Aku

Aku terlahir disebuah kota (untuk ukuran kampung) kecil, di sebelah barat kota manado. Sebuah desa yang bernama limboto yang juga menjadi ibukota kabupaten gorontalo (pada saat itu). Aku adalah putra kedua (bungsu) sehingga terkadang aku lebih sering mendapat perhatian lebih, dari orang orang disekitarku. Masa kecilku aku lewatkan dengan penuh gebahagian bersama kedua orang tuaku, dan kakakku.

Ayahku (almarhum) bernama Tahir Abdul Rahim, adalah seorang putra bugis-makassar, beliau adalah mantan seorang tentara (anggota abri), beliau pensiun dengan pangkat peltu (pembantu letnan satu). Sebelum beliau pensiun, beliau sempat dikaryakan dan memangku jabatan kepala desa yang bernama desa pentadio, sebuah desa agraris yang memiliki hasil bumi yang cukup baik. Di Dalam wilayah desa pentadio terdapat sebuah danau yang bernama danau limboto, sehingga mata pencaharian penduduk desa pentadio, disamping bercocok tanam juga ada yang berprofesi sebagai penangkap ikan.

Ayahku sempat memimpin desa pentadio untuk beberapa periode pemilihan, sampai beliau sendiri yang melepaskan jabatan kepala desa dan menyerahkan kepada sekertaris desa pada saat itu, karena faktor usia.

Ayahku meninggal dunia pada 24 Desember 1999, karena penyakit yang dideritanya. Beliau meninggal dunia saat dia akan melaksanakan shollat tarwih, karena kebetulan pada saat itu bertepatan bulan ramadhan/puasa.

Pada saat pemakaman, sebagian besar warga desa pentadio menghendaki, agar jenazah beliau dimakamkan di pemakaman umum yang berada di desa tersebut (dengan alasan karena beliau sangat berjasa untuk desa tersebut), sementara dari beberapa teman sejawatnya yang sama-sama berasal dari maskassar (ujung pandang) menghendaki agar jenazah beliau dimakamkan di pemakaman keluarga mereka. Tapi dari pihak militer berkeras bahwa beliau harus dimakamkan di taman makam pahlawan, karena sedikit banyak beliau juga pernah menoreh tinta perjuangan pada masa perang, mulai dari perang melawan permesta(G-30S PKI), hingga perang trikora di irian barat. Sehingga akhirnya diputuskan bahwa beliau harus dimakamkan di taman makam pahlawan, yang kebetulan lokasinya berada di desa pentadio.

Prosesi pemakaman berjalan lancar, iring-iringan para pelayat yang saat itu mengantar jenazah almarhum ke tempat peristirahatan terakhir yakni di taman makam pahlawan, hampir mencapai satu kilo meter, dan menggunakan semua badan jalan, dari yang menggunakan kenderaan bermotor, mobil, hingga yang berjalan kaki. Karena banyak para pelayat yang mengantar jenazah almarhum, hingga menggunakan semua badan jalan, hal ini sempat memacetkan lalu-lintas dari dua arah.

Ibuku (almarhumah) bernama Nursiah Aring, berasl dari minahasa (manado), pada masa mudanya  dulu, almarhumah bekerja sebagai perawat pada sebuah rumah sakit belanda di ujung pandang, sebelum bertemu dan akhirnya menikah dengan ayahku. Beliau adalah sosok seorang ibu yang penuh kasih sayang, tegas dan disiplin. Aku mengenal ibuku adalah sebagai sosok pekerja keras, dan tanpa pamrih. Pada tahun tujuh puluhan, ibuku pernah membuka sebuah rumah makan yang menyajikan makanan khas ujung pandang, yaitu coto makassar. rumah makan ibuku waktu itu hampir tidak pernah sepi, dari senin sampai minggu, dan dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Ibu sangat ahli dalam hal masak-memasak, khususnya mengolah menu ikan laut, kami sekeluarga sangat suka dengan masakannya. 

Kakakku satu satunya bernama Jimmy Tahir, seorang pegawai negeri yang saat ini bertugas di Ketapang Kalimantan Barat.  Kakaku adalah sosok seorang ayah yang baik, dan bijaksana. Dia juga seorang pekerja keras yang sangat ulet dan jujur, sehingga karirnya lumayan baik. Kakakku adalah type orang yang sangat idialis, dan dia selalu memegang teguh sesuatu yang menurutnya benar, sehingga tidak jarang dia harus dipindah tugaskan ke beberapa tempat karena oleh atasannya dianggap membahayakan karier mereka yang corrupt.

Ketika usiaku genap lima tahun aku dimasukkan dan bersekolah pada sekolah dasar (SD1) yang menjadi sekolah favorit pada saat itu.

Selama bersekolah di SD tersebut, aku memiliki banyak teman dari berbagai kalangan termasuk putra dari bupati gorontalo saat itu. Namanya toto, dia adalah temanku yang paling dekat dan akrab denganku. Hampir setiap hari sepulang sekolah kami selalu bermain bersama sampai sore hari. Aku sangat bangga dan senag berteman dengan dia.

Aku dan toto terus berteman sampai kami tamat sekolah dasar, dan kami harus berpisah karena aku harus ikut dengan orang tuaku yang dipindah tugaskan ke wilayah lain, namun masih di kabupaten yang sama.

Setelah lulus sekolah dasar, aku masuk pada sekolah kejuruan (STN) dan mengambil jurusan mesin. Kemudian melanjutkan ke sekolah kejuruan menengah atas namun setelah naik kekelas dua, aku dipindahkan ke sekolah menengah atas swasta bernama SMA 2 Mei.

Aku beberapa tahun lalu

Aku beberapa tahun lalu

 Setelah tamat sekolah menengah atas, aku meminta ijin dan restu dari kedua orang tuaku untuk mencoba melanglang buana ke kota impian setiap pemuda desa sepertiku, yaitu kota metropolitan jakarta. Kemudian berangkatlah aku kejakarta meninggalkan Desaku dan kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi…, meninggalkan semua yang aku kasihi…, meninggalkan semua kenangan…, hanya dengan bermodal keyakinan, bahwa Insya Allah aku akan kembali lagi kekampung halamanku membawa keberhasilan.

Satu Tanggapan

  1. Selamat dan Sukses selalu…
    Salam Sayang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: