Tabah…. (re-posting)

( Semoga fajar takkan ingkar janji )

Pekik jangkrik dan suara penghuni malam, seakan menjadi bisikan lirih dalam untai titik embun yang menetes merengkuh dinginnya malam. Bias nanar sang rembulan yang bertaut kabut dan bayang, tak cukup memberikan bias untuk sekedar menghitung hari hari yang telah terlewatkan. Sesekali guratan petir tersenyum dikaki langit, seakan memberi dorongan untuk asa yang makin karam didasar hati. Bahwa jalan masih terbentang….bahwa perjalanan belum akan berakhir, namun fajar tak  pernah ingkar untuk sirnakan pekat.

Gemeretak gigi yang tertuai oleh dingin di salah satu  sudut malam, seakan terdengar bagai rebana menyusun irama, yang terlantun dari riuh arena dzafin. Gemeretak kekhawatiran akan hari esok bagi hembus nafas bocah yang pulas beralas kain lusuh, satu-satunya harta milik mereka yang masih tersisa. Kekhawatiran yang erat melekat di wajah sepasang suami istri yang mematung disisi kecil yang terlelap. Dari bias sinar rembulan yang pasi. tubuh mungil dan kurus  itu tergolek berbaur debu, merah bibir mungil itu tetap merona walau berlapis kerak putih mengering, sisa setetes asi yang terteguk sebelum fajar menyurut dan pekat merambah sebagai alunan berirama bagi sikecil yang tidak mengerti akan apa yang terjadi, tak ada  sesendok bubur sebagai alas untuk makan malam. Namun waktu yang berulang seakan menyatu dengan sikecil untuk sekedar bercanda dengan perut kosong.

Tak ada lagi air mata yang menitik, tak ada lagi getar duka yang mengoyak pilunya hati. Semua seakan telah kering, semua seakan telah membeku.

 “Istriku, tidurlah… hari telah larut, biarlah aku saja yang akan terjaga hingga fajar nanti, agar aku dapat menghitung gelap yang ada di ruang malamku. hari ini kita telah kita lewati teriknya matahari dan saat ini dingin malam akan menemaniku menyongsong fajar. kita telah menyelesaikan sehari tugas kita, Sejenak lupakanlah lapar dan dahaga kita, semoga fajar pagi nanti dapat memberikan sepotong kekuatan untuk kita, melewati hari hari kita…”. suara lirih yang keluar dari bibir kering memutih itu seakan membasuh gelisah hati sang istri, untuk tetap yakin bahwa masih ada hari esok untuk mereka lalui meski hanya dengan gambaran potret hari kemarin, dan terus berulang hingga mentari tersurut di ufuk.

Sesungguhnya, ada getar nada yang terucap lirih jauh didasar hati sang suami, ,”… maafkan aku istriku…., maafkan aku anakku…, hingga hari ini, hari hari yang kuhitung…. belumlah genap untuk sekedar memberikan kalian sepiring nasi dan dua potong tahu.  Gelap malam yang aku candai,  belum cukup untuk sekedar memberi alas tidur yang layak untuk kalian.  Nampaknya asa yang telah kubentangkan hingga ke-ujung samudra, belum cukup kuat untuk kita sebrangi.  Sabarlah istriku…., sabarlah  anakku… semoga esok kita akan lebih ikhlas lagi mengayunkan dan  melangkahkan kaki kaki ini…”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: