Seri Lima (end of chapter satu)

Seri lima

SEPENGGAL  KISAH  YANG  TERTINGGAL

Chapter satu. – Seri Lima

Aku merasa bahwa berbeda dengan ketika aku melototi tubuh tattie, meski dia dalam keadaan tanpa busana, tidak ada sensasi dan gemetar seperti pengalamanku disungai tadi.

“sebetulnya jawaban yang kamu inginkan dariku adalah bahwa aku mencintaimu dan rindu kepadamu atau gimana…..?” ujarnya dengan suara datar.

“Lho…. Kamu gak ngerti ya…..” kataku meyakinkan.

“iya…iya…tau…….” Katanya, lalu… “kalo aku ngomong yang sebenarnya yang ada dihatiku……kamu marah gak….!??”

“lho… kenapa aku harus marah…..?” jawabku, “justru aku ingin kamu ngomong yang sejujurnya apa yang ada dihati kamu, ini penting…untuk kelanjutan persahabatan kita lho tat….”

“okay deh..…. selama ini kenapa aku gak pernah merasa malu malu sama kamu, karena…terhadapmu aku merasa bahwa kamu itu adalah sahabatku, aku gak tau gimana cara ngomonginnya… tapi……. aku merasa bahwa kamu itu sama dengan teman teman wanitaku yang lain…sehingga sedikitpun aku gak ada rasa malu…canggung…atau perasaan perasaan lain….sungguhpun ketika aku mandi bersama kamu dalam satu kamar mandi yang sama dan dalam keadaan sama sama telanjang…..aku gak merasa malu dan canggung ketika kamu memandang kearahku pada saat aku sedang tidak berbusana sekalipun, aku gak punya perasaan apa apa ketika aku tidur disampingmu bahkan memelukmu sekalipun….. karena hal yang sama juga terjadi ketika aku sedang nginap di rumah yeni…dina…atau rosye… aku gak tau deh… tapi terhadapmu aku merasakan sama seperti ketika aku bersama temen temen wanita yang juga akrab denganku…. ” dia menatapku dalam dalam…lalu berkata lagi “gun…..” terdengar suaranya sangat berat dan tertahan..” maafin aku ya…kalau ternyata apa yang aku katakan ini, bukanlah jawaban yang kamu inginkan….” Ucapnya lirih, “aku mohon kamu jangan membenci aku …..hanya karna….” aku langsung menarik dan memeluknya erat……erat  sekali….dan ini bukanlah pelukan sebagai seorang pria yang sedang jatuh cinta terhadap wanita tersebut, tapi pelukan itu adalah pelukan seorang teman terhadap sahabatnya.

“Sssstt…..tatie……” aku berusaha menenangkannya “..tattie dengar…..kalaupun aku menanyakan semua ini, bukan karena aku menginginkan jawabanmu adalah bahwa kamu mencintai aku…..kan tadi udah aku bilang bahwa aku juga sama sekali tidak ada perasaan cinta terhadapmu…..e….maksudku aku sayang sama kamu, tapi hanya sebagai teman dan bukan sebagai seseorang yang mengharapkan balasan cinta….bukan..” aku melihat ada perasaan lega dihatinya “aku juga menganggap kamu bukan sebagai seorang perempuan yang ingin kucintai sebagai mana perempuan lain, tapi sama seperti temen temen kita yang lain…toni atau bambang..” dia mengangkat kepalanya dan akupun melepaskan pelukanku. “tattie….justru jawaban ini yang Sangat aku harapkan, tadi aku malah takut….aku takut kalau selama ini ternyata kamu telah jatuh cinta terhadapku……aku gak ingin persahabatan kita ini terburai hanya karena sebuah perasaan cinta…”

“gun…aku pernah bilang sama kamu…. Bahwa dulu aku memang sangat  mengagumi kamu…, dulu aku sangat ingin merebut hatimu….., dulu aku sangat ingin menjadi orang yang dekat dihatimu….” Ucapnya perlahan.. “tapi setelah kita berteman…rasa itu tiba tiba hilang dan cukup lama aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku suka sama kamu hanya  sebagai teman…teman…dan teman….”

“okey…..berarti sekarang semuanya sudah jelas…dan aku juga merasa lega….dan dengan demikian…semua yang mengganggu pikiranku belakangan ini, terjawab sudah…” ucapku sambil tersenyum, dan kulihat diapun tersenyum sambil mengusap tetes air mata yang sempat mengalir dari matanya.

“maafin aku ya gun…..”

“aku Kira gak ada yang perlu dimaafkan tattie..….seharusnya malah aku yang  minta maaf sama kamu, karena sudah menanyakan hal hal seperti ini sama kamu sehingga kamu jadi kesal, seharusnya aku lebih percaya dengan perasaanku sendiri….” Tattie hanya mengangguk dua kali… “sekarang…boleh aku memeluk kamu sekali lagi….!?” Pintaku…

“tapi bukan pelukan mesra kan…..??”  ujarnya sambil memeluk aku dengan senyum khasnya yang begitu indah.

“ha…ha…ha…. “ aku merangkulnya dan berkata lagi “tattie….kalaupun suatu ketika kita harus berpisah karena kamu harus mengikuti suratan takdir yang akan membawamu pergi… jangan pernah melupakan aku dan persahabatan kita ya….”

“Insya Allah……”  jawabnya sembari mendekapku erat-erat.

Persahabatan aku dan tattie terus berlangsung dari hari ke hari, meski terkadang terdengar omongan omongan negatif dari teman teman maupun orang orang disekeliling kami mengenai aku dan tattie, tapi semua tidak menjadikan pertemanan kami terputus atau renggang. Sampai akhirnya kami menyelesaikan es em u dan tatti melanjutkan kuliah di institut keguruan dan ilmu pendidikan di kota gorontalo, dan sejak tattie mulai dengan kesibukan kuliahnya, frekwensi pertemuan kami menjadi agak jarang, dalam seminggu kami hanya bisa nongkrong dan ngobrol bareng kalau malam minggu saja, itupun tidak sampai larut malam, kadang jam sembilan atau sepuluh tattie sudah pamitan pulang.  Dan aku sendiri waktu itu mulai terusik oleh angan anganku untuk melanglang buana ke kota metropolitan jakarta, angan-angan ini sangat membuat aku berhayal untuk dapat pergi keJakarta.

Hingga akhirnya suatu hari, salah seorang tetanggaku (yang bernama Dessy) yang sudah bertahun tahun bekerja dan tinggal dijakarta, pulang ke gorontalo bersama seorang temannya untuk menengok orang tuannya. Mereka berada digorontalo Selama kurang lebih dua minggu, dan ketika mereka akan kembali kejakarta, mereka sempat datang untuk pamitan kepada ayahku (karena kebetulan saat itu ayahku adalah kepala desa di desa kami), pada saat itulah ayahku menceritakan kepada Dessy mengenai keinginanku yang menggebu-gebu untuk ke Jakarta dan meminta dessy untuk membawaku ke jakarta memenuhi angan anganku. Singkat kata singkat cerita, berangkatlah aku ke Jakarta menggunakan Kapal laut melalui Surabaya, dan dari Surabaya kami menggunakan bus malam ‘jawa indah’ ke jakarta melalui Terminal pulo gadung. Dan Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota jakarta, aku memohon lepada Yang Kuasa semoga selalu diberikan jalan dan petunjuk. Dan Sejak itu pula, mulailah pergulatanku di kota metro jakarta, kota yang selama ini menjadi kota impianku.

Waktu berangkat dari kampungku, karena keberangkatanku sangat mendadak, sehingga tidak banyak yang bisa aku bawa sebagai bekalku selama aku belum memiliki penghasilan dijakarta. Aku hanya memiliki tekad, keyakinan dan sepotong doa tulus dari kedua orang tuaku. Disamping itu, aku hanya mengandalkan bakat bakat seniku untuk merbaur dengan hiruk pikuk kota jakarta, berbaur dengan deru dan debu serta peluh dan nafas kota, hanya sekedar mencoba untuk menjinakkan kota metro yang selalu menjadi impian anak desa. Terlalu naif bila aku mengatakan bahwa aku berusaha untuk menaklukkan kota metro jakarta, bisa berbaur dan bersahabat dengannyapun sudah cukup memberikan denyut untuk menyambung kehidupan di jakarta.

O ya….Mengenai tattie, karena waktu itu keberangkatanku ke jakarta sangatlah mendadak, sehingga aku tidak sempat berpamitan lepada tattie dan bambang, karena saat itu tattie belum kembali dari kampusnya, sedangkan bambang sedang bepergian ke kota lain untuk suatu urusan.  kecuali tonny dan satu lagi temanku yang sempat mengantarku ke pelabuhan, yaitu endi.

Setibanya dijakarta aku langsung menyurati kedua orang tuaku dan tattie, temanku yang sangat dekat denganku. Aku meminta maaf dan menjelaskan mengenai keberangkatanku yang sangat mendadak. Tattie memahami dan dia sangat senang mengetahui bahwa aku sudah berada diJakarta dan berhasil mewujudkan angan anganku untuk datang ke kota jakarta.

Selama hampir setahun kami saling surat suratan, sehingga setiap kali aku berkirim surat kepada kedua orang Tuaku, pasti aku juga menyurati tattie. Suatu ketika hubungan surat antara aku dan tattie terputus, aku tidak tau apa yang menyebabnya tattie gak pernah lagi membalas suratku. Empat suratku terarkhir tidak dibalasnya lagi. Aku sudah mencoba minta bantuan orang tuaku dan juga menyurati tonny maupun bambang untuk mengetahui penyebab kenapa tattie gak pernah lagi membalas surat suratku dan dimana keberadaannya, tapi hasilnya nihil. Aku ingat, pada dua suratnya yang terakhir, dia sering menyebut nyebut bahwa orang tuanya telah memperkenalkannya kepada seseorang putra dari sahabat ayahnya, dan orang tuanya ingin menikahkannya dengan pria tersebut. Lalu setelah itu tidak ada lagi jawaban dari tattie. Aku hanya bisa mendoakan, semoga tattie selalu diberikan kekuatan, dan  apapun yang dia lakukan, selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

SEPENGGAL KISAH YANG TERTINGGAL

(Based on true story)

Continue to….    Chapter dua.

Satu Tanggapan

  1. Sedang mengingat romansa masa lalu ya pak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: