahal sebelumnya gak begini…gak pernah” kataku meyakinkan

Aku menatap wajah tattie yang nampak menjadi seperti orang kebingungan. “Gun…., saat ini kalau boleh terus terang, aku hanya ingin……dan aku sih  berharap semoga apa yang aku rasakan saat ini, sama dengan yang kamu rasakan…..”, dia menghentikan sejenak lalu memandang kearahku. ” dari tadi kan kamu terus menanyakan kepadaku perihal cinta. Terus terang aku masih merasa ada cinta dan sayang untukmu di hati ini….., ” ucapnya dengan nada sangat serius dan dengan tatapan tajam kerarahku tanpa berkedip, lalu ” dan aku berharap….sangat  sangat berharap semoga saat ini kamupun memiliki perasaan yang sama…..” suaranya mulai bergetar dan terhenti, sejenak aku terperangah kaget hingga tidak dapat berkata apa2. Setelah mengumpulkan kekuatan dan keyakinan, aku baru akan bertanya namun keduluan olehnya, masih dengan sikap yang serius. ” tapi….tapi cintak dan sayangku terhadapmu….adalah cinta seorang sahabat gun….maafkan  aku…!? ” terakhir wajahnya menjadi sangat memelas, aku belum tahu pasti apa yang ada dihatinya, namun aku berharap bahwa apa yang di ucapkan barusan adalah benar benar dari lubuk hatinya, dan bukan karena malu, tersinggung, atau gak suka dengan pembicaraan ini. ” sesungguhnya aku berharap kehadiranmu disisiku adalah sebagai pendamping dan kekasih hatiku, tapi setelah kupikirkan lagi…., pacar bisa saja putus kapan saja……, namun persahabatan akan abadi dan kekal, sehingga aku memilih untuk menjadi sahabat saja…., dan aku berharap kamupun memiliki perasaan yang sama Gun…..”, Tattie menghela nafasnya dalam dalam, seakan baru saja melepaskan sesuatu yang mengganjal dihatinya. Lalu diapun tersenyum kearahku, ” hal ini telah aku pelihara cukup lama agar aku bisa menjadi sahabatmu yang baik. ” dia tersenyum lagi lalu berkata ” makanya kalau aku melihat kamu bugil pun aku tidak ada perasaan apa-apa, hihihi……gak tau deh kalau kamu…..untung kamu gak pernah melihatku bugil…ghihihi….” dia makin kegelian.

” siapa bilang aku gak pernah melihatmu telanjang, ingat gak sewaktu kita membantu di rumah Yeni saat malam pernikan kakaknya…” ucapku sambil mengacungkan telunjukku ke wajahnya…. 

galau

galau

” waktu kamu mandi dikamar mandi di kamarnya yeni, kan handuknya ketinggalan ditempat tidur, lalu kamu teriak teriak memanggil manggil yeni untuk mengambilkan handuk, tapi karna yeni nya sedang berada diruang depan, kamu kan akhirnya meminta aku untuk mengambilkan handuknya kan…!? Makanya aku bisa melihat tubuhmu karena kamu sambil menanyakan keberadaan yeni ketika aku menyodorkan handuk, wong kamu sendiri aku lihat biasa biasa aja dan gak berusaha untuk menyembunyikan bagian depan tubuhmu…, yah…bebalik keq atau tutupin kek atau gimana gitu……he..he..he..”

“e..e..…kamu sengaja melototin tubuhku ya…..” potongnya, “sebetulnya sih engga….., bukannya aku sengaja untuk melihat kamu lagi tanpa busana…., emm… hanya secara spontan aja…… tadinya aku gak nyangka kamu sedang dalam keadaan telanjang, begitu ngeliat….ala mak….putihnya…..itu aja….aku tidak sampai negasin banget…..he…he…he…” ujarku sambil tertawa kecil namun menggebu gebu.  Lalu aku  mencoba mengingat ingat lagi bahwa memang pada saat itu aku sama sekali tidak merasakan apa apa. Padahal sebagai seorang remaja yang normal harusnya ada perasaan deg deg-an ketika melihat pemandangan seperti itu.  Dulu Aku pernah memergoki teman teman cewek yang sedang mandi disungai, sewaktu mengikuti perkemahan pada saat sekolahku mengadakan pelatihan dan pelantikan pandu pramuka yang akan mewakili sekolahku ke Jambore Pramuka se-Propinsi. Waktu itu karena mendapat tugas untuk menyampaikan sesuatu berupa daftar laporan kepada Kakak Pembina kami yang bertugas diarea perkemahan putri, maka sebagai anggota pandu yang mendapat kepercayaan untuk tugas itu, aku segera berangkat menemui Kakak Pembina yang dimaksud.  Area perkemahan pandu putri yang jaraknya terpisah cukup jauh dengan perkemahan pandu putra karena harus mengitari sebuah bukit kecil yang berada di sebelah utara Perkemahan pandu putra, dan untuk mencapai area perkemahan pandu putri harus ditempuh dengan berjalan kaki selama lebih kurang dua puluh lima hingga tiga puluh menit.  Seratus lima puluh meter menjelang Pintu Gerbang area perkemahan pandu putri terdapat jembatan kayu yang panjangnya sekitar lima puluh meter dan tingginya belasan meter, membentangi sebuah sungai pegunungan yang cukup lebar dan dipenuhi dengan batu batu berukuran sebesar mobil.  Untuk memperpendek jarak dan mempersingkat waktu aku mengambil jalan potong yang pernah aku ketahui dari kakak pembinaku, yaitu melalui lereng bukit sebelah selatan perkemahan pandu putra, kemudian turun menelusuri tepi sungai lebar tadi sekitar tiga ratus meter sampai pada sebuah jembantan gantung yang tiang tiang penyangganya cukup tinggi dan panjang, barulah menyebrangi sungai karena disana banyak batu besar yang bisa menjadi pijakan penghubung kedua sisi sungai tersebut, lalu naik melalui celah batu yang paling besar dan munculnya beberapa meter sebelum gerbang sebelah selatan atau pintu empat area perkemahan pandu putri. Ketika menyebrangi sungai tadi, pada batu terakhir yang aku lompati ada sebuah batu sebesar bus kota yang sisinya rata menyerupai tembok bangunan, dan ketika aku baru akan mengitari batu tersebut untuk naik kesisi sungai, secara tidak sengaja aku melihat ada empat orang wanita (yang kebetulan dua orang diantara mereka, berasal dari sekolahku) sedang mandi persis di sisi lain dari batu besar tadi. Mereka berempat yang semuanya hanya mengenakan celana dalam saja, sambil bercanda canda tanpa menyadari kehadiranku yang hanya berjarak empat sampai lima meter dari mereka dan hanya terhalang oleh seonggok sampah akar akaran serta ranting dan batang batang pohon hanyut yang tersangkut diantara bebatuan. Dari tempatku berdiri sangat jelas pandanganku kearah mereka, perempuan yang pertama berada persis disamping dinding batu yang besar dan airnya agak dalam hingga merendam tubuhnya sampai ke batas dadanya (dibawah payudara) sehingga payudaranya sangat jelas terlihat, yang seorang lagi duduk dibatu agak kepinggir sambil mencuci bajunya, dan yang dua orang lagi sedang asyik bercanda saling mengguyur dan tertawa lepas ditempat agak kepinggir yang airnya hanya sebatas paha. Melihat pemandangan seperti ini, dadaku langsung berdebar keras sekali sampai sampai lutut dan tanganku gemetar, terasa batu tempat aku berdiri seakan bergoyang goyang. Tidak lama aku berada disana, hanya sekitar lebih kurang lima menit, dan aku langsung balik lagi untuk memutar kemudian naik dari sisi agak ketimur yang berjarak lebih kurang sepuluh sampai lima belas meter dari tempat itu, karena tidak banyak batu batu yang bisa kujadikan tempat untuk berpijak, mau gak mau aku harus turun ke air yang ternyata agak dalam dan arusnya cukup kuat, membuat seluruh celana dan kemeja bagian bawahku basah.

Ada perbedaan yang aku rasakan ketika melihat pemandangan empat wanita tadi, dengan ketika aku melototi tubuh Tattie pada saat dia dalam keadaan tanpa busana, tidak ada sensasi dan gemetar seperti pengalamanku disungai tadi.

“sebetulnya jawaban yang kamu inginkan dariku adalah bahwa aku mencintaimu dan rindu kepadamu atau gimana…..?” ujarnya dengan suara datar.

“Lho…. Kamu gak ngerti ya…..” kataku meyakinkan.

“iya…iya…tau…….” Katanya, lalu… “kalo aku ngomong yang sebenarnya yang ada dihatiku……kamu marah gak….!??”

“lho… kenapa aku harus marah…..?” jawabku,  “justru aku ingin kamu ngomong yang sejujurnya apa yang ada dihati kamu, ini penting lho Tat…untuk kelanjutan persahabatan kita….”

“oke deh..…. selama ini kenapa aku gak pernah merasa malu sama kamu, karena…terhadapmu aku merasa bahwa kamu itu adalah sahabatku yang….., aduh….!!? gimana sih cara ngomongnya….aku gak tau deh… tapi……. aku hanya merasa bahwa… tidak perlu mali terhadap kamu, karena kamu itu …..ahh! … aku gak tau deh…….aku gak tau gimana ngejelasinnya….. yang pasti terhadapmu aku sama sekali gak merasakan apa-apa,  jangan-jangan aku ada kelainan ya….!?? ” dia menatapku dalam dalam…lalu berkata lagi “gun…..” terdengar suaranya sangat berat dan tertahan..” maafin aku ya…kalau ternyata apa yang aku katakan ini, bukanlah jawaban yang kamu inginkan….” Ucapnya lirih, “aku mohon kamu jangan membenci aku …..hanya karna….” aku langsung menarik dan memeluknya erat……erat  sekali….dan ini bukanlah pelukan sebagai seorang pria yang sedang jatuh cinta terhadap wanita, tapi pelukan itu adalah pelukan seorang teman terhadap sahabatnya.

“Sssstt…..tatie……” aku berusaha menenangkannya “..tattie dengar…..kalaupun aku menanyakan semua ini, bukan karena aku menginginkan jawabanmu adalah bahwa kamu mencintai aku…..kan tadi udah aku bilang bahwa aku juga sama sekali tidak ada perasaan cinta terhadapmu…..ee….maksudku aku sayang sama kamu…, tapi hanya sebagai

terpana

terpana

teman dan bukan sebagai seseorang yang mengharapkan balasan cinta….bukan..” kataku meyakinkan ” aku memang memperlakukanmu berbeda dengan Tony dan Bambang…, hanya karena kamu adalah seorang wanita….itu saja…” dari wajah tattie, aku melihat ada perasaan lega dihatinya “aku juga menganggap kamu bukan sebagai seorang perempuan yang ingin kucintai sebagai mana perempuan lain, tapi sama seperti temen temen kita yang lain…toni atau bambang..” dia mengangkat kepalanya dan akupun melepaskan pelukanku. “tattie….justru jawaban ini yang Sangat aku harapkan, tadi aku malah takut….aku takut kalau selama ini ternyata kamu telah jatuh cinta terhadapku……aku gak ingin persahabatan kita ini terburai hanya karena sebuah perasaan cinta…”

“gun…aku pernah bilang sama kamu…. Bahwa dulu aku memang sangat  mengagumi kamu…, dulu aku sangat ingin merebut hatimu….., dulu aku sangat ingin menjadi orang yang dekat dihatimu….” Ucapnya perlahan.. “tapi setelah kita berteman…rasa itu tiba tiba hilang dan cukup lama aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku suka sama kamu hanya  sebagai teman…teman…dan teman….”“okey…..berarti sekarang semuanya sudah jelas…dan aku juga merasa lega….dengan demikian…semua yang mengganggu pikiranku belakangan ini, terjawab sudah…” ucapku sambil tersenyum, dan kulihat diapun tersenyum sambil mengusap tetes air mata yang sempat mengalir ke pipinya yang memerah.“maafin aku ya gun…..” ucapnya sambil mengusap pipiku,“aku Kira gak ada yang perlu dimaafkan tattie..….seharusnya malah aku yang  minta maaf sama kamu, karena sudah menanyakan hal hal seperti ini sama kamu sehingga kamu jadi kesal, harusnya aku lebih percaya dengan perasaanku sendiri….” Tattie hanya mengangguk dua kali… “sekarang…boleh aku memeluk kamu sekali lagi….!?” Pintaku…

“tapi bukan pelukan mesra kan…..??”  ujarnya sambil memeluk aku dengan senyum khasnya yang masih tetap indah.

“ha…ha…ha…. “ aku merangkulnya dan berkata lagi “tattie….kalaupun suatu ketika kita harus berpisah karena kamu harus mengikuti suratan takdir yang akan membawamu pergi… jangan pernah melupakan aku dan persahabatan kita ya….”

“Insya Allah……”  jawabnya sembari mendekapku lebih erat lagi.

*****

Persahabatan aku dan tattie terus berlangsung dari hari ke hari, meski terkadang terdengar omongan omongan negatif dari teman teman maupun orang orang disekeliling kami mengenai aku dan tattie, tapi semua tidak menjadikan pertemanan kami terputus atau renggang sampai akhirnya kami menyelesaikan es em u dan tatti melanjutkan kuliah di institut keguruan dan ilmu pendidikan di kota gorontalo. Sejak tattie mulai dengan kesibukan kuliahnya, frekwensi pertemuan kami menjadi agak jarang, dalam seminggu kami hanya bisa nongkrong dan ngobrol bareng kalau malam minggu saja, itupun tidak sampai larut malam, kadang jam sembilan atau sepuluh tattie sudah pamitan pulang.  Dan aku….??  aku sendiri waktu itu mulai terusik oleh angan anganku untuk melanglang buana ke kota metropolitan jakarta, angan-angan yang sangat membuat aku berhayal untuk dapat pergi dan hidup diJakarta.

Hingga akhirnya suatu hari, salah seorang tetanggaku (yang bernama Dessy) yang sudah bertahun tahun bekerja dan tinggal dijakarta, pulang ke gorontalo bersama seorang temannya untuk menengok orang tuannya. Mereka berada digorontalo Selama kurang lebih dua minggu, dan ketika mereka akan kembali kejakarta, mereka sempat datang untuk pamitan kepada ayahku (kebetulan saat itu ayahku adalah seorang kepala desa di desa kami), pada saat itulah ayahku menceritakan kepada Dessy mengenai keinginanku yang menggebu-gebu untuk ke Jakarta dan meminta dessy untuk membawaku ke jakarta memenuhi angan anganku. Dan………………., berangkatlah aku ke Jakarta menggunakan Kapal laut melalui Surabaya, dari Surabaya kami menggunakan bus malam ke jakarta melalui Terminal pulo gadung, Dan Sejak itu pula….mulailah pergulatanku di kota metropolitan  jakarta, kota yang selama ini menjadi kota impianku.Waktu berangkat dari kampungku, karena keberangkatanku sangat mendadak, sehingga tidak banyak yang bisa aku bawa sebagai bekalku selama aku belum memiliki penghasilan dijakarta. Aku hanya memiliki tekad, keyakinan dan sepotong doa tulus dari kedua orang tuaku. Disamping itu, aku hanya mengandalkan bakat bakat seniku untuk berbaur dengan hiruk pikuk kota jakarta, berbaur dengan deru dan debu penatnya kota, serta peluh dan nafas ibukota, Aku hanya sekedar mencoba untuk menjinakkan kota metropolitan yang selalu menjadi impian hampir setiap anak desa. Terlalu naif bila aku mengatakan bahwa aku berusaha untuk menaklukkan kota metropolitan jakarta, bisa berbaur dan bersahabat dengannyapun sudah cukup memberikan denyut untuk menyambung kehidupan di jakarta.

O ya….Mengenai tattie….., keberangkatanku yang mendadak, membuat aku tidak sempat berpamitan kepada tattie dan bambang, karena saat itu tattie belum kembali dari kampusnya, sedangkan bambang sedang bepergian ke kota lain untuk suatu urusan.  kecuali tonny dan satu lagi teman baikku yang sempat mengantarku ke pelabuhan, yaitu efendi.  Setibanya dijakarta aku langsung menyurati kedua orang tuaku dan tattie,  Aku meminta maaf dan menjelaskan mengenai keberangkatanku yang sangat mendadak. Tattie memahami dan dia sangat senang mengetahui bahwa aku sudah berada diJakarta dan berhasil mewujudkan angan anganku yang pernah aku sampaikan kepadanya.Selama hampir setahun kami saling surat suratan, setiap kali aku berkirim surat kepada kedua orang Tuaku, pasti aku juga menyurati tattie.

Suatu ketika hubungan surat antara aku dan tattie terputus, aku tidak tau apa yang menyebabnya tattie gak pernah lagi membalas suratku. Empat suratku terarkhir tidak dibalasnya lagi. Aku sudah mencoba minta bantuan orang tuaku dan juga menyurati tonny maupun bambang untuk mengetahui penyebab kenapa tattie tidak pernah lagi membalas surat suratku dan bagaimana keadaannya, tapi hasilnya nihil. Aku teringat, pada dua suratnya yang terakhir, dia sering menyebut nyebut bahwa orang tuanya telah memperkenalkannya kepada seseorang putra dari sahabat ayahnya, dan orang tuanya ingin menjodohkannya dengan pria tersebut. Yah… Aku hanya bisa mendoakan, semoga tattie selalu diberikan kekuatan, kesehatan dan  apapun yang dia lakukannya, selalu dalam izin Tuhan Yang Maha Esa. Amin.


Continue to….    Chapter Two.

3 Tanggapan

  1. Wassalamu alaikum…. terima kasih anda telah berkunjung ke blog saya. dan salam kenal juga untuk seluruh pengunjung blog ini. blog anda juga bagus.

  2. bahagia yah,,punya persahabatan seindah itu..bikin orang2 jadi iri,,,saya suka sama sosok tattie,kalo ada cerita tattie2 yang lain,jangan lupa dibagi2 yah mas guntur,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: