Hitam Putih Pendidikan Kita

Mahalnya Pendidikan Berkualitas

Mahalnya Pendidikan Berkualitas

Saat ini para orang tua yang putra atau putrinya sudah cukup umur untuk memasuki tahapan pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, juga yang akan memasuki pendidikan lanjutan ke Sekolah Menengah Pertama, maupun Sekolah Lanjutan Atas, mulai sibuk untuk mendaftarkan putra dan putrinya ke sekolah yang di tuju. Serangkaian prosedur yang disyaratkan mulai diikuti, mulai dari melengkapi dokumen, mengikuti tes, hingga persyaratan biaya-biaya yang tetapkan oleh pihak sekolah.

Para siswa selesai unas

Para siswa selesai unas

Sebagai orang tua, tentunya menginginkan putra atau putrinya dapat di terima di sebuah sekolah unggulan, sehingga tidak sedikit para orang tua (khususnya yang memiliki tingkat ekonomi diatas rata-rata) bersedia mengeluarkan biaya berapapun agar sang putra/putri dapat bersekolah di sekolah unggulan tesebut. Entah karena menginginkan agar putranya mengenyam pendidikan yang lebih baik atau hanya sekedar gengsi. Demikian juga bagi mereka-mereka yang memiliki tingkat ekonomi kelas premium, tentunya tidak akan tanggung-tanggung untuk mencarikan sekolah bagi putra/putrinya, bila perlu dikirim untuk bersekolah di negeri ‘pa’de sam’.

Siswa kurang mampu

Siswa kurang mampu

Adakah tempat disekolah unggulan bagi yang berkantong pas-pasan..? apa yang harus mereka lakukan agan putra/putri mereka bisa berbaur dan diterima di sekolah unggulan…!?  melalui tes/seleksi ..??

Saat ini, dibeberapa sekolah yang katanya sebagai sekolah unggulan yang menjadi sasaran utama bagi mereka-meraka yang mengandalkan prestasi dan kemampuan, tes atau seleksi hanyalah sebagai pelengkap atau formalitas. Terbukti banyak para calon siswa yang akhirnya meneteskan air

para siswa selesai unas

para siswa selesai unas

mata, bahkan ada yang pinsan setelah mengetahui nomor tesnya tidak muncul dipapan pengumuman. Ironisnya, temannya yang dulu sekelas dengannya yang nota bene IQ-nya jauh dibawah dia, bahkan di bangku es em pe dulu hampir sering di setrap guru karena tidak pernah mengerjakan pe er, dan selalu mendapat ponten terbaiknya pada angka 3 atau 4 pada setiap ulangan, kok nomor tesnya terpampang di urutan sepuluh teratas.

prestasi bagi anak kurang mampu

prestasi bagi anak kurang mampu

Usut-punya usut, ternyata bagi mereka yang sudah menyerahkan lebih awal biaya yang disyaratkan oleh pihak sekolah (yang sesungguhnya cukup besar untuk ukuran mereka-meraka yang hanya berprofesi sebagai karyawan/buruh rendahan) , plus biaya dan lain-lainya, tes hanyalah formalitas.  Kalau sudah begini, akan kemana mereka-mereka yang berprestasi?? Sekolah lain…? Ya… masih banyak pilihan sekolah es em u negeri lainnya. Tapi bagaimana bila sekolah lain itupun ternyata menerapkan gaya yang sama..?, Sekolah swasta..? bukan rahasia umum kalau kebanyakan sekolah-sekolah swasta identik dengan biaya biaya ini dan itu, dan setiap bulan pasti ada saja biaya yang harus dikeluarkan.   Kemudian kemana anak-anak berprestasi yang orang tuanya kurang mampu….? Mereka akan kita temui di sekolah sekolah yang hampir-hampir penduduk disekitarnya pun tidak mengetahui keberadaan sekolah itu dilingkungan mereka.

Adakah sekolah yang layak bagi mereka?

Adakah sekolah yang layak bagi mereka?

Apakah pendidikan yang baik itu hanya milik mereka-mereka yag berkantong tebal…? Akan kemana kita membawa prestasi anak-anak bangsa dari keluarga kurang mampu..?  Siapa yang harus kita salahkan..?? Pemerintahkah…? kebijakan pemerintah sudah cukup jelas mengatur mengenai pendidikan di tanah air ini, tapi apakah gemanya  sampai ke sekolah sekolah tadi??? Maybe yes..!! maybe no..!!

Yang jelas, beberapa kepala sekolah yang saya kenal, termasuk tetangga saya yang juga seorang kepala sekolah di salah satu sekolah menengah pertama di wilayah bekasi, biasanya akan mengganti mobil bila musim penerimaan murid baru usai. Ha…ha…ha… hebat…!!!

3 Tanggapan

  1. yah.. inilah fenomena pendidikan di negeri ini…. kenapa harus uang yang menjadi ukuran….. ?

  2. semoga pemimpin yg baru saja menang
    bisa berbuat sesuatu untuk pendiidikan kita ini

  3. Pertama, kita berhak menuntut pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai di seluruh Indonesia, termasuk di pelosok-pelosok.

    Kedua, kita dapat menuntut para lulusan FKIP yang tidak bersedia menyalurkan ilmunya di dunia pendidikan (termasuk saya), dan mereka-mereka yang menolak untuk ditempatkan di daerah terpencil.

    Kedua, kita berhak menuntut para koruptor. Karena mereka telah mengajarkan korupsi kepada anak dan cucu mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: