Jalan Setapak

Jalan Setapak

(Sebuah derap pergulatan kehidupan untuk mengais masa depan)

Denting dawai malam mulai merambahi dingin mengiringi pekik jangkrik mengoyak hening malam. Tetes air di dedaunan seolah ikut menari mengikuti alunan dawai, menantang kesombongan angin yang berhembus sepoi menyebar dingin mengantar gerimis yang turun sejak sore.

Jauh diatas sana, sang rembulan bersembunyi dibalik awan seakan malu menampakkan sinarnya. Hanyalah cakrawala dikaki langit sana yang terus menyapu wajah bumi dengan biasnya yang pasi.

Sepasang kaki kaki hitam kasar menyeruak dari balik semak, dan terus melangkah menyusuri jalan berbecek. Kaki kaki penuh luka gores yang gontai melangkah tanpa alas itu seolah tak merasakan duri yang berjejer disisi jalan setapak. Langkah itu terkadang melemah hingga jatuh lunglai menghempas keruh genagan air diceruk bebatuan jalan,  namun dia terus bangkit dan melangkah lagi.

Sejenak lelaki itu berhenti dipersimpangan, dia menatap lesu kearah kiri, kemudian memalingkan wajahnya kekanan sejenak, lalu dia menatap lurus kedepan, yang akhirnya wajah kasar bermandi peluh itu tertunduk. Tak kan lama kembali di menatap kedepan dengan tatapan kosong, dan langkah gontai itu kembali terayun. Dibalik bias cahaya rembulan nampak mata cekung yang menatap kosong seolah berkata “apalah arti belok kanan atau kiri, toh pagi yang ditunggu untuk membawakan cerah mentari, hanyalah sebuah mimpi”, yang dia tau adalah bahwa dia harus terus berjalan melintasi malam, untuk sampai ke tepi bumi.

Hari ini…, derap langkah itu kembali menguak semak berduri, dan terus berjalan melintasi jalan setapak berbecek itu, tidak ada yang berubah, hari berganti hari, bulan berganti bulan. entah sampai kapan.

Jauh di dasar hatinya yang paling dalam, masih ada segumpal harapan, bahwa dengan sebuah perjuangan tanpa henti dan tak kenal menyerah, mendung yang merundung suatu ketika pasti akan terkuak dan cahaya mentari itu pasti akan datang.

« »

4 Tanggapan

  1. wah kata2x dalam bgt maknax…
    salam kenal ^^
    kunjungan balik sangat diharapkan

  2. nice post mas..
    tulisan sampean menggambarkan diri ini yang selalu dirundung kegelapan dan hanya bisa bermimpi mengharap sang sinar surya datang menerangi…

    tengkiyu..

    salam kenal

  3. Pak.. saya speechless.
    rangkaiannya indah sekali!

  4. bukankah pagi itu akan tetap datang, dan malam akan segera berlalu. berbenahla, karena hari esok adalah hari yang baru..
    ah, tidak! aku tak mau mengulai hari kemarin dengan pilu dibahu, karena aku hidup untuk bergulir
    nice post..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: