Seri Empat

SEPENGGAL KISAH YANG TERTINGGAL

Chapter satu.

“ Aku juga kalo sama tonny atau bambang kan gak gitu gitu Amat sih…., kecuali sama kamu…” selanya…” gak tau deh…, kadang kadang aku suka gak suka sama gayanya bambang, apalagi tonny….. jadi terkadang suka kesel aja kalau mereka suka nyepelein aku, hanya karena aku ini ceweq sendiri ….aku tau kalo selama ini kadang-kadang mereka suka gak seneng kalo aku ikut nimbrung ketika kalian lagi kumpul kumpul, seakan kehadiranku merusak suasana ” Sambungnya…., sambil menunduk lalu menoleh kearah lain.

“ Ah..! mungkin itu hanya perasaanmu aja…udah gak usah menjadi beban pikiranmu. Gini tat…, kadang kadang kita kalo lagi nyanyi nyanyi dikamarku, kita berdua sama sama tidur tiduran di tempat tidurku…, terus kalo boncengan motor kamu juga suka ngerangkul…. Kadang kalo kita mo pergi kamu gak sabaran sampe nungguin aku mandi dan bediri didepan pintu kamar mandi….padahal aku mandinya kan telanjang….”

“ O gitu…. Kamu gak suka ya…….risih…..sorry deh kalo gitu…., mungkin aku ini orang yang gak tau diri dan gak tau malu……!!? ” potongnya dengan wajah yang terlihat kesal lalu dia berdiri dan membelakangiku…

“ lho…bukan begitu……intinya bukan itu…denger dulu dooong.” Potongku buru buru sambil menarik bahunya berusa menariknya untuk duduk lagi.

“ memangnya kamu selama ini gimana…? Kalo giliran aku yang membonceng kamu dimotor, kamu juga suka meluk aku dari belakang, kamu juga pernah melotot sewaktu melihat aku ganti baju saat kita habis berenang dipantai waktu selesai kelas miting dulu….. tapi aku gak pernah komplein.

“Tattie…. justru hal itu yang ingin aku bahas dengan kamu…, semua kejadian kejadian yang barusan kita omongin tadi yang belakangan ini sering merasuki pikiranku, padahal sebelumnya gak begini…”

Aku menatap wajah tattie yang nampak menjadi seperti orang kebingungan.

“Tat…,kamu pernah merasa ada cinta, kasih, dan sayang gak sama aku…!?”   wajah tattie yang sudah seperti orang kebingungan, tambah gak karu karuan mendengar pertanyaanku tadi… “karena terus terang…mm…terus terang…sorry ya tat…, terus terang aku selama ini tidak ada perasaan apa apa terhadap kamu. Aku hanya merasa bahwa kamu tidak ada bedanya dengan bambang ataupun tonny…, makanya selama ini aku gak sungkan sungkan merangkul…memeluk bahkan tidur disampingmu. Sehingga aku tidak punya gejolak atau perasaan apa apa ketika melihat kamu dalam keadaan bugil, kecuali mengagumi bule-nya kulit tubuhmu…, itu aja…!”

“Emang kamu pernah lihat aku bugil….!?” Potongnya tiba tiba.

“lho..o..oh…, ingat gak waktu kita membantu menghias rumah yeni pada malam pernikahan kakanya…, waktu kamu mandi dikamar mandi yang ada dikamarnya yeni, kan handuknya ketinggalan ditempat tidur, lalu kamu teriak teriak memanggil manggil yeni untuk ambilkan handuk, tapi karna yeni nya sedang berada diruang depan, sehingga kamu kan akhirnya meminta aku untuk mengambilkan handuknya kan…!? Makanya aku bisa melihat tubuhmu karena karena kamu sambil menanyakan keberadaan yeni ketika aku menyodorkan handuk, wong kamu sendiri aku lihat biasa biasa aja dan gak berusaha untuk menyembunyikan bagian depan tubuhmu…, yah…bebalik keq atau gimana gitu……”

“o…kamu sengaja melototin tubuhku ya…..” potongnya

“sebetulnya sih engga….., bukannya aku sengaja untuk melihat kamu lagi tanpa busana…., emm… hanya secara spontan aja…… tadinya aku gak nyangka kamu sedang dalam keadaan telanjang, begitu ngeliat….ala mak….putihnya…..itu aja….aku tidak sampai menegasin bahwa o….bentuknya begini…atau begitu…..he…he…he…” ujarku sambil tertawa kecil namun menggebu gebu. tapi sambil mencoba mengingat ingat bahwa memang pada saat itu aku sama sekali tidak merasakan apa apa. Padahal sebagai seorang remaja yang normal harusnya ada perasaan deg deg-an ketika melihat pemandangan seperti itu. Dulu Aku pernah memergoki teman teman cewek yang sedang mandi disungai, sewaktu kami mengikuti perkemahan pada saat sekolahku mengikuti pelatihan dan pelantikan pandu pramuka yang akan mewakili sekolahku ke Jambore Pramuka sePropinsi. Waktu itu karena harus menyampaikan sesuatu kepada Kakak Pembina kami, aku terpaksa harus ke-area perkemahan pandu putri yang jaraknya terpisah cukup jauh dengan perkemahan pandu putra, karena kakak Pembina kami sedang berada disana. Jalan menuju Lokasi Perkemahan Pandu Putri lumayan jauh karena harus mengitari bukit yang berada di sebelah utara Perkemahan pandu putra.  Untuk memperpendek jarak dan menyingkat waktu aku mengambil jalan potong yang pernah aku ketahui dari kakak pembinaku, yaitu melalui lereng bukit sebelah selatan perkemahan pandu putra, kemudian turun ke area kepemukiman penduduk lalu menelusuri tepi sungai yang cukup lebar sampai melewati kolong jembatan yang menghubungkan jalan antara perkemahan pandu putra dan putri, yang tiang tiangnya cukup tinggi dan panjang, setelah sekitar lima puluh meter dari jembatan barulah menyebrangi sungai karena disana banyak batu besar yang bisa menjadi pijakan penghubung kedua sisi sungai tersebut, lalu naik dan munculnya persis di samping gerbang sebelah selatan atau pintu empat area perkemahan pandu putri. Setelah aku melewati kolong jembatan, lalu aku menyebrangi sungai dengan jalan melompat lompat dari batu kebatu. Namun ketika aku akan melalui batu yang sebesar buskota, secara tidak sengaja aku melihat empat orang wanita (yang kebetulan dua orang diantara mereka, berasal dari sekolahku), sedang mandi dibalik batu yang besar itu. Mereka berempat yang semuanya bertelanjang ,sambil bercanda canda tanpa menyadari kehadiranku yang hanya berjarak empat sampai lima meter dari mereka dan hanya terhalang oleh sampah akar akaran serta ranting dan batang batang pohon hanyut yang tersangkut diantara bebatuan. Dari tempatku berdiri sangat jelas pandanganku kearah mereka, aku melihat yang seorang berada agak ketengah persis disamping dinding batu yang besar dan airnya agak dalam sehingga air merendam tubuhnya sampai ke batas dadanya (dibawah payudara) sehingga payudaranya sangat jelas terlihat, yang seorang lagi duduk dibatu agak kepinggir sambil mencuci bajunya, dan yang dua orang lagi sedang asyik bercanda saling mengguyur dan tertawa tawa, ditempat mereka berdiri agak kepinggir sehingga airnya hanya sebatas paha. Melihat pemandangan seperti ini, dadaku langsung berdebar keras sekali sampai sampai lutut dan tanganku gemetar, terasa seakan akan batu tempat aku berdiri seakan bergoyang goyang. Tidak lama aku berada disana, hanya sekitar lebih kurang lima menit, dan aku langsung balik lagi untuk memutar kemudian naik dari sisi agak ketimur yang berjarak lebih kurang sepuluh sampai lima belas meter dari tempat itu, karena tidak banyak batu batu yang bisa kujadikan tempat untuk berpijak, mau gak mau aku harus turun ke air yang ternyata agak dalam dan arusnya cukup kuat, membuat seluruh celana dan kemeja bagian bawahku basah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: